“Setelah lulus itu memegang apotik tiga tahun,” imbuhnya.
Terpanggil mengabdi untuk desa
Lulus dari UGM, Wahyudi sempat bekerja sebagai seorang apoteker selama kurang lebih tiga tahun. Pada akhir tahun 2012 ia lantas mengundurkan diri dari profesinya untuk fokus bekerja sebagai kepala desa. Ada alasan tersendiri sehingga akhirnya Wahyudi memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai seorang pemimpin di tingkat kelurahan.
Ia mengaku jauh sebelum berniat mencalonkan jadi kepala desa, sudah cukup lama berkecimpung dalam kegiatan dan pengembangan di desanya. Selama delapan tahun ia berusaha menghidupkan kembali kampung dolanan di tengah masyarakat. Selain membutuhkan waktu yang lama, saat itu dampak yang diberikan juga tidak terlalu besar.
Berawal dari perjalanan kampung dolanannya itu, Wahyudi merasa bahwa pendekatannya yang berjalan dinilai kurang efektif. Untuk itu, ia mencoba peruntungan agar bisa melakukan pendekatan secara struktural, yakni dengan menjadi kepala desa. Menariknya, saat mencalonkan diri sebagai kepala desa, Wahyudi tidak memiliki modal besar di bidang material. Ia hanya membawa gagasan, niat yang tulus, dan modal sosial yang sudah dibangun selama delapan tahun.
Setidaknya dari perjuangannya di kampung dolanan, masyarakat memiliki referensi mengenai cara kerja dan sosoknya. Meletakkan semuanya dalam bentuk rekayasa sosial, Wahyudi tidak memasang target dalam pencalonan dirinya. Apakah dirinya terpilih atau tidak menjadi hal yang tidak penting, karena ia hanya berniat untuk mempengaruhi proses politik di desanya agar berjalan dengan baik.
“Kapasitas politik seorang pemimpin, itu tergantung dari proses politiknya. Kalau proses politiknya baik, itu dimungkinkan kapasitas politiknya dimungkinkan baik,” terang Wahyudi.
Bersihkan WC Kelurahan
Berhasil memenangkan kontestasi sebagai kepala desa, Wahyudi merasakan otoritas yang dimiliki bisa membawa hasil yang lebih besar dan cepat untuk masyarakat. Dengan jabatan yang ia miliki, Wahyudi kemudian coba membangun pola relasi antara negara dengan masyarakat.
Baca Juga: Respon Isu Tsunami 20 Meter, BPBD Bantul Gelar Simulasi Penanganan Bencana
Menurutnya, salah satu tugas negara adalah dalam pemenuhan hak-hak sipil warganya. Kemudian, bagaimana pemerintah mencukupkan kebutuhan warga negara dan menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Sebab, Wahyudi memandang jika relasi yang terjalin antara negara dan warga selama ini hanya sebagai hubungan administratif saja.
Hal pertama yang ia ubah dengan jabatan yang dimiliki, adalah pola relasi antara pemerintah desa dengan masyarakat. Ia mulai mengubah pola relasi tersebut dengan cara memperluas dimensi pelayanan dalam ruang pemerintahannya.
“Ketika seorang anak tidak bisa sekolah, ketika seorang ibu hamil tidak bisa mengakses fasilitas kesehatan itu jadi urusannya negara,” ujarnya.
Tak hanya itu, cara dan kebiasaan usang yang sudah turun temurun di lingkungan kerjanya juga turut diubah.
Ia mengungkapkan pernah pada awal masa kepemimpinan sempat membuat heboh pegawai kelurahan lantaran selalu datang lebih pagi dan pulang lebih sore daripada karyawan lainnya. Tidak hanya itu, mantan ketua senat mahasiswa fakultas farmasi UGM ini bahkan tidak segan untuk turun tangan membersihkan WC atau toilet.
Hal tersebut ia lakukan untuk memberikan contoh keteladanan kepada anak buahnya. Dari hal-hal kecil untuk membangun keteladanan itu ia berharap bisa memupuk kepercayaan masyarakat kepada aparat pemerintahan.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Bagaimana Cara Menonton Film Pesta Babi? Ini Syarat dan Prosedurnya
Pilihan
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
Terkini
-
Rupiah Melemah, Biaya Produksi Pertanian di Jogja Naik, Pemda DIY Siapkan Pemetaan Dampak ke Petani
-
Jogja Darurat Pendidikan: 5.023 Anak Putus Sekolah, Nasib Guru Honorer di Ujung Tanduk
-
Rupiah Tembus Rp17.600, Aisyiyah: Pernyataan Prabowo 'Desa Tak Butuh Dolar' Cederai Rakyat
-
Polisi Sebut Kasus Tewasnya Pelajar di Kawasan Kridosono Bukan Klitih, Tapi Perselisihan Antar Geng?
-
Update Kasus Daycare Little Aresha, Polresta Jogja Siapkan Pelimpahan 13 Tersangka ke Kejaksaan