Scroll untuk membaca artikel
Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana | Mutiara Rizka Maulina
Jum'at, 11 Juni 2021 | 16:57 WIB
Dosen Fakultas Hukum UGM Muhammad Rifky Wicaksono ditemui di ruang kerjanya, Jumat (11/6/2021). - (SuaraJogja.id/Mutiara Rizka)

Di balik kegagalannya yang membuat pemenang berbagai kompetisi debate ini terpuruk, Rifky bersyukur kedua orangtuanya tetap memberikan dukungan. Meski anak semata wayangnya gagal, ayah dan ibu Rifky tidak menganggap putra mereka sebagai sosok yang gagal menjalani hidup. Justru lingkungan Rifky membesarkan hatinya dengan mengatakan jika kegagalannya adalah bagian atau proses dari kehidupan itu sendiri.

Untuknya yang masih berusia 17 tahun kala itu, mendengar dirinya gagal seolah dunianya terbalik atau berputar 180 derajat. Selama masa SMA, Rifky dan teman satu timnya banyak menorehkan prestasi. Ia bahkan selalu diapresiasi dan dipuji orang sekelilingnya. Kegagalan menjalani ujian adalah kegagalan terburuk pertama yang dijalani Rifky selama 17 tahun hidup dulu.

Ia merasa sangat terkejut dan sedih. Terutama ketika melihat air mata ibunya menetes akibat hal itu. Beruntungnya, ia dikelilingi oleh orang-orang yang tak lelah membagikan dukungan. Satu hal yang baru ia tahu dewasa ini, wali kelasnya saat SMA bahkan melindungi Rifky agar jangan sampai kegagalan yang membuatnya terpuruk itu diekspos oleh media.

Sebagai anak satu-satunya, sejak kecil Rifky selalu merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga nama baik dan kebanggaan bagi pasangan suami istri yang telah melahirkan dan membesarkannya hingga kini. Beruntungnya, saat itu ada ujian ulangan yang membantu Rifky agar bisa dinyatakan lulus dari jenjang menengah ke atas.

Baca Juga: Virus Corona Bermutasi, Dosen UGM Sebut Transimisi ke Manusia Lebih Tinggi

Satu bulan setelahnya, pada bulan Mei 2010 di tanggal awal pelaksaan UN, Rifky menjalani ujian ulangan untuk mata pelajaran matematika. Demi menebus kegagalanny, bapak satu orang anak ini belajar mati-matian dari pagi sampai petang. Ia juga mendaftarkan diri di bimbingan belajar untuk menambah persiapannya.

Dalam masa-masa dirinya mencoba bangkit dari keterpurukan, Rifky mencoba membaca biografi dari berbagai tokoh sukses yang juga pernah mengalami kegagalan. Seperti Thomas Alfa Edison dengan 1000 percobaannya menemukan lampu. Kemudian Bill Gates yang sempat dikeluarkan dari universitas dan juga Steve Jobs ditendang dari kampungnya sendiri.

"Saya semacam mencari harapan dari kisah-kisah oranglain. Kalau boleh jujur, ini juga alasan saya kenapa akhirnya membuka kisah ini," kata Rifky.

Selain teman dan keluarga terdekat, sejatinya tidak banyak yang tahu mengenai fase terpuruknya Rifky saat gagal menempuh ujian. Setelah berlalu sepuluh tahun lamanya, dan mengingat bagaimana kisah kegagalan orang lain memberikan harapan untuknya, Rifky lantas ingin juga membeberkan kisahnya. Ia berharap kisah gagalnya ini bisa memberikan harapan untuk orang yang sedang putus asa atau merasa gagal.

Meski sempat gagal ujian, Rifky sebenarnya sudah diterima di Fakultas Hukum UGM melalui International Undergraduate Program. Kecintaannya kepada dunia hukum datang dari berbagai lomba debate yang diikuti. Berbagai mosi yang digunakan dalam kompetisi banyak datang dari bidang hukum. Hal itulah yang menuntun Rifky akhirnya memilih menjadi mahasiswa hukum dan menuntaskannya tepat selama empat tahun.

Baca Juga: Dosen UGM Ungkap Isi Buku Bacaan Anies Baswedan, Warganet Teringat FPI

Selesai menempuh jenjang strata satu, Rifky sempat mengabdi sebagai pengacara di Assegaf Hamzah and Partners. Dua belas bulan berlalu, pria yang senang berdiskusi dan membagikan pengetahuannya ini merasa lebih menyukai dunia pendidikan. Rifky merasa, untuk jangka panjang dirinya memiliki minat di dunia pendidikan. Setelah berdiskusi dengan Dekan Fakultas Hukum, Rifky akhirnya diberi tanggung jawab sebagai asisten dosen.

Load More