SuaraJogja.id - Sebanyak 75 calon lurah yang berkompetisi pada Pemilihan Lurah Se-Kabupaten Bantul langsung dikarantina di tempat tertentu usai menggugurkan hak pilihnya. Hal itu dilakukan sebagai antisipasi potensi bentrokan.
Kepala Bagian Hukum Sekretariat Daerah (Setda) Bantul Suparman mengatakan, memang tidak ada pasal yang mewajibkan karantina kepada calon lurah, tetapi kebijakan itu diserahkan sepenuhnya kepada masing-masing panitia Pemilihan Lurah dan kapanewon setempat.
"Kebijakan sejatinya tergantung panewu masing-masing. Tujuan dari karantina sendiri adalah untuk mengendalikan kontestan dan mengantisipasi adanya kerawanan. Mereka biasa dikumpulkan di kantor panewu. Selain itu, alat komunikasi mereka juga dikumpulkan. Ini sebagai upaya antisipasi potensi kerawanan,” kata Suparman, dihubungi wartawan, Minggu (27/12/2020).
Suparman menyatakan, kebijakan karantina itu dilakukan karena khawatir jika semua calon lurah dibebaskan berkeliaran selama proses pemungutan suara akan menimbulkan potensi suasana memanas usai pemungutan suara berlangsung.
Oleh sebab itu, mereka ditempatkan di satu tempat khusus, steril dari para pendukung, dan harus dijaga aparat keamanan.
Kebijakan karantina kepada calon lurah diberlakukan di Kalurahan Pendowoharjo, Kapanewon Sewon, Bantul.
Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Tempat Pemungutan Suara (TPS) 9 Karanggondang, Pendowoharjo, Budi Eko Cahyono, menjelaskan, kebijakan karantina itu memang sudah dilakukan pada pemilihan lurah 2 tahun sebelumnya.
"Iya calon lurah ditempatkan khusus setelah mereka melakukan pencoblosan di TPS-nya. Namun tempatnya tergantung dari pihak desa dan kecamatan," ungkap dia.
Pihaknya tak menampik kebijakan itu untuk menanggulangi adanya potensi kerawanan atau hal yang tak diinginkan.
Baca Juga: Kurangi Sampah Plastik, Pemilihan Lurah di Bantul Gunakan Tusuk Sate
"Jadi calon ini diharapkan bisa menjaga suasana kondusif. Apalagi bisa menimbulkan hal yang tak diinginkan," jelas dia.
Budi menjelaskan di TPS 9, terdapat 341 Daftar Pemilihan Tetap (DPT). Hingga pukul 11.30 WIB, sudah ada 200 warga yang menggunakan hak suaranya.
Pemilihan dilakukan sesuai protokol kesehatan sama seperti Pilkada Bupati-Wakil Bupati Bantul 2020.
"Mereka wajib pakai masker sebelum masuk ke TPS, lalu mencuci tangan, cek suhu tubuh. Selanjutnya kami berikan sarung tangan plastik dan diarahkan ke bilik suara untuk mencoblos," ungkapnya.
Prediksi pemungutan suara selesai sekitar pukul 13.00 WIB. Selanjutnya penghitungan suara dilakukan di masing-masing TPS.
"Prediksi pukul 13.00 selesai pemungutan suaranya. Kira-kira sore selesai penghitungan suaranya dan kami serahkan ke pihak desa," ujar Budi.
Berita Terkait
-
Cegah Covid-19, Destinasi Wisata di Piyungan Dibatasi Hingga Pukul 21.00
-
Hong Kong Perpanjang Masa Karantina bagi Pendatang, Menjadi 21 Hari
-
Tak Ada Aturan Kampanye di Media Online, Pemkab Bantul Akui Sulit Awasi
-
Natal di Tengah Pandemi, Daru Rayakan Tanpa Keluarga Besar
-
Tak Mahir Renang, Sulastiyono Tewas Tenggelam saat Mancing di Sungai Progo
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Jelang COP31, Jaringan Orang Muda Kritik Eksploitasi Alam di Jogja, Rakyat yang Tanggung Akibatnya
-
Korban Luka Kericuhan Malioboro Capai 116 Orang, 13 Jalani Dirawat Inap
-
Bukti Negara Hadir Tingkatkan Kesehatan Masyarakat: Program CKG Sudah Deteksi Medis 105 Juta Orang
-
Usung Pelestarian Budaya Berkelanjutan, Ini Rangkaian Acara Tentrem Cultural Week 2026
-
JPW Pertanyakan Sikap Humanis Polda DIY: Ada Pelempar Berlindung di Balik Barikade Polisi