SuaraJogja.id - Sepekan jelang uji coba sterilisasi kawasan Malioboro, Yogyakarta, polemik terus terjadi terutama di kalangan pedagang dan warga yang menggantungkan hidup dari jalan yang menjadi ikon Kota Gudeg tersebut.
Dari penelusuran yang dilakukan Suara.com, persoalan sosialisasi masih dipermasalahkan sejumlah pihak, terutama pedagang dan pengelola toko di sekitar Malioboro yang mengaku belum mendapatkan informasi resmi dari pemerintah setempat.
"Sepanjang ini kita belum dapat surat edaran resmi. Saya cuma dengar isu ini dari koran sama dari tukang parkir," kata Manager Operasional Taman Batik Terang Bulan, Catur Bambang Priambodo, ketika ditemui di kantornya, Jalan Malioboro, Yogyakarta, Selasa (11/06/2019).
Menurut Catur, isu itu juga berkembang cukup santer di grup WhatsApp para pengusaha toko yang tergabung dalam Paguyuban Pengusaha Ahmad Yani.
Mereka umumnya mengambil sisi positif dari kebijakan tersebut. Mereka berharap sterilisasi Jalan Malioboro dari kendaraan bermotor akan meningkatkan jumlah pengunjung toko.
Pendapat serupa juga dinyatakan pedagang kerajinan di Jalan Malioboro, Darsono. Pria yang merupakan ketua kelompok pedagang sekitar Kantor Gubernur itu mengatakan, belum ada informasi resmi dari pemerintah terkait uji coba sterilisasi kawasan Malioboro.
"Belum ada informasi. Saya belum tahu. Dulu ada yang bilang roda dua, roda empat enggak boleh masuk Malioboro. Tapi enggak pake tanda khusus," kata Darsono.
"Saya dengar, yang boleh masuk Malioboro itu cuma sepeda, becak, andong. Mobil dan roda dua enggak boleh masuk. Itu cuma orang ngomong-ngomong," lanjut dia.
Secara pribadi, Darsono kurang setuju dengan sterilisasi kawasan Malioboro. Pasalnya, para pembeli biasanya membawa motor mereka berhenti di lokasi terdekat dengan penjual. Jika kendaraan bermotor tak boleh masuk, para pembeli akan kerepotan membawa barangnya.
Baca Juga: Rencana Uji Coba Malioboro Jadi Kawasan Pedestrian Ditolak Pengemudi Bentor
"Kalau kendaraan enggak bisa masuk Malioboro itu ya saya kurang setuju. Repot toh. saya kurang setuju," ujar dia.
Ia khawatir pengunjung lapaknya akan menurun drastis. Hal ini pernah terjadi saat diberlakukan larangan parkir di sirip Jalan Malioboro. Saat itu, dagangannya sangat sepi.
Menurutnya, kebijakan yang berjalan saat ini sudah cukup baik. Kendaraan kecil masih bisa masuk dan ada kantong-kantong parkir di sirip Jalan Malioboro.
Larangan justru seharusnya diterapkan untuk kendaraan-kendaraan besar seperti bus. Pasalnya, kendaraan itu lebih berbahaya. Ia mencontohkan, Transjogja yang berjalan cukup kencang.
"Kalau bus itu terlalu besar. Transjogja itu kan busnya kencang sekali. Sebetulnya itu kan bahaya. Tapi yang punya orang pusat. Repotnya itu," kata dia.
Fasilitas Kantong Parkir
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Shin Tae-yong Kasih Kode Rotasi Skuad Persija, Shayne Pattynama Bisa Unjuk Gigi di League Cup
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Korban Luka Kericuhan Malioboro Capai 116 Orang, 13 Jalani Dirawat Inap
-
Bukti Negara Hadir Tingkatkan Kesehatan Masyarakat: Program CKG Sudah Deteksi Medis 105 Juta Orang
-
Usung Pelestarian Budaya Berkelanjutan, Ini Rangkaian Acara Tentrem Cultural Week 2026
-
JPW Pertanyakan Sikap Humanis Polda DIY: Ada Pelempar Berlindung di Balik Barikade Polisi
-
Polda DIY Akui Terima BKO Pasukan Luar Daerah untuk Pengamanan Aksi di Malioboro