Kalau orang bilang, "sudah 10 tahun ya, tidak terasa." Iya kamu tidak menjalani, saya yang menjalani ya kerasa. Dibilang berat ya berat, dibilang enteng ya enteng gitu to. Ya sudahlah, disyukuri saja, memang ini garis hidup saya seperti ini, tapi mungkin waktu itu Wawan ninggal saya sudah mantep gitu ya.
Jadi Wawan meninggal itu 26 oktober 2010, 35 hari kemudian itu bapak saya meninggal. Lalu setelah itu, kehidupan saya jalani seperti biasa. Cuma waktu itu memang Tuhan lagi membentuk saya, maksudnya masih menguji saya. Lalu setelah enam bulan, anak saya yang besar itu masuk ICU itu ada sekitar dua minggu. Banyak hal memang dalam kehidupan ini harus saya jalani. Namun di atas itu semua banyak hal yang harus saya syukuri. Mungkin saya kehilangan orang yang mengasihi saya dan saya kasihi, tapi kalau di agama saya, "jangan hanya melihat kedukaan yang kita hadapi, tapi lihat apa yang sebenarnya di balik peristiwa ini."
Tidak mudah karena saya seorang diri, dengan dua orang anak perempuan, di mana godaan zaman itu juga demikian hebatnya. Kemudian saya juga harus adil, di mana saat itu saya harus nengok anak saya di Bandung, tinggalkan anak saya yang kecil. Membagi waktu. Mungkin orang melihatnya enak.
Banyak yang bilang Wawan itu mati konyol, tapi bagi saya enggak, jarang ada orang yang mau berkorban seperti dia, tapi saya tidak pernah mendengarkan kata orang karena kalau kata orang itu kita simpan, yang sakit itu kita sendiri.
Baca Juga: Aktivitas Merapi Meningkat, Desa Bersaudara Siapkan Lokasi Pengungsian
Setelah peristiwa itu, apakah Ibu mengalami trauma? Bagaimana upaya untuk berdamai dengan itu?
Trauma ya pasti ada, tapi enggak yang gimana gitu ya. Takut pasti, tapi ya harus menguatkan diri sendiri. Kalau saya nangis-nangis kan kasihan anak saya. Jadi gimana saya harus menahan. Ya sudah kita terima saja. Kalau kita menghadapi situasi, Tuhan enggak mau kasih kita cobaan atau apa, Tuhan cuma mau tahu "kamu bisa enggak melewati ini." Banyak masalah datang dan pergi, tapi ya bersyukur kita bisa melewati ini. Saya sudah melewati ini bukan sehari dua hari, sudah bertahun-tahun. Sekarang saja bisa, besok juga pasti bisa.
Kalau berkunjung ke Merapi, bagaimana perasaan Ibu?
Engggak ada masalah, tapi waktu lihat fotonya Wawan di Museum Mbah Maridjan, saya bisa ndeprok [terduduk di tanah], enggak bisa berdiri. Saya dibopong temen saya, dibilang, "ndadak rene barang ke yo ngopo [pakai ke sini segala itu ya ngapain]," tapi yang namanya mengumpulkan keberanian kan ya.
Sebelum pandemi sempat ajak anak-anak. Engak ada masalah kalau anak yang besar. Anak yang kecil enggak mau. Anak kecil langsung duduk di pendopo depan rumah Mbah Maridjan. Dia enggak mau. Anak yang kecil dekat sekali dengan ayahnya.
Baca Juga: Rumahnya Diterjang Awan Panas, Bagong Selamat Berkat Lemari Tua
Berita Terkait
-
Sejarah Erupsi Gunung Lewotobi dari Masa ke Masa, Terbaru Telan 10 Nyawa
-
Aktivitas Gunung Merapi Intensif, Ratusan Guguran Lava dan Awan Panas Ancam Zona Bahaya
-
Deretan Mitos Erupsi Merapi Ini Muncul Lagi Kala Wedhus Gembel Membumbung
-
"Cukup sampai Di Sini" Bupati Magelang Minta Warga Waspada Erupsi Merapi
-
Kegiatan Belajar Mengajar Tetap Berlangsung Pasca Hujan Abu Erupsi Gunung Merapi
Terpopuler
- Menguak Sisi Gelap Mobil Listrik: Pembelajaran Penting dari Tragedi Ioniq 5 N di Tol JORR
- Kode Redeem FF SG2 Gurun Pasir yang Aktif, Langsung Klaim Sekarang Hadiahnya
- Dibanderol Setara Yamaha NMAX Turbo, Motor Adventure Suzuki Ini Siap Temani Petualangan
- Daftar Lengkap HP Xiaomi yang Memenuhi Syarat Dapat HyperOS 3 Android 16
- Xiaomi 15 Ultra Bawa Performa Jempolan dan Kamera Leica, Segini Harga Jual di Indonesia
Pilihan
-
Duel Kevin Diks vs Laurin Ulrich, Pemain Keturunan Indonesia di Bundesliga
-
Detik-detik Jose Mourinho Remas Hidung Pelatih Galatasaray: Tito Vilanova Jilid II
-
Nilai Tukar Rupiah Terjun Bebas! Trump Beri 'Pukulan' Tarif 32 Persen ke Indonesia
-
Harga Emas Antam Lompat Tinggi di Libur Lebaran Jadi Rp1.836.000/Gram
-
7 Rekomendasi HP 5G Murah Terupdate April 2025, Mulai Rp 2 Jutaan
Terkini
-
Mudik ke Jogja? BPBD Ingatkan Potensi Bencana Alam: Pantai Selatan Paling Rawan
-
Libur Lebaran di Gembira Loka, Target 10 Ribu Pengunjung Sehari, Ini Tips Amannya
-
Arus Lalin di Simpang Stadion Kridosono Tak Macet, APILL Portable Belum Difungsikan Optimal
-
Kunjungan Wisatawan saat Libur Lebaran di Gunungkidul Menurun, Dispar Ungkap Sebabnya
-
H+2 Lebaran, Pergerakan Manusia ke Yogyakarta Masih Tinggi