Scroll untuk membaca artikel
Galih Priatmojo | Mutiara Rizka Maulina
Senin, 31 Agustus 2020 | 13:47 WIB
Komisioner Komnas Perempuan dan Guru Besar Kajian Gender UIN Sunan Kalijaga, Alimatul Qibtiyah. [Mutiara Rizka M / SuaraJogja.id]

Selesai menjalani pendidikan dalam kurun waktu yang tidak lama, Alim mengaku pernah menerima cemooh bahwa sebagai lulusan Fakultas Dakwah ia tidak akan bisa pergi ke luar negeri. Berusaha mengubah cemooh itu menjadi suatu hal yang positif, Alim kemudian memiliki target untuk bisa belajar di negara orang. Kebetulan saat itu UIN Yogyakarta dan UIN Jakarta tengah memiliki program kerjasama untuk mengirimkan dosen-dosen muda belajar di Kanada.

Namun, karena nilai bahasa Inggrisnya yang belum memenuhi, Ibu dari Ahabullah Fakhri Muhammad ini harus mengikuti kursus bahasa inggris di Bali selama sembilan bulan. Berhasil lulus dengan nilai IELTS antara 5.50 hingga 6 sayangnya terjadi perubahan persyaratan dari penyelenggara beasiswa.

Gagal pergi ke Kanada, Alim kembali mengikuti kursus bahasa Inggris untuk menambah nilainya. Sembari meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya, Alim mencoba mendaftar beasiswa Fullbright ke Amerika.

"Jadi 13 tahun kemudian, dari yang awalnya mau jadi babysister menjadi penerima fullbrighter," terang Alim dengan bangga.

Baca Juga: Protes UIN Sunan Kalijaga Trending, Akun Twitter Jookoowi Turut Prihatin

Bisa melanjutkan pendidikannya di University of Northern Iowa di Amerika perasaan Alim sudah tidak terbendung lagi. Rasa suka cita dan bahagia karena akhirnya bisa mencoba tinggal di negara orang memenuhi hatinya. Demi menuntaskan pendidikannya di bidang Women’s Studies, ia sempat menjalani hubungan jarak jauh bersama dengan suami dan anak pertamanya. Ketika itu, kondisi keuangannya dan suami masih dalam tahap memperjuangkan kehidupan yang nyaman untuk keduanya.

Satu semester, menjalani masa kuliah Alim kembali ke Indonesia, ia menawari pasangan hidupnya itu untuk datang dan tinggal di Amerika. Ada beberapa hal yang ia sampaikan pasti tercapai jika suaminya itu mau pindah dan bekerja di Amerika. Siapa sangka, semua hal yang sempat ia imingi-imingi ke suaminya dapat tercapai saat kembali ke Indonesia. Dari yang menargetkan membawa pulang 12.000 USD mereka berhasil membawa uang tabungan sebesar 23000 USD.

Dengan uang tersebut, mereka berhasil membangun rumah impian dengan desain yang terinspirasi dari tempat tinggal mereka di Amerika. Dengan konsep open house, tidak banyak sekat yang membatasi setiap ruangan di tempat tinggal mereka. Tidak hanya berhasil menjalankan studi berdampingan dengan pemenuhan kebutuhan rumah tangganya, selama di Amerika, ia juga melahirkan putra kedua bernama Acedewa Fairuzihan.

Beberapa tahun kemudian, Alim kembali melanjutkan pendidikan S3-nya di Western Sydney University, Australia. Tidak jauh dari disiplin ilmu yang diambil sebelumnya, kali ini ibu dari Ahdan Finley Brisbantyo mempelajari tentang Contemporary Muslim Study.

Guru Besar dan Komisioner Komnas Perempuan

Baca Juga: Isu Kenaikan UKT Merebak, UIN Sunan Kalijaga Pertimbangkan Hal Ini

Selesai menjalani pendidikan S3-nya ia kembali ke UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta untuk mendaftarkan diri sebagai Kepala Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI). Gagal jadi Kaprodi, Alim justru berhasil menjabat sebagai Wakil Dekan 3 Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Sementara tahun lalu, baru saja mendapatkan jabatan baru sebagai Komisioner Komnas Perempuan. Ia berhasil meraih posisi itu setelah melakukan 4 seleksi melawan 300 kandidat lainnya.

Load More