SuaraJogja.id - Ibunda Lukman Rahma Wijaya (18) remaja asal Kecamatan Pleret, Bantul, yang meninggal pada Sabtu (8/8/2020) silam akibat penganiayaan oleh 13 orang temannya mendatangi Kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Yogyakarta. Ia meminta kasus itu dikawal dan selesaikan seadil-adilnya.
"Saya cuma meminta kasus ini diusut dengan tuntas dan para pelaku bisa diadili seadil-adilnya. Soalnya kami merasa masih ada yang ketidaksesuaian terkait luka yang ada di tubuh anak saya dan barang bukti yang diamankan," kata Ibunda dari Lukman, Pradita Indriyani, di Kantor KPAI Yogyakarta, Kamis (27/8/2020).
Pradita mengatakan salah satu yang masih mengganjal pihak keluarga adalah luka lebam di sekitar tubuh dan wajahnya yang diduga akibat pukulan benda tumpul. Namun tidak ada satu pun benda tumpul yang disita pihak kepolisian sebagai barang bukti.
Senada, kakek korban, Agus Maryanto yang menjadi orang pertama yang menolong korban dalam kondisi terkapar setelah dianiaya juga meminta para pelaku dihukum setimpal. Meskipun beberapa pelaku juga masih di bawah umur tapi perlu dicatat bahwa korban juga adalah anak-anak.
Lebih lanjut Agus menjelaskan bahwa ia yang pertama kali dihubungi oleh ibu dari tersangka yang kebetulan juga sebagai pemilik rumah. Setibanya ia di lokasi, pihaknya sudah mendapati kondisi cucunya tersebut tergeletak tak berdaya di ruang tengah.
"Bahkan saya pegang denyut nadinya pun sudah tidak terasa. Intinya saya sudah membatin bahwa cucu saya meninggal tapi saya tidak berhak untuk memutuskan. Itu kewenangan dokter atau pihak rumah sakit," jelas Agus.
Melihat kondisi cucunya yang tak berdaya itu, Agus langsung meminta ibu tersangka untuk menelpon ambulans agar segera bisa dibawa ke rumah sakit. Sembari menunggu ia mencari ayah dan ibu korban bahwa anaknya kritis.
"Kondisinya terkapar, lebam di dekat mulut, pelipis. Di dalam mulut juga terlihat banyak darah, begitu juga di hidungnya," ucapnya.
Satu hal yang disayangkan Agus adalah tidak ada satupun pelaku dari 13 rekannya itu yang menolong. Para pelaku tersebut hanya duduk di sekitar korban.
Baca Juga: Jokowi Resmikan YIA, Pemda DIY Harap Bisa Dongkrak Kunjungan Wisatawan
"Itu yang aneh menurut saya, semua yang di situ kok tidak ada yang membantu atau berusaha menolong. Itu yang sangat saya sesalkan," tegasnya.
Direktur LKBH Pandawa, Thomas Nur Ana Edy Dharma menegaskan kedatangan pihaknya selaku kuasa hukum keluarga korban salah satunya adalah untuk mengapresiasi kinerja Polres Bantul yang sudah berhasil mengamankan para pelaku dengan waktu yang singkat.
Pihaknya memang sengaja datang ke KPAI untuk meminta dukungan kepada mereka agar mengawal kasus tersebut hingga tuntas.
"Memang ini adalah perkara anak dan ada regulasi khusus yang menanganinya. Tapi yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa di sini korban juga anak-anak, artinya hukum harus seimbang," tegas Thomas.
Dikatakan Thomas, agenda terdekat yang akan dilakukan adalah mengadakan audiensi perkembangan perkara ini dengan pihak Polres Bantul. Hal itu bertujuan untuk memberikan kejelasan dari berbagai kejanggalan dan pertanyaan dari keluarga korban.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pilih Kursi Komisaris Ketimbang Partai, Musyafirin Resmi Diusulkan Dipecat PDIP
- Survei Capres PPI: Prabowo Masih Perkasa, Anies Tempel Ketat, Gibran di Bawah AHY
- Mudah, Ini Cara Menghentikan Spam Call di HP Android dan iPhone
- Kronologi Kader PDIP Musyafirin Pilih Kursi Komisaris Ketimbang Partai Berujung Usulan Pemecatan
- 4 Shio Ini Diprediksi Panen Cuan dan Sukses Besar di Tahun Kambing Api 2027
Pilihan
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
-
Mantan Kadiv Hubinter Napoleon Bonaparte Meninggal, Pengacara: Doakan Bapak Diampuni Dosa-dosanya
-
Pekan Kelam IHSG: Drama BYAN Haji Isam, Turun Kelas MSCI Hingga Rekor Terburuk Bursa
Terkini
-
Dua Tahun Prabowo-Gibran: JCW Soroti Tebang Pilih Kasus Korupsi dan Efektivitas Retret Pejabat
-
Hujan di DIY Diprediksi Masih Minim hingga Awal November, Waspada Kekeringan dan Karhutla
-
Sempat Lempar Mercon dan Batu, Massa Mahasiswa di DPRD DIY Akhirnya Dibubarkan
-
Lempar Botol ke Barikade hingga Bakar Tumpukan Botol, Demo Mahasiswa Bertahan di DPRD DIY
-
Dibumbui Komedi Absurd, GJLS: Berapi-api Ceritakan Perjuangan Petugas Damkar