SuaraJogja.id - Video isak tangis warga menyambut kepulangan pasien positif Covid-19 viral di media sosial. Setelah ditelusuri, suasana haru penyambutan kepulangan pasien positif Covid-19 yang telah dinyatakan sembuh tersebut berasal dari Padukuhan Tawarsari, Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari. Pria yang mendapat sambutan tersebut yakni Sunardi.
Selasa (12/05/2020) pagi kemarin, Sunardi diperbolehkan pulang oleh medis karena dua kali hasil swabnya menyatakan negatif. Dari RSUD Wonosari, ia diantar menuju balai Desa Wonosari yang kebetulan jaraknya hanya sekitar 1 kilometer (km). Suasana haru pun tampak ketika Sunardi disambut tangisan oleh sebagian warga dan perangkat desa setempat.
"Alhamdulillah, saya berterimakasih kepada semua warga di Tawarsari yang telah mendukung saya dan keluarga melewati ujian ini. Saya mohon maaf karena telah tertular penyakit ini," tutur Nardi, Rabu (13/5/2020) ketika dihubungi nomor pribadinya.
Sunardi dinyatakan terpapar setelah kontak dengan pasien positif Covid-19 di Padukuhan Gadungsari Desa Wonosari. Saat itu ia ikut memakamkan pasien PDP di Gadungsari tersebut. Dan dari empat orang yang membantu memasukkan jenazah PDP ke liang kubur, Sunardi adalah warga Tawarsari yang dinyatakan reaktif dalam rapid test hingga akhirnya benar-benar positif karena hasil swabnya juga positif.
"Satu setengah bulan yang lalu, saya bersama lima orang kawan lainnya diminta tolong untuk menguburkan jenazah warga Gadungsari. Karena sudah tugas saya, ya berangkat," kisahnya.
Awalnya ia tidak mengetahui jika jenazah tersebut berstatus PDP dalam kasus Covid-19. Ia baru mengetahui jika jenazah tersebut merupakan pasien dalam pengawasan (PDP) setelah dirinya dinyatakan positif. Saat itu, ia bersama kawan-kawannya seperti biasa memakamkan jenazah tanpa pelindung apapun.
Pasalnya dari pihak rumah sakit tidak memberikan keterangan apapun kecuali sakit biasa. Terlebih, sebelum dimakamkan oleh Sunardi dan kawan-kawannya, jenazah tersebut telah dimandikan dan dikafani sendiri oleh pihak keluarga, bukan dari rumah sakit yang sebelumnya menangani.
"Lha itu jenazah yang memandikan juga keluarganya. Kalau tahu seperti itu (PDP Covid-19) tentu kami tidak berani menguburkan jenazah tanpa Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai. Harusnya dari rumah sakit sudah ada petunjuk jadi kami juga dilindungi," ujar Nardi.
Usai menguburkan jenazah, perasaannya hanya biasa-biasa saja. tak ada kekhawatiran apapun karena ia juga merasa sehat dan tidak mengeluhkan sakit. Ia kaget karena sebulan sejak penguburan jenazah tersebut, ia mendapat panggilan untuk datang ke Kantor Kelurahan Wonosari untuk menjalani rapid test bersama kedua anak dan istrinya.
Baca Juga: Ratusan Jemaah Tablig dan Pendatang Akan Ikut Rapid Test Massal Gunungkidul
"Saya sama anak sulung yang masih kelas 6 SD dinyatakan reaktif dalam rapid test. Waktu itu ada 6 orang ketika penguburan, dan yang reaktif hanya saya. Setelah itu kami dijemput ke RSUD Saptosari untuk isolasi. 5 hari saya di sana bersama anak saya," ceritanya.
Hasil swab atas dirinya dan sang anak akhirnya keluar di hari kelima. Di mana dirinya dinyatakan positif Covid-19 dan anaknya negatif. Nardi lantas dirujuk ke RSUD Wonosari dan anaknya diperkenankan untuk pulang ke rumahnya.Selama 10 hari, ia menjalani isolasi bersama dengan 4 orang lainnya dalam satu kawasan di RSUD Wonosari. Tidak ada terapi khusus yang ia jalani karena selama diisolasi di rumah sakit tersebut Nardi merasa sehat dan tidak mengeluh apapun.
"Setiap hari, diberi obat 6 jenis dan dikonsumsi dua kali sehari yaitu pagi serta sore," ungkapnya.
Selama di rumah sakit itu pula, ia menjalani dua kali pengambilan uji swab dan semuanya negatif sehingga hari Selasa (12/5/2020) kemarin dinyatakan sembuh serta diperkenankan pulang. Sebanyak 4 orang termasuk dirinya diperbolehkan pulang karena sembuh.
Sejumlah warga pun mengutarakan dukungan mereka terhadap kesembuhan Sunardi. Mereka tidak ada niatan untuk mengucilkan, atau mengecilkan hati pria rersebut. Justru mereka memberi dukungan semangat yang luar biasa dan menerima kembalinya dengan senang hati.
Warga mengaku trenyuh karena Sunardi sempat mengutarakan permintaan maafnya kepada warga setempat atas kondisinya kala itu. Namun warga justru semakin menguatkan dirinya untuk tetap bangkit memberikan edukasi kepasa masyarakat, pasalnya virus itu bukanlah sebuah hal yang dianggap aib, dan penularannya pun tidak disengaja.
Berita Terkait
-
Kondisi Terkini 7 Pasien Positif Covid-19 yang Diisolasi di RSUD Wates
-
Viral Video Pasien Corona Sembuh di Gunungkidul, Disambut Isak Tangis Warga
-
Pasien Positif Covid-19 Tak Jujur, 24 Warga Bantul Terpaksa Lakoni Isolasi
-
Pasien Positif Covid-19 dari Klaster Indogrosir Tambah Satu Asal Kulonprogo
-
Cerita Relawan PMI Sogok Pasien Klaster Indogrosir Agar Mau Ikuti Tes Swab
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- 3 Rekomendasi Helm Half Face Rp200 Ribuan yang Paling Dicari Bikers, Nyaman Buat Harian
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
- Defisit APBN 'Cuma' 0,91 Persen, Purbaya Khawatir Kementerian-Lembaga Minta Anggaran Tambahan
Pilihan
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
-
Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
-
Ada Pelantikan di Istana Sore Ini, Pratikno Ngaku Dapat Undangan Mendadak
Terkini
-
Kasus Asusila di Ponpes Sleman: Eks Pengurus Ditetapkan Tersangka, Keberadaannya Masih Misterius
-
Dari Pintu ke Pintu, Mantri BRI Dewi Natalia Bantu Pedagang Lampung Akses Pembiayaan
-
Anggaran Minim, BPBD DIY Geser Alokasi Atasi Bencana di Jogja
-
Indonesia Dikepung Lima Bencana, Jusuf Kalla Sebut Lingkungan Rusak oleh Kita Sendiri
-
5 Tahun Holding UMi, Sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM Dorong UMKM Bertumbuh