SuaraJogja.id - Warga Padukuhan Wonosobo Kalurahan Banjarejo Kapanewon Tanjungsari, Gunungkidul dibuat resah. Pasalnya, mereka terpaksa memakamkan jenazah Ny M warga setempat yang sebelumnya dinyatakan reaktif tes swab oleh rumah sakit yang merawatnya tanpa prosedur standar Covid-19.
Marjoko yang merupakan tetangga dan warga setempat menyebutkan saat pemakaman, tidak ada satu relawanpun yang hadir untuk mendampingi. Warga terpaksa memakamkan dengan protokol kesehatan semampu mereka.
Ia menyebutkan keresahan warga bermula ketika M, wanita berumur 50 tahunan asal Padukuhan Wonosobo Kalurahan Banjarejo ini, Senin (21/6/2021) sore dikabarkan meninggal dunia. Sebelum M meninggal pihak rumah sakit menyebut jika status M adalah reaktif tes swab.
"Senin sore ambulans datang membawa jenazah dan langsung ke pemakaman,"ujarnya, Selasa (22/6/2021) malam.
Ambulans dari rumah sakit tersebut langsung menuju ke tempat pemakaman umum yang sedianya digunakan untuk memakamkan M. Saat membawa jenazah M, petugas ambulans mengenakan pakaian hanzmat lengkap.
Dengan pakaian APD lengkap, petugas pembawa ambulans langsung menurunkan jenazah dan menyerahkannya ke warga. Ambulans langsung pergi usai menyerahkan jenazah tersebut ke warga untuk dimakamkan.
Warga merasa heran karena tidak ada relawan covid-19 baik dari Kalurahan, kapanewon ataupun Kabupaten yang mendampingi. Bahkan saat pemakaman juga tidak ada relawan yang terjun langsung. Padahal apabila jenazah statusnya reaktif maka semestinya dimakamkan dengan prosedur covid-19.
Warga pun memutuskan untuk memakamkan jenazah itu sendiri meskipun belum mengetahui prosedur pemakaman covid-19. Warga akhirnya meminta bantuan posko di pantai untuk meminta jas hujan (mantol) sekali pakai dengan harapan bisa melindungi mereka dari paparan covid-19.
"Kami tetap berusaha prokes semampu kami. Pakai sarung tangan kemudian mantol sekali pakai. Alat itu setelah selesai langsung kami kubur bersama jenazah," tambahnya.
Baca Juga: Ketahuan Reaktif Covid-19 dari Tes Acak KAI, 5 Penumpang Dilarang Naik KRL
Marjoko menambahkan, saat mendengar kabar Ny M meninggal, banyak warga yang melayat di rumah duka. Hingga hari kedua usai pemakaman, belum ada pihak Sat Gas Kalurahan ataupun Kapanewon yang datang menanyakan perihal tersebut. Pihaknya berharap tidak terjadi paparan covid-19 ke warga lain terutama dirinya dan rekan-rekannya yang turut serta memakamkan jenazah M.
Menurut Marjoko, Ny M sebenarnya sudah sakit cukup lama. Hanya saja beberapa pekan yang lalu kakak kandungnya meninggal dunia. Setelah itu M langsung drop dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit Panti Rahayu di Kelor Kapanewon Karangmojo.
"Beliau dirawat di sana (RS Panti Rahayu) hari Senin pekan lalu,"tutur Marjoko.
Terpisah, Panewu Tanjungsari, Rakhmadian Wijayanto mengaku belum mengetahui jika ada warga yang memakamkan jenazah positif Covid-19 tanpa didampingi relawan. Pihaknya masih menelusuri kebenaran jika jenazah yang dimakamkan tersebut benar-benar positif Covid-19.
Sepanjang yang ia tahu ketika ada pasien positif Covid-19 yang meninggal dunia, pihak rumah sakit langsung berkoordinasi dengan relawan. Minimal untuk pemakaman jenazah positif Covid-19 dilaksanakan oleh relawan tersebut. Namun untuk kasus di Wonosobo ini memang perlu dipertanyakan kebenarannya.
"Saya masih telusuri itu,"tandasnya.
Tag
Berita Terkait
-
Mengendap di Gudang Farmasi, Ribuan Vaksin AstraZeneca di Gunungkidul Nyaris Kedaluwarsa
-
Uji Nyali Makan Belalang Goreng, Kuliner Ekstrem Asal Gunungkidul
-
Stok Oksigen RS Rujukan Covid-19 di Gunungkidul Menipis, Sebulan Butuh 7 Juta Liter
-
Langgar Prokes, Hajatan Mewah Tokoh Masyarakat di Gunungkidul Dibubarkan
Terpopuler
- Alur Lengkap Kasus Dugaan Korupsi Dana Hibah Pariwisata Sleman yang Libatkan Eks Bupati Sri Purnomo
- 36 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 22 Januari: Klaim TOTY 115-117, Voucher, dan Gems
- Lula Lahfah Pacar Reza Arap Meninggal Dunia
- Kenapa Angin Kencang Hari Ini Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia? Simak Penjelasan BMKG
- Menanti Kabar, Ini Sosok Dua Istri Pilot Andy Dahananto Korban Kecelakaan ATR 42-500
Pilihan
-
ESDM: Harga Timah Dunia Melejit ke US$ 51.000 Gara-Gara Keran Selundupan Ditutup
-
300 Perusahaan Batu Bara Belum Kantongi Izin RKAB 2026
-
Harga Emas Bisa Tembus Rp168 Juta
-
Fit and Proper Test BI: Solikin M Juhro Ungkap Alasan Kredit Loyo Meski Purbaya Banjiri Likuiditas
-
Dompet Kelas Menengah Makin Memprihatinkan, Mengapa Kondisi Ekonomi Tak Seindah yang Diucapkan?
Terkini
-
Anti Hujan! 10 Destinasi Wisata Indoor Jogja Paling Asyik untuk Liburan Keluarga
-
3 Rekomendasi SUV Bekas, Type Premium Bisa Dibawa Pulang dengan Modal Rp80 Jutaan
-
Demi Keselamatan Publik! Mahasiswa UMY Gugat UU LLAJ ke MK Setelah Jadi Korban Puntung Rokok
-
Harda Kiswaya di Persidangan: Hibah Tak Pernah Dikaitkan Pilkada
-
7 Fakta Panas Sidang Korupsi Dana Hibah Pariwisata Sleman: Bupati Harda Kiswaya Terlibat?