-
Film Empat Musim Pertiwi angkat realitas penyintas kekerasan seksual Indonesia.
-
Penggarapan film Empat Musim Pertiwi membutuhkan waktu riset delapan tahun.
-
Cerita film Empat Musim Pertiwi mengedukasi pentingnya rasa percaya masyarakat.
SuaraJogja.id - Film Empat Musim Pertiwi karya sutradara Kamila Andini mengangkat realitas para penyintas kekerasan seksual yang digabungkan dengan cerita fiksi sehingga apa yang mereka alami dapat tersampaikan secara apik kepada penonton.
Penggarapan film ini cukup panjang, dimulai sejak 2017 dan baru hadir di bioskop setelah melalui perjalanan pengembangan selama delapan tahun.
Produser Ifa Isfansyah mengungkapkan, gagasan awal film lahir ketika Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (RUU TPKS) masih dalam tahap pembahasan.
Hal tersebut disampaikan Ifa dalam acara screening Empat Musim Pertiwi di XXI Empire Yogyakarta, Selasa (13/10/2026).
Baca Juga:Dugaan Kekerasan Seksual di Ponpes Ash-Sholihah, Kanwil Kemenag DIY Layangkan Surat Peringatan
Menurut Ifa, pengembangan cerita berlangsung secara bertahap mengikuti perkembangan situasi sosial dan hukum terkait isu kekerasan seksual di Indonesia.

Meski kini regulasi telah disahkan, ia menilai upaya pendampingan terhadap korban dan ruang pembicaraan mengenai persoalan tersebut masih perlu terus diperkuat.
“Ceritanya berkembang terus sampai sekarang disahkan pun sebenarnya kita masih terus harus mendampingi. Itu yang kami rasa memang harus mulai ada film-film yang berani membicarakan isu itu,” katanya.
Sebagai produser, Ifa mengaku konsisten mendukung karya-karya yang mengangkat isu sosial. Baginya, Empat Musim Pertiwi tidak hanya ditujukan sebagai tontonan, tetapi juga medium untuk membuka diskusi publik mengenai kekerasan seksual dan pengalaman para penyintas.
Lamanya proses produksi, menurutnya, tidak terlepas dari kebutuhan riset yang mendalam terhadap tema yang sensitif, sekaligus persiapan pembiayaan dan produksi dalam skala besar.
Baca Juga:Ponpes Ash-Sholihah Buka Suara Terkait Kasus Dugaan Kekerasan Seksual Pengurusnya
Proses pengerjaan secara intensif berlangsung pada 2022 hingga 2023, termasuk penyempurnaan naskah serta persiapan teknis sebelum pengambilan gambar dilakukan.
"Secara riset memang membutuhkan waktu lama. Tema yang diangkat cukup sensitif, dan dari sisi sutradara juga perlu menggali lebih dalam secara subjeknya," tuturnya.
"Dari sisi produser, film dengan skala produksi dan skill seperti ini membutuhkan kesiapan pembiayaan yang matang, mengingat ini bukan sekadar film hiburan komersial," sambungnya lagi.

Dalam menyampaikan isu kekerasan seksual, Kamila dan tim kreatif memilih pendekatan yang memadukan gaya realis, fiksi, dan metafora visual.
Pendekatan itu digunakan untuk menggambarkan pengalaman emosional para karakter yang tidak selalu dapat dijelaskan secara langsung melalui realitas.
Ifa menjelaskan, bahasa audiovisual memungkinkan film menyampaikan perasaan, trauma, serta kompleksitas karakter melalui simbol dan pendekatan artistik.