SuaraJogja.id - Sampah plastik masih dan terus menjadi masalah global yang makin parah setiap harinya. Sampah yang sulit terurai itu bukan hal baru bagi persoalan yang mengintai lingkungan sejak lama.
Belum banyak pihak yang hingga saat ini sadar tentang pentingnya mengurangi sampah plastik dalam kegiatan sehari-hari. Hanya segelintir orang saja yang mulai memahami bahwa kerusakan lingkungan sudah berada di depan mata dan mau bergerak untuk mencegahnya.
Salah satu orang yang mulai tergerak untuk melakukan pemanfaatan sampah plastik adalah Dikko Andrey Kurniawan (24), pemuda asal Dusun Wirosutan, Desa Srigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul. Menyadari permasalahan sampah plastik yang tidak bisa selesai dengan sendirinya, Andrey bersama temannya membuat sebuah ide unik terkait dengan pemanfaatan sampah plastik.
Jika biasanya anak-anak muda sering terlihat melindungi handphonenya dengan sebuah casing yang memiliki cetakan bergambar atau bermotif unik, Andrey menawarkan inovasi lain. Masih serupa dengan casing handphone yang bermotif unik, tapi bedanya Andrey menghadirkan berbagai motif unik di casing handphone itu dari kumpulan tutup botol plastik hingga tas kresek yang dibuang begitu saja oleh orang lain.
Andrey mengatakan, awal munculnya ide inovasi pemanfaatan sampah plastik untuk casing handphone ini terjadi pada November 2019 lalu. Sebenarnya, bukan sampah plastik yang menjadi pilihan utama dalam produk yang ingin dibuatnya, melainkan kayu.
Namun melihat permasalah sampah plastik yang setiap hari menumpuk begitu saja di sekitar tempat tinggalnya, ide pemanfaatan itu muncul. Berangkat dari situ, Andrey dan temannya memantapkan langkah untuk membantu pelestarian lingkungan sekaligus membuat produk unik yang berasal dari sampah plastik.
"Bergerak di November 2019 tapi itu juga belum langsung jadi. Kita sebenarnya mau berangkat dari kayu, tapi kok lihat sampah plastik yang makin banyak membuat saya kepikiran. Akhirnya melalui riset terus-menerus, baru sampai bulan Maret 2020 kemarin casing handphone dengan sampah plastik ini dibuat," kata Andrey, kepada awak media, Jumat (23/10/2020).
Lulusan jurusan Manajemen Pendidikan yang hanya tinggal menunggu proses wisuda di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini menyebutkan, belum ada pemanfaatan sampah plastik untuk digunakan produk casing handphone sejauh ini. Hal itu yang membuatnya makin tertarik untuk bereksperimen dan berkreasi melalui sampah-sampah plastik tersebut walaupun sebenarnya Andrey sendiri tidak begitu asing dengan pemanfaatan limbah sebelumnya.
Sebelum menawarkan pemanfaatan sampah plastik yang digunakan untuk casing handphone tersebut, ia sudah terlebih dulu mengolah sampah keramik menjadi berbagai produk menarik, dari mulai pot, hingga kursi taman.
Baca Juga: Jembatan Sesek Tersapu Arus Sungai, Aktivitas Warga Ngentakrejo Terganggu
Untuk saat ini, Andrey sedang fokus untuk mempersiapkan produk casing handphone buatannya tersebut untuk ikut dalam pameran yang diselenggarakan di Bandara Yogyakarta International Airport (YIA). Produksi casing terus dilakukan untuk memenuhi target yang telah ditetapkan oleh panitia pameran sebelumnya.
"Itu kemarin program dari Dinas Koperasi dan UKM (Diskop UKM) DIY. Setelah lewat tahap pendaftaran hingga kurasi produk, ternyata produk kita diterima untuk bisa ikut dalam pameran atau display produk di Bandara YIA. Kita juga sedang mengurus Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) sehingga produk sudah dipatenkan," ucapnya.
Andrey menjelaskan, proses pembuatan casing dengan memanfaatkan sampah plastik itu memang perlu ketelatenan khusus. Di mulai dari memilah sampah plastik yang telah tersedia, dari tutup botol hingga kresek.
Setelah terkumpul, sampah-sampah itu akan dicacah menggunakan mesin yang sudah dibuat sendiri secara khusus. Selanjutnya, cacahan plastik tadi dicuci hingga bersih lalu dijemur hingga kandungan airnya hilang.
Baru sampah plastik tadi dilebur dengan alat khusus juga, yang dilakukan melalui proses pengepresan sesuai dengan bentuk casing handphonenya. Proses pembuatan tersebut berlangsung selama 7-10 hari pengerjaan.
"Dikerjakan berdua saja dengan temen. Sehari kalau bener-bener dikerjakan bisa produksi 4 sampai 5 buah casing," ujarnya.
Berita Terkait
-
Jembatan Sesek Tersapu Arus Sungai, Aktivitas Warga Ngentakrejo Terganggu
-
Wujudkan Ketahanan Pangan, BUMDes Guwosari Kembangkan Lahan Pertanian Alami
-
Dana Hibah Balik ke Pemkab Bantul, Geplak Gelar Doa Bersama di Parangkusumo
-
Jadi Wilayah Hilir, BMKG Minta Masyarakat Bantul Waspadai Dampak La Nina
-
Bawa Sabu, Dua Pengedar Ini Tak Berkutik Saat Disergap di Lampu Merah
Terpopuler
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- Akhir Dilema PCX vs Vario: Skutik Baru Honda Hadir Bawa Kamera Dashcam dan Mesin Lebih Buas
Pilihan
-
Prabowo Copot Dadan Hindayana, Nanik S Dayang Resmi Jadi Kepala BGN!
-
674 Korban Kebakaran Kemayoran Mengungsi, Posko Bantuan dan Layanan Kesehatan Disiagakan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
Terkini
-
Ratusan Driver Gojek Yogyakarta Turun ke Jalan, Loyalitas pada Sosok yang Dianggap Mengubah Nasib
-
Purna Tugas sebagai Rektor UII, Fathul Wahid Ditetapkan sebagai Rektor Rakyat
-
Lurah Aktif Condongcatur Ditetapkan Sebagai Tersangka, Dugaan Korupsi Tanah Kas Desa
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
BEM UGM Berubah Jadi SEMA, Pemilu Mahasiswa Dihapus dan Diganti Meritokrasi