SuaraJogja.id - Puskesmas Banguntapan II menggelar pelatihan pembuatan ramuan tanaman obat keluarga (toga) kepada Kelompok Asman Kestrad "Singosaren Small Is Beautiful", di Dusun Singosaren, Banguntapan, Bantul, Rabu (9/9/2020). Dalam pelatihan ini, warga yang hadir dilatih membuat tujuh ramuan sesuai dengan pedoman pencegahan dan pengendalian Covid-19 Revisi 5 yang diterbitkan Kementerian Kesehatan.
Dokter Fungsional, dengan jabatan Kepala Puskesmas Banguntapan II, Wahyu Pamungkasih, mengatakan, tidak hanya menggunakan pengobatan konvensional atau modern saja, masyarakat juga sudah mengenal pengobatan tradisional sejak lama.
"Masyarakat sudah mengenal pengobatan tradisional secara turun temurun, yang, mau tidak mau, diakui atau tidak, itu mereka kembangkan sendiri. Nah, dari situ kita ingin mengeksplorasi lagi agar pengobatan tradisional yang sudah kita miliki sejak lama itu bisa terus dimanfaatkan," ujar Wahyu kepada awak media.
Wahyu menuturkan, kegiatan pelatihan ini juga sekaligus memanfaatkan dana keistimewaan dari proposal yang pihaknya sudah ajukan kepada pemerintah provinsi guna memperingati Sewindu Undang-Undang Keistimewaan DIY. Proposal itu intinya berisi pengembangan kesehatan tradisional di dusun ini.
Ia mengatakan, selain pengembangan kesehatan dengan asuhan mandiri, melalui pengobatan jamu atau ramuan tradisional, pihaknya juga sudah mempersiapkan kegiatan lain, yakni pengobatan akupresur dan pijat bayi.
"Hari ini kami laksanakan pelatihan pembuatan ramuan, harapannya nanti bisa jadi satu produk yang satu sisi menguntungkan secara ekonomi, tapi juga bisa menjadi budaya yang tidak hanya digemari oleh kalangan orang tua saja, tapi juga dengan anak-anak muda," ungkapnya.
Strategi pemasaran atau kemasan menjadi salah satu yang turut diperhatikan pihaknya agar jamu atau ramuan itu bisa dilirik dan dinikmati oleh semua kalangan. Pihaknya bahkan sudah mempersiapkan kemasan layaknya di warung kopi agar lebih terlihat milenial.
Wahyu berharap, setelah kegiatan ini, masyarakat mulai kembali mempersiapkan segala sarana dan prasarana yang dibutuhkan, mulai dari menanam tanaman obat untuk keseharian hingga memproses sesuai standar yang ada dan menghasilkan output yang bisa dinikmati bersama.
"Semoga setelah ini tidak hanya produk saja, tapi bahan baku dan sebagainya karena memang saat ini bahan baku masih membeli dari luar. PKK dan dari desa juga bisa mulai menanam sendiri, sehingga produksi akan beputar di situ saja," tuturnya.
Baca Juga: Bantul Siapkan Skenario Pembukaan Sekolah, Setiap Pekan Layani Konsultasi
Wahyu menyampaikan bahwa jamu dan kesehatan tradisional lainnya rata-rata digunakan sebagai pelengkap saja dari pengobatan modern. Namun juga tidak menutup kemungkinan, suatu saat pengobatan tradisional lebih dipilih pasien ketimbang pengobatan yang konvensional.
"Semisal ada orang dengan penyakit sudah stadium akhir, dia bisanya sudah tidak mau lagi pengobatan konvensional dan berpindah ke pengobatan tradisional. Ini yang akan kita sandingkan," katanya.
Begitu juga dengan kondisi pandemi Covid-19 saat ini, yang menyebabkan orang khawatir untuk datang ke fasilitas kesehatan, Wahyu mengatakan, swamedikasi atau pengobatan pribadi bisa menjadi solusi yang tepat untuk itu. Namun jika memang dengan pengobatan tradisional tidak berhasil, baru seseorang itu dianjurkan mendatangi fasilitas kesehatan terdekat.
Wahyu juga tidak menutup kemungkinan, nantinya di puskesmas pun akan ada layanan kesehatan tradisional. Jadi selain hanya diberi obat, pasien juga diberikan pengobatan akupresur dan akupuntur.
"Intinya kami ingin kesehatan tradisional ini berjaya lagi dan bisa bersanding dengan pengobatan konvensional atau modern," ucapnya.
Ia menambahkan, di Puskesmas Banguntapan II sendiri pihaknya melakukan kegiatan di dua dusun. Pertama di Dusun Singosaren, yang sudah menghasilkan produk bernama Jogorogo dan kedua di Dusun Bodon Jagalan dengan nama produk ramuan Sirnalara.
Berita Terkait
-
Bantul Siapkan Skenario Pembukaan Sekolah, Setiap Pekan Layani Konsultasi
-
PDIP Diterpa Kampanye Hitam Jelang Pilkada, Idham Samawi: Ngga Kaget!
-
Kecelakaan di Jalan Kusumanegara, Nur Tewas Akibat Cedera di Kepala
-
Bermula dari Buku Misterius, Sutrisno Sulap Kiringan Jadi Desa Wisata Jamu
-
LPPM BIMa Berikan Bantuan dan Maksimalkan Dapur Bude untuk Bantu Masyarakat
Terpopuler
- Operasi Politik Presisi Prabowo: Preteli Siji-siji
- 9 Sunscreen untuk Mencerahkan Wajah dan Menghilangkan Flek Hitam
- Luky Alfirman Jadi Wamenkeu usai Dicopot Purbaya, Pengamat Soroti Arah Kebijakan Suahasil
- Margarito soal Gugatan Ijazah Gibran di MK: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan
- Sehari Dijabat Suyudi Ario Seto, Polri Langsung Rombak 19 Kapolda: Ini Daftar Lengkapnya!
Pilihan
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
-
Pemain Timnas Indonesia Dapat Ancaman Pembunuhan
Terkini
-
Luky Alfirman Jadi Wamenkeu, Pengamat: Bisa Jadi Akal-akalan Amankan Jalan Politik 2029
-
Kasus Bolosego Alkid Dinyatakan Bukan Pemerasan, Lalu Mengapa Ada Polisi Diproses Propam?
-
Isu Ijazah Gibran Disinyalir Tutupi Riuhnya Reshuffle Kabinet, Pengamat UngkapPermainan Politik
-
Mutasi 88 Perwira Belum Cukup! JPW Minta Kapolri Baru Sikat Habis Masalah Sampai ke Polsek
-
Pilur Serentak Bantul Digelar Besok, 15 TPS Dipetakan Rawan hingga Sangat Rawan