SuaraJogja.id - Hembusan angin yang masuk dari sela dinding kayu perlahan membelai rambut Mbah Muhyi (95) yang seluruhnya sudah memutih. Tak berapa lama, tubuhnya merebah di atas dipan kayu yang sudah diberi alas tikar dan sehelai sarung.
Sambil sejenak membetulkan letak alas kepalanya, bapak 6 anak ini pun tanpa rasa waswas terlelap di tempat tidurnya.
Di gubuk bambu yang hampir roboh itu, Mbah Muhyi sehari-hari melakoni aktivitasnya termasuk untuk melepas penat.
Barangkali tak sedikit yang heran melihat pemandangan tersebut, mengapa pria serenta itu tinggal di gubuk nan reot yang bisa saja membahayakan dirinya jika sewaktu-waktu bangunan yang sudah termakan rayap itu ambruk?
Mbah Muhyi ternyata memang sengaja tak mau meninggalkan gubuknya. Kata putrinya, pria yang tinggal di Padukuhan Waduk Salam, Kalurahan Salam Kepanewonan Patuk Gunungkidul enggan beranjak ke rumah yang lebih layak lantaran trauma.
"Bapak ndak mau tinggal di rumah saya karena takut gempa,"ujar Aminah (53) anak kedua dari Mbah Muhyi saat ditemui di kediamannya, Rabu (9/9/2020) siang.
Aminah bercerita, rumah berukuran 5x6 meter persegi tersebut berdiri di bekas reruntuhan rumahnya yang roboh akibat gempa bumi 2006 lalu. Kala peristiwa gempa besar tersebut, Mbah Muhyi sempat tertimbun reruntuhan bangunan rumah miliknya. Nyawa Mbah Muhyi berhasil diselamatkan dan hanya mengalami luka-luka.
Meski tak mengakibatkan luka yang serius, namun peristiwa gempa yang mengakibatkannya tertimbun membuat Mbah Muhyi trauma. Akibat peristiwa gempa bumi itu, Mbah Muhyi menjadi takut untuk tinggal di rumah yang bertembok.
Sebenarnya, Aminah berkali-kali meminta Mbah Muhyi untuk tinggal bersamanya, namun tak pernah sekalipun bersedia tidur di rumahnya tersebut. Aminah berpikiran jika ayahnya bersedia tinggal di rumahnya, kesehatan orangtuanya semata wayang dapat terjaga dengan baik.
Baca Juga: Satpol PP DIY Temukan Mayoritas Pelanggar Protokol Kesehatan Usia Remaja
"Minimal tidak kedinginan kalau malam dan tidak basah kalau pas hujan,"ungkapnya.
Bahkan ketika ibunya (istri Mbah Muhyi) masih hidup, Mbah Muhyi tetap menempati rumahnya yang nyaris roboh tersebut. Padahal sang Ibu sudah tinggal di rumahnya yang sudah bertembok. Alasannya, Mbah Muhyi takut kalau ada gempa kembali melanda kawasan ini.
Saat ini, kondisi rumah yang ditinggali Mbah Muhyi sendiri sangat memprihatinkan. Dinding bambu yang dipaku dengan jarak cukup renggang ini menyisakan celah besar yang memungkinkan angin kencang sewaktu-waktu berhembus kencang ke dalam kamar.
Atap rumah milih Mbah Muhyi itupun sebagian sudah roboh. Jika ada angin kencang melanda, kemungkinan bisa langsung roboh.
"Ya mau bagaimana lagi, untuk memperbaikinya tidak ada duit. Untuk makan saja sulit," sambung Aminah.
Aminah menuturkan kondisi orangtuanya saat ini sudah kesulitan untuk berjalan. Untuk keluar rumah sekadar untuk buang air besar ataupun buang air kecil, ia harus dibantu anaknya. Jika kondisinya tengah fit, Mbah Muhyi berjalan menggunakan tongkat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa Bedanya Adidas Originals vs Adidas Performance? Kenali dari Logo dan Kegunaannya
- 4 Sepatu Jalan dengan Teknologi Penyangga Kaki Terbaik untuk Berjalan jauh
- 11 HP Murah untuk Ojol, Baterai Awet dan Layar Terang agar Tetap Nyaman di Jalan
- Persija dan PSM Masuk Daftar 24 Klub Penunggak Gaji Pemain Versi Data Terbaru APPI
- 7 Sepatu Slip On Lokal yang Empuk dan Anti Pegal untuk Kerja Komuter, Mulai Rp100 Ribuan
Pilihan
-
Seskab Teddy Dikabarkan Diperiksa PUSPOM? Panglima TNI: Itu Hoaks
-
Jokowi Tak Banyak Komentar Soal Penyadapan Prabowo: Kita Hormati Proses Hukum
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
-
Hakim Potong Omongan Jokowi yang Melebar: Jawab Saja Pertanyaannya!
Terkini
-
Misi Hijau JCWF 2026: Wujudkan Wisata Berkelanjutan Lewat Kolaborasi Lintas Sektor
-
Jelajah Jogja Cultural Wellness Festival 2026: Sensasi Pemulihan Diri Berbalut Kearifan Budaya
-
Tuan Rumah JCWF & Munas DPP PUTRI 2026, Loman Park Hotel Dorong Sinergi Wellness-Pariwisata
-
Perempuan Tak Punya Pilihan Berhenti Haid, Pajak Pembalut 11 Persen Dinilai Nodai Keadilan Gender
-
Kota Jogja Vs Gunungkidul: Jarak Kualitas Hidup Ini Ternyata Masih Jauh!