SuaraJogja.id - Dampak covid-19 atau virus Corona berimbas besar terhadap masyarakat. Tak terkecuali mahasiswa perantauan yang menempuh pendidikan di DI Yogyakarta. Pembatasan untuk keluar kampung membuat mereka kesulitan beraktivitas hingga memenuhi kebutuhan harian.
Menanggapi hal itu, salah seorang pemilik indekos putri di Babadan Baru, Condongcatur, Depok, Sleman, Supardi (53) mengungkapkan, dirinya ikut membantu kebutuhan beberapa penghuni kos.
"Mereka memilih bertahan di kos karena memang keadaan di rumahnya sudah cukup berbahaya. Dari 10 penghuni ada tiga yang masih bertahan," terang Supardi kepada wartawan, Kamis (2/4/2020).
Ia menerangkan dua dari tiga penghuni kos, berasal dari Jakarta dan Tangerang. Mengingat Jakarta sudah menjadi daerah red zone, Supardi meminta kepada mahasiswa untuk mempertimbangkan jika ingin mudik.
"Awalnya mereka akan kembali ke rumahnya (Jakarta), namun karena kondisi di sana cukup bahaya saya meminta untuk berfikir ulang. Akhirnya mereka menghubungi keluarganya di rumah untuk bertahan dan tinggal di sini," katanya.
Dibatasinya akses jalan keluar masuk kampung di wilayahnya juga berdampak pada mahasiswa yang masih butuh beraktivitas di luar. Bagi Supardi, bertahannya mahasiswa di indekos perlu dibantu, terutama kebutuhan pangan sehari-hari.
"Mereka mengaku masih ada kiriman dari orang tua. Namun saya juga tidak tega dengan mereka. Sudah tidak mudik, kampungnya di sini di-lockdown, akhirnya saya bantu sebisanya. Kadang jika ada makanan lebih saya bagikan ke anak-anak itu," jelas dia.
Tak hanya Supardi, seorang pemilik indekos di kawasan Seturan, Sleman juga melakukan hal yang sama. Walaupun tidak sering, pemilik indekos, Hermawan (45) juga menyisihkan sebagian uang untuk membantu mahasiswa di tempat tinggalnya .
"Satu indekos ini semuanya perantauan, tapi tersisa hanya empat orang. Mereka sengaja tidak pulang karena ada yang takut menularkan, tapi ada juga yang orang tuanya meminta untuk tidak pulang dahulu. Jika ada banyak makanan saya sering memberikan keempat anak itu," jelas pria pemilik indekos putra itu.
Baca Juga: TRC BPBD DIY Kritik Pemerintah Soal Prosedur Pemakaman PDP di Sleman
Ia menambahkan, untuk mencegah penyebaran virus di dalam rumahnya, Hermawan juga menyediakan sabun cuci tangan di pintu masuk.
"Karena kos pria, saya sengaja memberi sabun cuci tangan di dekat pintu masuk. Sebelum masuk mereka harus membasuh tangan, setelah itu beraktivitas di dalam kamar," kata dia.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Puluhan Tangki Tiap Musim Kemarau Tak Selesaikan Masalah, Warga Kemesu Minta Pencarian Sumber Air
-
Ramai Wisatawan Dipalak Saat Foto di Plang Malioboro, UPT Tertibkan Fotografer
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Kekeringan di Gunungkidul, Warga Kemesu Terpaksa Jual Ternak Demi Beli Air
-
Chemistry Keisya Levronka dan Paul Aro Warnai Film 'Dan Bandung', Bakal Berperan Jadi Siapa?