SuaraJogja.id - Dua bulan lebih, obyek wisata Pantai Parangtritis dan Depok ditutup oleh pemerintah. Penyekatan akibat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) oleh pemerintah mengakibatkan tidak ada wisatawan yang masuk ke dua objek wisata tersebut.
Dua bulan lebih para pelaku wisata di kawasan dua objek wisata terkenal tersebut sama sekali tidak mendapatkan pemasukan.
Berbagai macam upaya mereka lakukan untuk dapat bertahan hidup selama wisatawan belum diperkenankan masuk ke Parangtritis dan Depok.
Salah satunya adalah Amin, pemilik warung makan di kawasan Pantai Parangtritis dan Pantai Depok.
Wanita ini sudah mulai kehabisan tabungan, bahkan ia terpaksa menjual beberapa perhiasan yang dimilikinya dari hasil usaha warung makan tersebut. Meskipun tak seberapa namun bisa bertahan untuk makan.
"Saya sudah mulai menjual emas ya kayak cincin atau gelang," ujarnya, Senin (6/9/2021).
Bagaimana tidak, hal tersebut terpaksa ia lakukan karena sama sekali tidak ada pemasukan. Di satu sisi anaknya sudah mulai masuk kuliah sehingga membutuhkan dana yang tidak sedikit. Warung makan yang selama ini menjadi penopang hidupnya kini mati suri.
Amin pun mengaku kini mulai terjerat utang ke ke pihak lain. Di mana Amin mulai meminjam keberadaan dari kelompok arisan yang diikutinya. Jatuh temponya pun hanya sekitar 2 bulan dari tanggal dirinya meminjam. Jika PPKM terus diperpanjang oleh pemerintah dirinya khawatir tidak bisa mengembalikan utang tersebut.
"Bagaimaja mau mengembalikan, wong pemasukan tidak ada," ujar dia.
Baca Juga: Bus-Bus Lolos meski Wisata Jogja Tutup di Akhir Pekan, Pemkot Akan Panggil Biro Perjalanan
Amin menambahkan, dirinya mengajukan pinjaman ke belakang dari kelompok arisan yang ia ikuti karena harus menutup kerugian dari usaha biro perjalanannya. Sebelum PPKM diberlakukan oleh pemerintah dirinya telah menerima booking-an perjalanan ke Yogyakarta.
Pihak yang telah memesan perjalanan ke Yogyakarta tersebut adalah dari instansi pemerintah di mana mereka membayar di belakang. Secara otomatis dirinya harus mengeluarkan biaya uang muka untuk booking hotel ataupun tiket pesawat.
"Karena tidak jadi berangkat ya otomatis uang saya hangus. Saya harus utang sana sini," keluh dia.
Tak hanya dirinya sudah banyak para pedagang di kawasan Pantai Parangtritis dan juga Pantai Depok yang mulai terjerat utang. Paling banyak adalah terjerat utang dengan sistem mingguan. Tentu saja bunganya juga lebih tinggi dibanding sistem bulanan.
Agus, warga Parangtritis yang lain menambahkan, sebenarnya selain berdagang tak sedikit warga Parangtritis yang juga bertani. Namun saat ini harga komoditas cabai dan bawang merah yang mereka tanam tengah ambleg, sehingga para petani banyak merugi.
"Pemerintah harus memikirkan kami. Kalau bisa mbok dibuka, dengan syarat ketat ndak apa-apa. Kami siap asal roda ekonomi tetap berputar," harap dia.
Berita Terkait
-
Bus-Bus Lolos meski Wisata Jogja Tutup di Akhir Pekan, Pemkot Akan Panggil Biro Perjalanan
-
Kasus Covid-19 Menurun, DIY Berharap Turun Level PPKM
-
Dispar Sleman Pastikan Objek Wisata di Wilayahnya Masih Tutup, Tunggu Instruksi Pusat
-
Kisah Fotografer Jogja, Sepinya Usaha Prewedding hingga Beralih ke Street Photography
-
Akses ke Pantai Selatan Disekat, Wisatawan Lewat Jalur Tikus
Terpopuler
- Mudah, Ini Cara Menghentikan Spam Call di HP Android dan iPhone
- Pengamat Nilai Manuver KSP Listyo Bongkar Hambatan Birokrasi Jadi Investasi Jangka Panjang
- Pengacara Kamaruddin Simanjuntak Sakit Apa? Meninggal Dunia di Usia 52 Tahun
- 5 Rekomendasi Sepatu untuk Jalan Kaki 20 Ribu Langkah, Empuk dan Tidak Cepat Pegal
- Cara Menggunakan Minyak Zaitun Mustika Ratu untuk Wajah dan Rambut
Pilihan
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
Terkini
-
YAYAYA FEST 2026 Hadir di Jogja: Konser Inklusif, Ramah Difabel dan Lingkungan
-
Pakar UGM Sentil Dua Tahun Prabowo-Gibran, Jangan Cuma Retorika, Rakyat Butuh Aksi Nyata
-
Tak Hanya Jualan Candi dan Keraton untuk Dongkrak Pariwisata, Jogja Bidik Javanese Wellness Tourism
-
Perkuat Kemitraan Global, BRI Hubungkan Investor dengan Potensi Indonesia
-
Pasca-Aksi Panas di DPRD DIY, Polisi Pastikan Tak Ada Pendemo yang Dibawa ke Kantor Polisi