SuaraJogja.id - Tumbangnya pohon sonokeling di Jalan Wates KM 4, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman yang menewaskan seorang bayi berusia 8 bulan dalam kandungan ibunya mulai ditanggapi Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) DIY. Menurut Walhi DIY, pemerintah seharusnya mengontrol dan melakukan kontingensi cuaca ekstrem, memetakan pohon mana saja yang rawan roboh, dan segera melakukan tindakan antisipatif.
Hal tersebut diungkapkan Dewan Daerah Walhi DIY Suparlan saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Senin (10/2/2020).
"Jadi pemerintah kota atau kabupaten harus menyiapkan rencana kontingensi cuaca ekstrem. Itu penting untuk diinformasikan kepada masyarakat. Selain itu, kota dan kabupaten juga harus memiliki kesiapsiagaan dalam menghadapi suatu bencana yang terjadi," ungkapnya.
Suparlan menjelaskan bahwa kewenangan pohon yang ada di dalam kota dan kabupaten menjadi tugas pokok dan fungsi (tupoksi) dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP).
"Secara tupoksi ada pada dua dinas terkait yang memiliki kewenangan itu. Artinya apakah nanti rawan atau tidak, pemerintah harus mengontrol secara rutin keadaan pohon tersebut," katanya
Ia menambahkan bahwa pohon yang berada di dekat jalan raya dan akses jalan masyarakat harus memiliki akar tunggang yang tumbuh kuat ke dalam tanah. Selain itu, kontruksi akses jalan harus sesuai dan tidak menggangu pertumbuhan tanaman berupa pohon.
"Ketiga, harus ada kontrol tadi itu karena ketika menanam, jangan sampai dibiarkan. Harus ada kontrol yang dilakukan pemerintah. Apalagi itu berada di akses jalan masyarakat dan kendaraan," katanya.
Dia menyontohkan di Kota Yogyakarta, pemerintah memiliki alokasi dana untuk penyiraman pohon perindang. Dengan demikian, alokasi dana untuk melakukan pengontrolan seharusnya ada untuk mengantisipasi kejadian serupa.
"Nah jika memang ada alokasi dana kontrol dan monitoring pohon-pohon itu, seharusnya ada langkah antisipatifnya. Jadi kejadian itu [pohon tumbang] bisa jadi karena kelalaian karena kurangnya kontrol dari pemerintah," terang dia.
Baca Juga: Rute Formula E Tak Kunjung Rampung, Anies Minta Bantuan Jokowi
Dikonfirmasi terpisah, Kepala DLH Sleman Dwianta Sudibya menerangkan bahwa pohon yang berada di badan jalan menjadi ranah DLH. Namun, untuk mengontrol jumlah pohon yang ditanam di badan jalan sepanjang kurang lebih 950 kilometer sulit dilakukan.
"Jadi tidak semuanya bisa terpantau oleh kami karena keterbatasan tenaga, sehingga selain petugas [DLH] yang mengecek langsung, kami juga melibatkan masyarakat untuk melaporkan jika ada pohon yang rawan [tumbang]," ungkap Dwianta.
Diberitakan SuaraJogja.id sebelumnya, sebatang pohon sonokeling ambruk di Jalan Wates KM 4, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Rabu (5/2/2020). Sepasang suami-istri Endi Yogananta (26) dan Israni Silvia Sujarman (25), yang juga menjadi korban dalam kejadian ini, terpaksa kehilangan calon anaknya yang tengah berusia 8 bulan di dalam kandungan.
Mengetahui Silvi hamil besar, pihak rumah sakit, kata Endi, langsung melakukan persalinan dengan jalan operasi sesar. Namun sayang, bayi Endi dan Silvi, yang telah diberi nama Pradipta Kenzo Yoshvia, didiagnosis mendapat benturan di bagian kepala. Di hari itu juga Kenzo kemudian dimakamkan, sementara Silvi menjalani perawatan intensif karena mengalami luka-luka yang cukup parah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil dan Pekerjaan Jhon LBF, Siap Bantu Ruben Onsu Bayar Kerugian Rp3,5 M
- 3 Shio yang Menarik Keberuntungan Sepanjang September 2026, Hoki Sebulan Penuh
- Cara Membersihkan Bunga Es Tanpa Mematikan Kulkas, Aman dan Mudah Dilakukan
- 4 Tips Merebus Telur agar Mudah Dikupas, Hasil Mulus Sempurna
- 3 HP Infinix Mirip iPhone 17 Pro Max, Tampil Mewah ala Flagship
Pilihan
-
Terbuang dari Klub Orang Indonesia, Emil Audero Selangkah Lagi ke Rayo Vallecano
-
Sempat Serukan Serang Hercules! Admin Akun Pemukiman Setan Ditangkap Polisi karena Molotov
-
Pidato Pertama Sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Kikin Berseloroh: Baru Dua Jam Saja
-
Jalani Ritual di Danau Sunter, WNA Aljazair Dievakuasi Setelah Dirayu 3 Jam
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
Terkini
-
Tanah Rp2 Miliar Dilelang Cuma Rp420 Juta, Warga Kulon Progo Gugat BUMN Lembaga Pinjaman
-
Ormas Terlibat Kekerasan, Muhammadiyah Desak Polisi Tak Tebang Pilih
-
17 Persen Penerima PKH di DIY Terindikasi Judol, Dinsos Tangguhkan Bansos
-
Soroti UU Konservasi dan RUU Masyarakat Adat, Forum PCS 2026 Digelar di UGM
-
Konservasi Indonesia Dinilai Masih Negara-Sentris, PCS 2026 Dorong Perubahan Paradigma