SuaraJogja.id - Penyanyi Marzuki Mohamad ikut mengenang peristiwa erupsi Gunung Merapi tahun 2010. Ikut terjun sebagai relawan, Kill the DJ menyebut Gunung Merapi adalah guru yang mengajarkan banyak hal dan mempengaruhi cara pandangnya.
Melalui akun Instagram pribadinya @killthedj, pria kelahiran 21 Februari 1976 ini membagikan foto-foto lawas ketika bencana erupsi Gunung Merapi terjadi. Foto-foto itu diambil langsung oleh Marzuki melalui ponsel blackberrynya.
Terlihat dalam foto yang dibagikan, ia mengenakan kaus putih duduk di bagian belakang mobil bak terbuka. Dengan helm dan masker anti gas, Marzuki juga melengkapi keamanan dirinya dengan kacamata. Terlihat ada masker medis yang juga bergelayut di dagunya.
Selain itu, ada dua foto lainnya. Yakni pasukan gabungan dari berbabgai pihak yang mengangkat sebuah kantong warna putih diduga merupakan korban erupsi. Sementara foto lainnya adalah suasan di jalan, saat mobil melaju. Dimana jalan tak lagi terlihat, hanya tertutup abu vulkanik yang cukup tebal.
"Bagiku Merapi seperti guru yang mengajarkan banyak hal dan mempengaruhi cara pandang saya pada semesta kehidupan," tulis Marzuki dalam keterangannya.
Ia menyebutkan bahwa Gunung Merapi sudah seperti guru semesta untuknya. Terutama mengenai relasi manusia dengan semesta. Dari Merapi, ia percaya bahwa tidak ada bencana alam di muka bumi, sebab manusia hanyalah bagian dari alam semesta itu sendiri.
Sejak diunggah Selasa (27/10/2020), unggahan Marzuki itu sudah disukai lebih dari 3000 pengguna Instagram. Ada banyak komentar yang diberikan, ikut membagikan arti Merapi bagi mereka. Mulai dari jawaban serius hingga yang menggelitik.
"Merapi bagiku seperti wanita, dia memberikan kehidupan dan kesejukan. Erupsi itu bukan marah, tapi 'me time' ala gunung," tulis akun @reginasafri.
"Pentas sandiwara basa jawa keliling 6 posko pengungsian. Untuk menghibur warga merapi waktu itu (recovery)," komentar akun @elyandrawidharta.
Baca Juga: Hujan Semalaman, Talut Jembatan Bailey Penghubung Bantul-Gunungkidul Ambrol
"Pernah merasakan ini sewaktu masih sekolah SMP meskipun saya waktu itu bukan di Jogjanya tetapi sampai ke tempat saya di kebumen, itu dimana-mana abu semua karena hujan abu dan semuanya menjadi abu, daun pepohonan sawah-sawah semuanya menjadi abu, dan mau ke warung dekat pun harus pakai payung dan masker," tanggapan akun @febriraidz.
Sementara akun @heyri_ch16 mengatakan, "Merapi sing mbiyen isoh tak sawang seko solo saiki ketutupan gedung-gedung karo perumahan (Merapi yang dulu bisa aku lihat dari Solo sekarang ketutupan gedung-gedug dan perumahan-red)."
Berita Terkait
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 4 Bedak Padat Wardah yang Tahan 12 Jam, Coverage Tinggi dan Nyaman Dipakai Seharian
Pilihan
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
Terkini
-
Tanah Adat Dirampas, Konflik dengan Negara Kian Memanas, RUU Masyarakat Adat Mendesak Disahkan
-
Dua Dekade Gempa Jogja, Ancaman Megathrust dan Pentingnya Klaster Bencana
-
Dampak Konflik Geopolitik: Shamsi Ali Ungkap Bahaya Retorika Trump bagi Komunitas Muslim di Amerika
-
Leo Pictures Gelar Gala Premiere Terbesar: 'Jangan Buang Ibu' Bakal Sentuh Hati Penonton Indonesia
-
Rupiah Melemah, Purbaya Yakin Ekonomi Indonesia Tetap Kuat, Kurs Kembali ke Rp15 Ribu