- Firdhailsa Cintora, seorang ibu tunggal di Salatiga, gigih berjuang menjadi pedagang makanan sejak tahun 2024.
- Ia memanfaatkan aplikasi BSya dari BCA Syariah untuk mengelola transaksi keuangan usaha dan menabung tanpa potongan admin.
- Keberhasilan usahanya dalam menjual dimsum membantu ia mencukupi kebutuhan hidup serta merencanakan masa depan anaknya.
SuaraJogja.id - Alarm handphone Samsungnya berbunyi kencang di dekat kasur. Jam di gawai saat itu menunjukkan pukul 03.00 WIB.
Setengah terpejam, tangannya mencari sumber suara tersebut untuk ia matikan. Sambil mengumpulkan energinya sedikit demi sedikit, perempuan muda ini bangkit dari kasur dan segera menuju ke kamar mandi.
Kran air pun ia buka, setetes pertama air yang menyentuh kulitnya jadi sinyal ke otak untuk memaksa mata terbuka dari rasa kantuk dia.
Segenggam air yang ia basuh ke muka menjadi penyegar yang sekelebat membuka lebar mata untuk mengawali aktivitas pagi butanya dengan shalat tahajud.
Baca Juga:Murah, Mudah Didapat, Sulit Ditinggalkan, Kisah Kelam Mantan Pengguna Obat Keras di Jogja
Selepas tahajud, perempuan yang merupakan single parent ini langsung menuju ke dapur untuk menyiapkan barang dagangannya. Bihun, cilok, puding dan makanan basah yang sudah disiapkan semalam ia rapikan di dalam plastik untuk nantinya dititipkan di warung jajanan pasar yang ada di Salatiga.
Kewajibannya sebagai muslimah pun tak ia tinggalkan, di sela-sela membungkus makanan itu ia pun mengambil jeda untuk melaksanakan shalat subuh bersama ayah dan adiknya.
Pukul 04.15 WIB, aktivitas di rumahnya mulai menunjukkan kehidupan. Suara mesin cuci, dentingan gelas hingga aroma harum masakan pagi menjadi pertanda satu keluarga sudah mulai bergerak menyambut hari.
Tak hanya menyiapkan barang dagangan, perempuan pemilik nama Firdhailsa Cintora ini pun membangunkan anak semata wayangnya, termasuk menyiapkan pakaian anak dan baju kerjanya.
Tidak ada kata lelah baginya untuk melaksanakan semua itu. Bukan tanpa alasan, meski tak lagi ditemani suaminya dalam membangun rumah tangga, hidup sebagai ibu anak satu harus tetap berjalan bagaimanapun keadaannya.
Baca Juga:Minyakita Meroket, Jeritan Hati Penjual Angkringan Jogja: Naikkan Harga Gorengan Takut Tak Laku
Tak hanya berjibaku di dapur dan tempat cucian baju, perempuan yang lahir di Bali dan menetap di Salatiga ini juga bekerja di sekolah TK yang ada di daerah tempatnya tinggal.
Setelah pekerjaan rumah selesai ia lakukan, termasuk memandikan anak laki-lakinya yang berusia 5 tahun, ia pun mengantar anaknya ke sekolah lalu lanjut berangkat ke tempatnya bekerja.
Untungnya, jarak antara sekolah anak dan tempatnya bekerja masih satu lajur yang bisa dijangkau. Semuanya sudah ia perhitungkan agar kegiatan paginya berjalan sesuai rencana.
"Sejauh ini ya semuanya dinikmati sih. Kalau enggak seperti ini siapa yang menjamin kita bisa hidup nyaman," celetuknya ketika ditemui, Minggu 18 Oktober 2026.
"Bukan soal sulitnya aktivitas sehari-hari, tapi bagaimana caranya kita ubah keseharian yang lelah itu untuk belajar dan berkembang, meski ngurus anak sendirian," ujar dia.
Firdha, sapaan akrabnya tidak melihat single parent adalah ujian yang membebaninya dalam hidup. Justru, ia banyak belajar dan berkembang menjadi manusia yang siap dalam segala hal mengarungi kehidupan di dunia ini.