SuaraJogja.id - Jumlah kunjungan ke mall di Sleman naik sebanyak 19 persen. Angka itu terlihat sejak dilakukan uji coba pembukaan mall pada 24 Agustus 2021.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Sleman Mae Rusmi mengatakan, jumlah itu meningkat seiring dengan terus meningkatnya capaian imunisasi Covid-19 di Sleman dan DIY umumnya. Termasuk di dalamnya imunisasi bagi pengelola mall.
Mae menuturkan, lewat adanya peningkatan kunjungan, terlihat bahwa penggunaan aplikasi PeduliLindungi sebagai syarat wajib akses masuk bagi pengunjung mall, tak menimbulkan kendala berarti. Pun demikian ketika syarat akses yang sama diterapkan bagi pengendara ojek atau layanan antar makanan daring.
"Sudah beberapa terakhir sudah tidak ada masalah," kata Mae, Rabu (8/9/2021).
Bukan hanya mal, gencarnya vaksinasi bagi pedagang pasar rakyat juga berpengaruh signifikan terhadap kunjungan pasar tradisional di Sleman.
"Data yang dimiliki Disperindag Sleman, kenaikan kunjungan sudah mencapai 50 persen," sebutnya.
Sementara untuk sektor industri, Mae menjelaskan jika saat ini hanya industri yang memiliki Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri yang boleh buka di masa PPKM.
Total dari 89 industri yang ada, lima di antaranya sudah mendapatkan izin uji coba operasional penuh dari pemerintah pusat. Selain itu, berdasarkan seleksi, evaluasi, verifikasi, Disperindag Sleman juga mengajukan izin agar 39 industri lain bisa beroperasi. Pengajuan tersebut hingga kini masih terus berproses.
Walaupun demikian, saat ini ada kendala dan tantangan tersendiri yang dialami oleh kalangan industri, saat beroperasi di masa PPKM Level 3 ini.
Baca Juga: Dishub Sleman Lakukan Investigasi Kecelakaan Maut di Breksi, Begini Hasilnya
"Aplikasi Peduli Lindungi hanya support Android versi 5.1 ke atas. Pegawai pabrik tidak semua hapenya support aplikasi tersebut. Ada yang hapenya itu bahkan hape jadul, android versi 5 ke bawah," ujarnya.
Kondisi itu, membuat karyawan tidak bisa mengakses QR Code. Bilapun mereka bisa mengakses, proses yanv dibutuhkan berlangsung lama (lemot).
"Jadi lama antri masuknya. Agar tidak lagi terjadi antrean panjang, maka kami sedang berkoordinasi dengan Kemenkes, untuk pelaporan komunal dan manual," ucapnya.
Kontributor : Uli Febriarni
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Mau Gratiskan Pendidikan SD hingga Universitas Negeri, Dananya dari Uang Korupsi
- Andre Taulany Resmi Nikahi Amanda Rigby, Mantan Istri Erin: Hamil Duluan Kali
- Viral Video Ulama Houthi Serukan Serangan ke Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
- 6 HP Samsung Terbaik 2026! Mulai dari Kelas Flagship Hingga Entry-level
- Viral Foto Duduk Bareng, Terungkap 6 Momen Kedekatan Gubernur Sherly dan Ahmad Luthfi
Pilihan
-
Emil Audero dan 5 Pemain Tinggalkan Rayo Vallecano
-
WNI 18 Tahun Terancam Hukuman Mati di Malaysia: Ada Barbuk 25 Kg Sabu dan Heroin
-
Akhirnya Buka Suara Usai KPK Usut Korupsi di ATR/BPN, Ini Penjelasan Lengkap Nusron Wahid
-
Pria yang Tendang Perempuan di Senayan City Ditangkap Polisi!
-
Usut Dugaan Korupsi KSO Pertamina EP, Kejagung Geledah Kantor Setda hingga Bapenda Kota Bekasi
Terkini
-
Penonton Yogyakarta Bergidik Ngeri Saksikan Memburu Pemangsa, Jump Scare Picu Suasana Tegang
-
Prabowo Sebut Pakar Saking Pintarnya Jadi Goblok, Muhammadiyah Ingatkan Pakar Berbasis Ilmu dan Data
-
Muhammadiyah Sentil Menkeu Baru, Jangan Biarkan Rupiah Jatuh Terus
-
Polemik Royalti Musik, Pelaku Usaha Bingung, Pekerja Seni Menunggu Hak
-
Kasus Dugaan Kekerasan Seksual Bayi di Sleman Naik Sidik, Polisi Periksa 3 Saksi