- Ketua Pinsar Indonesia Singgih Januratmoko menyatakan konsumsi daging ayam dan telur nasional masih terendah di ASEAN.
- Singgih meminta pemerintah menyelesaikan masalah harga jagung agar biaya produksi peternak dan harga jual turun.
- Kemenkop membidik Koperasi Desa Merah Putih menjadi jalur distribusi untuk memperluas pemasaran hasil peternakan rakyat.
SuaraJogja.id - Konsumsi daging ayam dan telur masyarakat Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan sejumlah negara tetangga di kawasan ASEAN. Di sisi lain, peternak unggas masih menghadapi tingginya biaya produksi yang salah satunya dipengaruhi harga jagung sebagai bahan baku pakan.
Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia, Singgih Januratmoko, menyebut konsumsi daging ayam masyarakat Indonesia baru berkisar 14–15 kilogram per kapita per tahun. Sementara itu, konsumsi telur mencapai sekitar 23 kilogram per kapita per tahun.
"Kita ini paling rendah konsumsi ayam dan telur dari negara tetangga," kata Singgih di sela-sela kegiatan Chicken and Egg Run 2026 di Yogyakarta, Minggu (18/10/2026).
Menurutnya, konsumsi daging ayam di sejumlah negara tetangga dapat mencapai 25–35 kilogram per kapita per tahun. Padahal, ayam dan telur merupakan sumber protein hewani yang relatif terjangkau dan penting untuk mendukung pemenuhan gizi masyarakat, terutama anak-anak.
Baca Juga:Inklusi Keuangan DIY Capai 98,74 Persen, OJK Waspadai Gap Literasi Masyarakat
Singgih menilai rendahnya konsumsi protein hewani di Indonesia menjadi tantangan bagi industri perunggasan nasional. Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian agar masyarakat semakin mudah mengakses sumber protein yang berkualitas.
"Ayam dan telur adalah protein yang termurah yang ada sekarang di Indonesia dan sangat dibutuhkan oleh masyarakat, terutama untuk anak-anak generasi kita ke depan supaya mereka mempunyai kualitas yang baik," ujarnya.
Di sisi lain, peningkatan konsumsi ayam dan telur juga perlu dibarengi upaya menekan biaya produksi. Sebab, tingginya harga pokok produksi (HPP) masih menjadi salah satu persoalan yang dihadapi peternak.
Singgih menjelaskan, harga jagung sebagai bahan baku utama pakan unggas turut memengaruhi biaya operasional peternakan. Jika biaya produksi dapat ditekan, harga jual ayam dan telur diharapkan menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat.
"Harapan kita pemerintah bisa segera menyelesaikan masalah di bidang jagung ini sehingga nanti harapan kita dengan HPP yang murah maka harga ayam dan telur juga akan murah dan bisa dijangkau lebih banyak masyarakat," katanya.
Baca Juga:66 Daerah Belum Punya RS Tipe C, Pasien Kanker Berisiko Harus Berobat Jauh
Ia berharap pemerintah mengambil langkah konkret untuk memperbaiki persoalan pasokan dan harga jagung. Upaya tersebut dinilai penting agar peternak dapat menjalankan usaha secara berkelanjutan sekaligus menjaga keterjangkauan harga produk di tingkat konsumen.
Dengan biaya produksi yang lebih rendah, peternak diharapkan memiliki ruang usaha yang lebih baik tanpa harus terus terbebani tingginya ongkos produksi.
Sementara itu, Kementerian Koperasi (Kemenkop) membidik Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sebagai salah satu jalur distribusi untuk memperluas pemasaran hasil peternakan rakyat.
Staf Ahli Menteri Koperasi Bidang Kebijakan Publik, Koko Haryono, mengatakan koperasi desa diharapkan dapat menjadi bagian dari ekosistem usaha peternakan, mulai dari penguatan kelembagaan hingga pemasaran produk.
Menurutnya, Pinsar Indonesia dapat memperkuat organisasi dan jaringan usaha peternak melalui koperasi. Pemerintah juga mendorong perbaikan tata kelola serta perluasan akses pembiayaan bagi pelaku usaha.
"Pinsar ini bisa menguatkan organisasinya melalui kopdes karena koperasi akan menjadi ekosistem di mana akan membantu dari hulu sampai hilir, sekaligus kita akan mendukung tata kelolanya dan mendorong akses pembiayaannya," ujar Koko.