Galih Priatmojo
Minggu, 08 Agustus 2021 | 14:14 WIB
Ilustrasi pertanian (pixabay)

SuaraJogja.id - Pertanian menjadi salah satu sektor yang terus dibutuhkan di masa pandemi COVID-19 di DIY. Produksi pertanian sektor tanaman pangan dan hortikultura mengalami kenaikan di DIY karena kebutuhan masyarakat pada masa pandemi, terutama untuk komoditas tanaman pangan seperti beras dan komoditas hortikultura sayur-mayur.

Namun harga pasar yang tidak stabil dikhawatirkan membuat petani dirugikan. Padahal saat ini komoditas pangan dan pertanian tersebut banyak digunakan untuk donasi dan bantuan sosial (bansos) dari pemerintah maupun swasta.

"Jaminan ketersediaan sarana dan prasarana dan jaminan harga pasar yang stabil merupakan dua hal yang sangat penting saat ini," ujar Plt. Asisten Sekretaris Daerah Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Sleman, Budiharjo dalam diskusi virtual Pertanian di DIY, Sabtu (07/08/2021) sore.

Menurut Budiharjo, sarana dan prasarana di tingkat produsen menjadi faktor tingginya biaya produksi. Persoalan ini harus segera ditangani agar tidak semakin merugikan petani.

Belum lagi persoalan minimnya jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) yang berusia produktif di sektor pertanian. Banyak generasi muda yang kurang tertarik bekerja di sektor pertanian.

Berdasarkan catatan Kementerian Pertanian, jumlah petani di Indonesia saat ini mencapai 38 juta orang. Namun dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen diantaranya merupakan petani yang sudah berusia diatas 40-45 tahun dengan tingkat pendidikan yang rendah. Keterbatasan tingkat pendidikan menyulitkan untuk mengembangkan sektor pertanian di masa pandemi ini.

"Pertanian dinilai kurang menjanjikan dan terkesan kuno," ujarnya.

Hal senada disampaikan Dekan Fakultas Peternakan UGM, Ali Agus yang mengungkapkan produktivitas peternakan Indonesia masih kalah jauh dari Brazil. Negara tersebut mampu menyuplai kebutuhan pangan di sektor peternakan ke seluruh dunia.

"Produk-produk ayam dan sapi dari brazil masuk ke seluruh dunia. Ini perlu ditiru [indonesia] kenapa brazil bisa seperti itu," ungkapnya.

Baca Juga: Soroti Kematian Akibat Covid-19 Masih Tinggi, DPRD Sentil Kinerja Pemda DIY

Salah satu kesuksesan Brazil di sektor peternakan karena SDM mereka. Karenanya SDM di Indonesia perlu disiapkan untuk mau terjun di sektor peternakan dan pertanian selain kesiapan lahan, inovasi, teknologi dan regulasi dari pengambil kebijakan.

Bonus demografi yang dimiliki Indonesia harus dimanfaatkan secara maksimal dalam pengembangan sektor peternakan dan pertanian. Tingkat pendidikan SDM pun perlu ditingkatkan karena kebanyakan baru di tingkat SD dan SMP.

"Ini jadi tantangan tersendiri bagaimana pengembangan tingkat pendidikan sdm bidang [peternakan] ini," ungkapnya.

Sementara CEO Swasembada Enterprise, Mahardika Agil Bimasono mengatakan, peran katalisator pembangunan sektor pertanian menuju kemandirian pangan bagi Indonesia sangat dibutuhkan. Sebab citra pertanian dan peternakan sering dianggap sebagai bisnis yang tidak menguntungkan.

"Ada beragam tantangan pada proses implementasi pengembangan usaha agrikultur yang selama ini dijalankan, di antaranya masih didominasi oleh sistem teknologi dan budidaya konvensional," tandasnya.

Melalui peran katalisator, diharapkan kaum milenial bisa melihat sektor pertanian sebagai bisnis yang sangat menjanjikan. Sektor pertanian harus didekatkan pada generasi muda denganmenghimpun dan berkolaborasi dengan stakeholder berpengalaman.

Load More