-
Film Empat Musim Pertiwi angkat realitas penyintas kekerasan seksual Indonesia.
-
Penggarapan film Empat Musim Pertiwi membutuhkan waktu riset delapan tahun.
-
Cerita film Empat Musim Pertiwi mengedukasi pentingnya rasa percaya masyarakat.
Karena itu, realitas yang dialami korban tidak hanya ditampilkan melalui peristiwa yang terjadi, tetapi juga melalui suasana dan simbol-simbol yang menyertainya.
“Dua sisi yang rasanya itu memang paling pas digambarkan dengan sesuatu yang realis, kemudian kita tarik ke fiksi, terus kemudian realis kita tarik ke metafor,” ujar Ifa.
Pesan lain yang ingin disampaikan film ini adalah pentingnya mempercayai korban.
Menurut Ifa, langkah pertama yang harus dilakukan ketika berhadapan dengan sebuah kasus adalah memberikan kepercayaan terhadap pengalaman yang disampaikan korban, sebelum proses hukum berjalan lebih jauh.
Baca Juga:Dugaan Kekerasan Seksual di Ponpes Ash-Sholihah, Kanwil Kemenag DIY Layangkan Surat Peringatan
“Yang paling penting adalah ya kita harus percaya dulu. Selebihnya ya kita bisa mengikuti prosesnya, tapi percayaannya juga penting,” katanya.
Pesan tersebut beriringan dengan perjalanan Pertiwi, tokoh utama yang diperankan Putri Marino. Setelah menjalani hukuman penjara selama 20 tahun, Pertiwi kembali ke kampung halamannya untuk memulai hidup baru.
Namun, kepulangannya justru membawanya kembali berhadapan dengan luka masa lalu.
Ia tidak diterima sepenuhnya oleh lingkungan terdekatnya. Orang tuanya menolak kepulangannya, sementara sahabatnya, Niken (Hana Malasan), telah menikah dengan mantan kekasihnya, Bisma (Arya Saloka).
Dalam perjalanan itu, Pertiwi bertemu seorang gadis tuli yang mengingatkannya pada pengalaman masa lalu dan mendorongnya untuk memutus mata rantai kekerasan yang pernah menghancurkan hidupnya.
Baca Juga:Ponpes Ash-Sholihah Buka Suara Terkait Kasus Dugaan Kekerasan Seksual Pengurusnya
Film ini juga mendapat apresiasi dari aktor Lukman Sardi yang menilai Empat Musim Pertiwi berhasil mengangkat persoalan penting mengenai posisi rentan korban kekerasan seksual ketika berhadapan dengan kekuasaan dan ketimpangan hukum.
Menurut Lukman, film tersebut menunjukkan bagaimana hukum kerap terlihat tidak berdaya saat berhadapan dengan pihak yang memiliki kekuatan ekonomi maupun pengaruh besar.
Situasi itu membuat korban harus menghadapi berbagai hambatan untuk memperoleh keadilan.
"Film ini bicara situasi perempuan yang mengalami kekerasan seksual di negara ini. Bagaimana secara hukum mereka seperti tidak punya kekuatan sama sekali karena situasi di mana siapa yang punya uang, siapa yang punya kuasa, dia bisa mengatur segalanya. Ujung-ujungnya hukum itu nggak berlaku," tandasnya.
Bagi Lukman, film ini termasuk penting karena berhasil membawa isu sensitif menggunakan pendekatan sinematik sehingga mampu menghadirkan pengalaman emosional korban secara kuat.
Empat Musim Pertiwi dinilai menjadi salah satu film yang tidak hanya menyajikan cerita, tetapi juga mengajak publik memahami realitas penyintas melalui perpaduan antara fakta sosial, fiksi, dan metafora visual.