SuaraJogja.id - Padukuhan Gedad, Kalurahan Banyusoca, Kapanewon Playen, Gunungkidul dulu adalah wilayah yang selalu dilanda kekeringan terutama di musim kemarau. Untuk mendapatkan air, warga harus berjalan berkilo-kilometer memikul tempayan ataupun bahan lain untuk menampung air.
Namun berkat perjuangan seorang pengasuh pondok pesantren, puluhan tahun terakhir ini warga sudah tidak lagi kesulitan mendapatkan air bersih. Bahkan tanpa mengeluarkan uang, air sudah mengalir ke kediaman mereka.
Swasembada Air di Padukuhan Gedad tak lepas dari nama Abu Dardak atau lebih dikenal sebagai mbah Abu. Abu Dardak sangat melegenda di Kawasan Banyusoca karena berkat perjuangannya mencari sumber air dengan menggali dan membuat terowongan di punggung bukit Grunggung, yang terletak disisi atas Padukuhan Gedad, warga Gedad kini tak kekurangan air.
Ratusan KK warga masyarakat dari 4 dusun, di Kalurahan Banyusoca kini dapat menggunakan air dengan gratis, tidak ada pungutan atau membayar sepeserpun. Kebutuhan air sehari hari mereka dicukupi dari sumber air "Gunung Sari Bumi" yang digali oleh mbah Abu. Semua
Kyai Hudi Rohmad, pengasuh pondok pesantren, Nurul Fallah yang beralamat di Dusun Gedad, Kalurahan Banyusoca, Kapanewon Playen, Gunungkidul adalah anak ke-2 mbah Abu. Kyai Rohmad adalah Mbah Abu menjadi pengasuh Pondok Pesantren Nurul Falah, tinggalan Almarhum.
"Almarhum bapak memulai penggalian bukit Grunggung sekitar tahun 1976, waktu itu saya masih ingat betul, karena saat air benar benar bisa keluar dari dalam bukit, saya yang diajak bapak kesana pertama kali untuk dimandikan," terang Kyai Hudi Rohmad.
Waktu itu, kenang Kyai Rohmad, dirinya masih berusia sekitar 3 tahun. Namun dirinya sangat paham dengan perjuangan kakeknya berkat cerita Sang Kakek tentang kisahnya menggali bukit Grunggung. Termasuk bagaimana waktu pertama kali mbah Abu memulai penggalian bukit Grunggung hanya ditemani oleh Pakliknya yaitu mbah Muhammad Banjari.
Kyai muda murah senyum, yang sempat akan diangkat PNS, tapi tidak mau karena mematuhi pesan Almarhum bapaknya untuk mengasuh pondok ini mengatakan padukuhan Gedad ini dulunya sangat gersang, terpencil, air sulit, sehingga banyak penduduk yang memilih merantau ke luar Jawa.
Abu Dardak kemudian bertekad untuk mencari solusi masalah air di desanya dengan menggali luweng Cing Cing Giling, mbah Abu kemudian "sowan" ke gurunya yaitu mbah Kyai Mardjuki di Giriloyo Imogiri Bantul. Oleh Kyai Mardjuki, Mbah Abu akhirnya diperintahkan untuk "laku prihatin", "tirakat" dan memulai upaya mencari sumber air.
Baca Juga: Sebanyak 99,15 persen RT di Gunungkidul Sudah Masuk Zona Hijau
" nanti hasilnya bisa untuk kemakmuran masyarakat umum,"paparnya.
Kyai Rohmad menyebutkan tempat yang digali pertama kali dulunya bernama luweng (goa vertikal) Cing Cing Giling. sebuah luweng kecil di atas bukit Grunggung, tempat ini terkenal "wingit", angker, jarang sekali penduduk berani memasuki kawasan luweng Cing Cing Giling.
Abu Dardak memilih Luweng Cing Cing Giling karena meyakini ada sumber air di bawahnya. Keyakinan itu muncul karen pada lubang kecil luweng yang terletak di atas bukit, jika didengarkan dengan seksama akan terdengar suara air yang mengalir.
"Suara ini berasal dari dalam perut bumi, atau di dalam bukit Grunggung,"terangnya.
Abu Dardak kemudian berusaha mencari tahu keberadaan air di dasar Luweng tersebut benar atau tidak. Kyai ini lantas mencoba mengikat sebuah batu kecil dengan tali, kemudian mengulurkannya ke dalam lubang luweng, setelah diangkat ke atas, batu dan tali ternyata basah.
"Saat itu beliau yakin, kalau di dalam bukit itu ada sumber air yang besar," Kyai Rohmad melanjutkan.
Kyai Abu Dardak lantas bertekat menggali luweng tersebut demi kemaslahatan umat. Setelah mendapat restu dan bimbingan gurunya, mbah Abu kemudian benar benar memulai penggalian luweng, dengan hanya dibantu oleh mbah Banjari. Hampir setiap hari selama kurun waktu 4 bulan, mereka bekerja keras.
Bahkan pekerjaan ini sering dilakukan pada malam hari. Dan dalam waktu 4 bulan, cukup berat perjuangan yang harus dihadapi, mulai dari gangguan makhluk halus, sampai pada kerasnya batu yang harus mereka pecah. Alat yang dipakai waktu itu benar benar masih manual, linggis, pecok, palu, bodem, betel dan lainnya, tak terhitung berapa banyak alat yang dihabiskan untuk proses penggalian,
"struktur batu yang dihadapi adalah batu gunung yang solid dan sangat keras,"tambahnya.
Setelah 4 bulan lebih, dan kedalaman penggalian kurang lebih 7 meter, akhirnya sumber air itu dapat ditemukan. Dan benar dugaan mbah Abu, sumber air itu adalah jalur sungai bawah tanah yang mempunyai debit air yang besar.
"Setelah benar benar menemukan sumber air, bapak bingung, bagaimana cara air ini bisa diangkat dan dialirkan ke rumah rumah penduduk,"ujar dia.
Di tahun itu tekhnologi pengangkatan air masih sangat jarang terlebih saat itu belum ada aliran listrik yang menjangkau kalurahan Banyusoca. Menyadari hal itu, mbah Abu sadar bahwa tugasnya ternyata masih belum selesai, dia harus menggali kembali sebuah terowongan yang menembus punggung bukit, untuk bisa mengalirkan air ke desanya.
Kepalang tanggung, Abu Dardak kembali bekerja, kali ini penggalian dia lakukan dari samping lambung bukit. Harapannya adalah, dengan dia membuat 'kalenan' (parit/terowongan), air bisa mengalir keluar dan dialirkan ke desanya.
"Kabar bapak berhasil mendapat sumber air, akhirnya tersebar ke seluruh desa, dan akhirnya mulai ada warga yang membantu penggalian ke dua, yaitu terowongan," ujar diam
Dengan dibantu oleh beberapa warga, mbah Abu Dardaj meneruskan pekerjaan pembuatan terowongan. Setelah berbulan bulan bekerja, akhirnya terowongan sepanjang 30 meter dapat ditembuskan ke sungai bawah tanah dalam perut bukit Grunggung.
Namun di saat aliran air mulai bisa dialirkan keluar lewat terowongan, cobaan lain yang tak terduga datang, langit langit sungai bawah tanah ada yang ambrol. Bebatuan yang ambrol menutupi aliran sungai bawah tanah, sehingga air ke terowongan juga terhenti.
"Mbah Abu kembali harus menguji kesabarannya, beliau harus menyingkirkan batu ambrol ini, dan itu harus dilakukannya sambil menyelam. Percaya gak percaya, batu yang dikumpulkan bapak sambil menyelam itu, saat dikumpulkan ada 12 kubik," ujar kyai Rohmad sambil tersenyum.
Setelah berjuang luar biasa yang dilakukannya, akhirnya warga Padukuhan Gedad mulai menuai hasil, air dengan lancar keluar dari dalam bukit Grunggung, dan melewati "kalenan"/terowongan kemudian turun ke bawah, dan langsung bisa digunakan oleh penduduk.
Bahkan dalam perkembangannya, saat ini ada warga tiga dusun lain yang letaknya jauh dari dusun Gedad juga memanfaatkan air dari bukit Grunggung. Hingga kini, wilayah Padukuhan Gedad tak lagi kekurangan air. Sekalipun musim kemarau, warga masih bisa mendapatkan air dari Luweng Cing Cing Giling
Mbah Abu Dardak meninggal tahun 2005, beliau dimakamkan di tengah tengah kompleks pondok pesantren yang didirikannya. Makam mbah Abu Dardak dibangun tanpa nisan, namun uniknya disitu diletakkan sebuah cermin besar, siapapun yang berziarah akan bisa melihat dirinya sendiri dalam bayangan cermin itu.
"Sebelum meninggal, Almarhum berpesan, bahwa sumber air Gunung Sari Bumi tidak boleh dikomersilkan, penggunaannya harus untuk kemaslahatan umat," pungkas Kyai Rohmad.
Kontributor : Julianto
Berita Terkait
-
Tak Kunjung Dibuka, Pelaku Wisata di Gunungkidul Ancam Kibarkan Bendera Putih Besok
-
Rumah Warga Gunungkidul Terbakar Saat Ditinggal ke Pasar, Diduga dari Charger Mobil Remote
-
Bejat! Ayah Tiri di Gunungkidul Cabuli Remaja Usia 16 Tahun Hingga Berbadan Dua
-
Polsek Tepus Gagalkan Wisatawan yang Nekat Masuk Gunungkidul Pakai Jasa Calo
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Lewat Musik di Album Terbaru, Grego Julius Dekatkan Umat pada Bunda Maria
-
Teror May Day di Jogja: Mahasiswa Dikeroyok Preman Diduga Ormas, HP Dirampas Saat Rekam Aksi Brutal
-
Kawal Kasus Little Aresha, Orang Tua Korban Dorong Penambahan Pasal Berlapis dan Hak Restitusi
-
Siklus Megathrust Pulau Jawa Tinggal 30 Tahun, Pakar Kegempaan Ingatkan Kesiapsiagaan DIY
-
Niat Keluar Cari Sasaran, Komplotan Remaja Bacok Pemuda di Jalan Godean Sleman