"Sudah panik semua, bahkan barang seperti surat berharga atau perhiasan sudah tak diingat. Jadi segera evakuasi dengan pakaian yang kami gunakan," kata Sarmiyati ditemui saat kunjungan DPRD Sleman, Senin (13/7/2020).
Pasca erupsi Merapi 2010, rumah miliknya penuh dengan guguran abu vulkanik. Hampir seluruh warga di Kalitengah Lor terdampak akibat awan panas atau Wedhus Gembel.
Sebagian rumah warga ada yang luluh lantah wajar Dusun Kalitengah Lor hanya berjarak 5,5 kilometer dari puncak Gunung Merapi. Tetapi, sebagian rumah lainnya masih kuat bertahan. Sarmiyati bersyukur rumah yang dia huni tak banyak kerusakan dan saat ini masih bisa ditempati.
Sarmiyati termasuk warga yang beruntung rumahnya masih kokoh berdiri. Tak sedikit warga yang harus kehilangan rumah dan berpindah ke Hunian Tetap (Huntap). Masyarakat yang kehilangan rumah, saat ini tinggal di Huntap-huntap yang telah disediakan pemerintah.
Bagi masyarakat lereng Merapi yang sebelumnya mayoritas petani, pascaerupsi banyak yang beralih profesi. Ada yang menjadi penambang untuk bertahan hidup, adapun yang tetap mengurus sawah.
"Masih ada yang bercocok tanam, selain itu beberapa ada yang ingon (ternak) sapi milik warga lain, karena lokasi atau rumah tempat tinggalnya tak ada tempat untuk mengurus sapi," jelas dia.
Sarmiyati mengaku, letusan hebat Merapi 2010 silam membuat masyarakat terpuruk. Semua orang memulai kehidupan dari nol. Kendati demikian nampaknya Tuhan memiliki cara lain untuk mereka bertahan hidup.
Sembari mengingat kepanikan ketika Merapi erupsi 2010 silam, ia melanjutkan bahwa peristiwa 10 tahun lalu memang tak banyak persiapan dan pengetahuan masyarakat terhadap mitigasi kebencanaan.
Namun setelah peristiwa kelam yang memakan korban lebih kurang 353 orang termasuk juru kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan ini, masyarakat lebih sering mendapat pelatihan bagaimana menyelamatkan diri di wilayah rawan bencana.
Baca Juga: Menginap di Hotel dengan Istri, Pria Asal Sleman Mendadak Tewas
"Ada pelatihan dan juga cara-cara evakuasi serta penyelamatan diri yang baik dan tak mencelakai orang sekitar. Memang tidak sering, namun dari pelatihan itu setidaknya kami sudah ada gambaran bagaimana menyelamatkan diri jika Merapi kembali erupsi," kata dia.
Sarmiyati juga menunjukkan sebuah tas yang disebut sebagai tas siaga bencana. Tas yang diberikan oleh pemerintah melalui BPBD tersebut berisi surat-surat berharga dan juga surat kepemilikan tanah. Fungsinya untuk meletakkan berkas penting dalam sebuah tas yang bisa diselamatkan dengan cepat jika terjadi erupsi.
"Menanggulangi dan mengantisipasi kejadian serupa ada tas siaga bencana yang kami siapkan saat Merapi meletus lagi. Jadi ketika terjadi kami langsung menenteng tas dan pergi ke tempat yang aman," jelasnya.
Hidup di sekitar lingkungan yang berbahaya terhadap bencana gunung api, Sarmiyati mengaku masih merasakan kekhawatiran. Bahkan peristiwa 10 tahun lalu masih menyebabkan trauma.
"Memang ada rasa ketakutan kami selama berada di sini. Tapi kewaspadaan yang kami siapkan. Di dusun ini hampir 24 jam relawan dan warga bergilir untuk menjaga. Baik di pos pemantauan dan di lingkungan dusun," katanya.
Khawatir terhadap situasi yang tak bisa diprediksi, baik Sarmiyati dan Sambi menyoroti jalur evakuasi yang sampai saat ini belum diperbaiki sepenuhnya. Beberapa diantaranya jalur Bronggang-Klangon.
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil dan Pekerjaan Jhon LBF, Siap Bantu Ruben Onsu Bayar Kerugian Rp3,5 M
- 6 HP Realme RAM 12 GB dengan Performa Kencang, Mulai Rp2 Jutaan
- 3 Shio yang Menarik Keberuntungan Sepanjang September 2026, Hoki Sebulan Penuh
- Erick Thohir Buka Hasil Evaluasi Timnas Indonesia usai Gagal di Piala AFF 2026
- 5 Pilihan Rice Cooker Panci Keramik yang Awet, Tahan Gores, dan Mudah Dibersihkan
Pilihan
-
Sempat Serukan Serang Hercules! Admin Akun Pemukiman Setan Ditangkap Polisi karena Molotov
-
Pidato Pertama Sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Kikin Berseloroh: Baru Dua Jam Saja
-
Jalani Ritual di Danau Sunter, WNA Aljazair Dievakuasi Setelah Dirayu 3 Jam
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
Terkini
-
Soroti UU Konservasi dan RUU Masyarakat Adat, Forum PCS 2026 Digelar di UGM
-
Konservasi Indonesia Dinilai Masih Negara-Sentris, PCS 2026 Dorong Perubahan Paradigma
-
Difabel Harus Kesulitan Masuk Malioboro, Pemda Bongkar Desain Regol Ayom
-
PTN Borong Kuota Maba, Kampus Swasta Pilih Tampung Anak Korban Bencana Lewat Sego Berkat
-
Dorong Ekonomi Kerakyatan, BRI Catat Laba Rp31,2 Triliun hingga Semester I 2026