SuaraJogja.id - Masih minimnya kunjungan yang masuk ke destinasi wisata Tebing Breksi membuat pedagang makanan yang ada di lokasi tersebut ikut terdampak. Hingga kini tidak jarang sejumlah pedagang memilih untuk tidak membuka warungnya setiap saat.
Pengelola Tebing Wisata Breksi, Suharno mengakui dampak sepinya kunjungan wisatawan memang cukup terasa. Tidak hanya bagi pengelola tapi juga bagi para pedagang yang membuka warung di sekitar lokasi Tebing Breksi.
Bagaimana tidak, sejumlah warung bahkan memilih untuk tidak berjualan beberapa waktu akibat sepinya kunjungan. Beberapa warung memilih untuk lebih selektif dalam membuka warungnya.
"Bukan ada lagi tapi banyak pedagang yang memilih tidak berjualan," kata Suharno saat ditemui awak media, Minggu (6/6/2021).
Suharno menyebut setidaknya terdapat 40-50 lapak yang ada di Tebing Breksi. Dari jumlah tersebut tidak semua pedagang memilih untuk setiap hari membuka lapaknya.
Menurutnya selain kunjungan wisatawan yang masih minim. Daya beli masyarakat atau wisatawan yang datang tidak sebesar dulu di saat normal.
Pasalnya tidak jarang ditemui banyak wisatawan yang lebih memilih untuk membawa bekal makanan tersendiri dari rumah ketimbang harus mengeluarkan uang untuk jajan di tempat wisatawan.
"Selama pandemi meskipun udah buka dan wisatawan sudah ada tapi memilih membawa makanan sendiri-sendiri. Jadi itu kadang juga banyak yang tidak laku," tuturnya.
Dikatakan, Suharno, pedagang yang mayoritas berasal dari warga sekitar itu memilih melihat terlebih dulu potensi kunjungan wisatawan yang datang pada waktu tertentu. Misalnya saja pada akhir pekan yang lebih banyak mendatangkan pengunjung dibanding hari biasa.
Baca Juga: Belum Rekrut Pemain Asing, PSS Sleman Tunggu Regulasi Resmi
"Ini ada yang buka baru 2 minggu. Ada yang bukanya hanya sabtu minggu. Ada yang setiap hari tapi ada juga yang tidak setiap hari buka," ungkapnya.
Kendati begitu pihak pengelola tetap melakukan pengawasan terkait dengan dagangan yang ada di wilayah Tebing Breksi. Pihaknya tidak ingin kejadian curhatan wisatawan yang akhirnya viral terjadi lagi.
Salah satu yang dilakukan adalah terkait dengan koordinasi yang baik di semua lini. Khususnya antara pengelola hingga penjual makanan yang ada di lokasi tersebut.
"Mengantisipasi hal semacam itu, kalau dari pengelola sudah ada aturannya sendiri. Misal harga makanan itu harus standar, di depan ada menu dan harga," tuturnya.
Pemberian menu dan harga di setiap warung itu guna mengantisipasi keluhan wisatawan terkait harga yang kadang tidak transparan hingga terkesan 'nuthuk' bagi yang membeli.
Sebagai langkah tegas, kata Suharno, pihaknya juga telah menyiapkan petugas keamanan. Nantinya bagi wisatawan yang mengalami kejadian kurang menyenangkan atau tidak sesuai dengan aturan yang ada bisa langsung melapor.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Teror May Day di Jogja: Mahasiswa Dikeroyok Preman Diduga Ormas, HP Dirampas Saat Rekam Aksi Brutal
-
Kawal Kasus Little Aresha, Orang Tua Korban Dorong Penambahan Pasal Berlapis dan Hak Restitusi
-
Siklus Megathrust Pulau Jawa Tinggal 30 Tahun, Pakar Kegempaan Ingatkan Kesiapsiagaan DIY
-
Niat Keluar Cari Sasaran, Komplotan Remaja Bacok Pemuda di Jalan Godean Sleman
-
Efisiensi Anggaran Bikin Pekerja Seni di Jogja Kelimpungan, Berburu Hibah demi Bertahan Hidup