SuaraJogja.id - Sejumlah guru dan tenaga kependidikan (tendik) yang memiliki usia lebih dari 35 tahun di Kabupaten Sleman menuntut perbaikan nasib dan kenaikan status. Mereka mengusulkan agar bisa diangkat menjadi PNS, lewat jalur yang mempertimbangkan prestasi dan masa pengabdian mereka.
Lewat paguyuban Guru dan Tenaga Kependidikan Honorer Non Kategori Usia 35 Tahun Ke Atas (GTHNK35+), mereka juga mendorong agar tendik bisa diikutkan dalam seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K).
Ketua Paguyuban GTKHNK35+ Sleman Syaiful Anam menyebut, pihaknya mendorong Pemkab Sleman agar bisa meminta pemerintah pusat untuk mengeluarkan keppres. Keppres itu tentunya berisikan apresiasi pemerintah atas prestasi dan dedikasi pengabdian para guru dan tendik GTKHNK35+.
"Agar bisa diikutkan rekrutmen CPNS dan PPPK tahun ini," terangnya, Senin (12/4/2021).
Dalam data milik Badan Kepegawaian Pelatihan Pendidikan (BKPP) Sleman yang dikutipnya, ada sebanyak 500 tendik dari total 1.593 guru dan tendik di Sleman.
Syaiful menyatakan, selain menjadi proktor saat ujian berbasis komputer atau operator sekolah, ada di antara tendik menjadi tenaga tata usaha (TU). Menurut paguyuban, peran TU juga tak bisa diabaikan.
"Tanpa sistem pengelolaan yang baik di TU, kegiatan sekolah tidak mampu berjalan dengan baik. Jangan hanya guru, kami tenaga TU sudah lama mengabdi namun tak kunjung mendapat penghargaan. Statusnya masih honorer terus," ungkapnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Sleman Ery Widaryana menjelaskan, regulasi bagi tendik diatur oleh pemerintah pusat dan hingga kini masih belum ada. Kecuali regulasi yang mengatur seleksi P3K maupun CPNS bagi guru.
Ery menyebut, Disdik sudah pernah mengusulkan agar tendik bisa diikutkan dalam seleksi P3K. Caranya, dengan memberikan rekomendasi kepada pemerintah pusat.
Baca Juga: Naik Motor Trail Rakitan Demi Pergi Mengajar, Guru Honorer Ini Bikin Salut
"Kami sebatas memberikan dukungan, usulan. Kalau dari pusat sudah klir dan bisa, tentu kami akan mengusulkan formasi," terangnya.
Namun demikian, keputusan menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) yang bisa mengakomodasi para tendik adalah wewenang Presiden RI.
"Kami sudah mengusulkan sekitar 1.100 orang dan sebanyak 300 orang sudah di angkat pada 2019 sebagai tenaga P3K. Untuk 2021 ini, formasi yang diusulkan sekitar 800 tendik. Itu untuk wali kelas dan guru mata pelajaran yang memang formasinya ada dan masuk daftar boarding minimal dua tahun," paparnya.
Namun, pengangkatan itu ditentukan oleh pemerintah pusat, melalui seleksi layaknya aparatur sipil negara (ASN). Ery mengulang, seleksi P3K yang regulasinya sudah ada, diperuntukkan bagi guru kelas serta guru mata pelajaran tertentu, dan belum ada informasi yang diperuntukkan spesifik bagi bagi pegawai TU.
"Kalau usia 35 plus bisa mengikuti seleksi P3K, karena itu berlaku sampai usia maksimal 59 tahun. Kalau batasan maksimal CPNS 35 tahun. Untuk data 800 tendik, kami masih menunggu keluarnya formasi dari pusat," terangnya.
Kontributor : Uli Febriarni
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil dan Pekerjaan Jhon LBF, Siap Bantu Ruben Onsu Bayar Kerugian Rp3,5 M
- 3 Shio yang Menarik Keberuntungan Sepanjang September 2026, Hoki Sebulan Penuh
- Cara Membersihkan Bunga Es Tanpa Mematikan Kulkas, Aman dan Mudah Dilakukan
- 4 Tips Merebus Telur agar Mudah Dikupas, Hasil Mulus Sempurna
- 3 HP Infinix Mirip iPhone 17 Pro Max, Tampil Mewah ala Flagship
Pilihan
-
Terbuang dari Klub Orang Indonesia, Emil Audero Selangkah Lagi ke Rayo Vallecano
-
Sempat Serukan Serang Hercules! Admin Akun Pemukiman Setan Ditangkap Polisi karena Molotov
-
Pidato Pertama Sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Kikin Berseloroh: Baru Dua Jam Saja
-
Jalani Ritual di Danau Sunter, WNA Aljazair Dievakuasi Setelah Dirayu 3 Jam
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
Terkini
-
Aksi di Simpang Gramedia Jogja Diwarnai Saling Dorong, Peserta Aksi hingga Polisi Terluka
-
Kronologi Lengkap Aksi Simpang Gramedia Jogja, Sempat Alot Berdialog, hingga Dipukul Mundur Warga
-
Demo Berujung Bentrok di Simpang Gramedia Jogja, 6 Mahasiswa Dilarikan ke RS Panti Rapih
-
Tanah Rp2 Miliar Dilelang Cuma Rp420 Juta, Warga Kulon Progo Gugat BUMN Lembaga Pinjaman
-
Ormas Terlibat Kekerasan, Muhammadiyah Desak Polisi Tak Tebang Pilih