SuaraJogja.id - Berdirinya Kabupaten Gunungkidul tidak bisa dilepaskan dari perjuangan seorang Demang, Ki Demang Wono Pawiro yang merupakan prajurit setia Raja Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat, Sri Sultan HB I. Kisah perjuangannya tersebut tergambar jelas di sebuah tempat yang masih terjaga keasliannya, Joglo Citakan.
Joglo Citakan, sebuah bangunan yang berada di Padukuhan Piyaman I Kalurahan Piyaman Kapanewonan Wonosari Gunungkidul. Joglo ini berada di sebelah utara Kapanewonan Wonosari, atau berjarak sekitar 5 kilometer dari pusat Alun-alun Wonosari.
Generasi Keenam Demang Wonopawiro, Basuki Wibowo Raharja mengungkapkan, Joglo Citakan telah ditetapkan sebagai benda Cagar Budaya oleh Bupati Gunungkidul Badingah melalui SK 2/75/KPPS. Bangunan ini berbentuk Joglo dengan gaya Mataram dan kini masih berupaya dijaga keaslian sebagai mana mestinya.
"4 Soko Guru masih utuh. tumpuk undak 5, dodok wesi ukir masih asli," ujarnya saat ditemui di Joglo Citakan, Senin (11/10/2020).
Tumpuk undak atau desain atas Joglo tersebut memiliki filosofi Lung Tinulung atau saling tolong menolong. Dengan hiasan ukiran berbentuk bunga Teratai yang menandai peralihan agama Hindu Budha ke Islam. Lung Tinulung dengan ukiran teratai jika dalam filosofi menggambarkan masyarakat Jawa itu memiliki sifat tolong menolong dengan tawaduk seperti bunga teratai yang selalu menampilkan makna. Di mana bunga teratai akan selalu berbunga indah di manapun ia tumbuh.
Lelaki yang akrab dipanggil Bowo inipun menjelaskan pihaknya sudah berupaya menjaga semua aspek sesuai dengan batas kemampuannya. Termasuk lampu utama di tengah Joglo masih original sampai sekarang. Kayu usuk masih utuh meskipun reng-nya sudah diganti karena lapuk dimakan usia. Demikian juga genteng masih ada beberapa yang utuh, asli sejak dahulu belum diganti.
Berdasarkan penelusurannya selama 5 tahun, Joglo Citakan tersebut didirikan oleh Ki Bagus Damar Wonopawiro sekitar tahun 1750. Ki Bagus Damar Wonopawiro adalah sebutan dari Wono Pawiro sebelum mendapatkan gelar Demang dari Kasultanan Ngayogyakarto Hadiningrat.
Bangunan tersebut berwujud arsitektur joglo mataram. Dari sisi soko guru sudah mulai rapuh dan tahun 2000 lalu sudah diganti dengan alasan mempertahankan kekokohan bangunan. Demikian penanggap soko penitih juga sudah dirubah. Joglo tersebut awalnya berada di bagian belakang rumah utama namun karena elevasinya lebih rendah maka dipondah ke bagian depan tahun 1970.
Bangunan Joglo Citakan tersebut awalnya bagian depan adalah lintring kemudian Joglo, pringgitan, limasan dan sebelahnnya kampung memanjang. Atas kepentingan waris dirubah dan Joglo dipertahankan di mana ada pintu yang masih disimpan di belakang sebagai bukti otentik.
Baca Juga: Tak Ada Klaster Kantor, Dinkes Bantul Tetap Lanjut Swab Massal
Di pintu depan ada dua cakruk (gardu) di mana masing-masing ada tempat tidur di sisi kanan kiri. Kemudian ada gerbang gapuran serta ada tempat penambatan kuda. Namun karena lapuk dimakan usia maka bangunan tersebut kini sudah tidak ada lagi.
"Joglo ini ada penambahan ada lintring dan limasan meski tidak otentik demi kepentingan waris. Originalnya itu disimpan,"tambahnya.
Ia menyebutkan, bangunan tersebut didirikan tahun 1750 sama dengan Pasar Paing Piyaman I. Kemudian pengelolaan dilakukan oleh putera tunggal Manginpawiro, Demang terakhir Piyaman. Dari Mangunpawiro jatuh ke putera ketiganya yaitu Kartoawito dan kemudian diwariskan ke putera kedua Rakidin Prawiro Miyarjo. Kemudian diwariskan ke Giyono Dwijo Sumarto terus ke Basuki Wibowo Raharja atau dirinya.
Wibowo menjelaskan, konstruksi bangunan Joglo Citakan tersebut berbahan kayu jati. Namun berdasarkan cerita yang telah diwariskan turun temurun, ketika Joglo Citakan didirikan tahun 1750, ternyata joglo tersebut bukan bangunan baru tetapi membeli joglo sudah ada, Joglo tersebut ternyata berasal dari Kajar yang dimiliki oleh Tuan Kajar.
"Bergaya khas Mataraman karena Yin Yangnya sangat terlihat keutuhannya,"terangnya.
Di dalam Joglo Citakan masih banyak benda-benda yang terjaga keasliannya. Selain ada lampu yang masih original, ada juga Gongso (Gong) di mana secara arsitektur biasanya berbentuk Nogoro (Naga) namun Gongso di Joglo Citakan berbentuk Buaya, dan itu diyakini nyaris sama dengan Gamelan Pusaka Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat, Guntur Geni.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lipstik Warna Apa yang Cocok di Usia 50-an? Ini 5 Pilihan agar Terlihat Fresh dan Lebih Muda
- 5 Rekomendasi Sampo Kemiri Penghitam Rambut dan Penghilang Uban, Mulai Rp10 Ribuan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- Adly Fairuz Nyamar Jadi Jenderal Ahmad, Tipu Korban Rp 3,6 Miliar dengan Janji Lolos Akpol
- Inara Rusli Lihat Bukti Video Syurnya dengan Insanul Fahmi: Burem, Gak Jelas
Pilihan
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
Terkini
-
Gengsi Maksimal, Dompet Santai! 4 Mobil Bekas Harga Rp60 Jutaan yang Bikin Melongo
-
Tak Kenal Pelapor, Muhammadiyah Minta Pandji Lebih Cermat dan Cek-Ricek Materi Stand Up
-
Trump Makin Dar-Der-Dor, Pakar Sebut Tatanan Dunia Terguncang, Picu Aksi Teroris
-
Kekecewaan Keluarga Diplomat Arya Daru usai Polisi Setop Penyelidikan, Ada Sederet Kejanggalan
-
Raih 333 Medali di SEA Games 2025, Atlet Indonesia Diperkuat Literasi Keuangan