SuaraJogja.id - Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Panut Mulyono membeberkan perkembangan terkini alat deteksi Covid-19 lewat embusan napas buatan UGM, GeNose. Terbaru tim peneliti tengah meminta validasi dari pihak luar terkait sejumlah pembenahan yang dilakukan.
"Genose terus. Ini menarik sekali ya bahwa hasil uji kita internal itu sudah sangat bagus dengan perbaikan-perbaikan semua. Setidaknya di atas 80 persen semua kecocokan dengan PCR. Itu dengan berbagai modifikasi dan berbagai perbaikan," kata Panut kepada awak media, Sabtu (9/10/2021).
Dijelaskan Panut saat ini tim peneliti GeNose yang dipimpin oleh Kuwat Triyana tengah melakukan validasi dari pihak luar. Dalam hal ini adalah sejumlah rumah sakit yang ada di luar Yogyakarta bahkan Jawa.
"Itu datanya sudah masuk, sudah dianalisis oleh Pak Kuwat dan kawan-kawan kemarin pada saat pelantikan dia (Kuwat) bilang sudah didiskusikan hasil dari validasi luar," ucapnya.
Harapannya, jika validasi dari luar tersebut telah difinalisasi maka bisa segera diajukan kepada Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Nanti data-data dari validasi luar tadi bisa menjadi pertimbangan kembali untuk penggunaan GeNose digulirkan kembali.
Saat ini, kata Panut, GeNose hanya digunakan untuk internal UGM saja. Sedangkan untuk pihak luar masih belum digunalam kembali.
"Kalau sekarang kan memang masih di internal ya, di UGM kita pakai masih tapi pak Budi Karya Sumadi, pak Menhub itu akan menggunakan lagi itu menunggu validasi dari luar tadi. Nanti setelah itu kita laporkan ya beliau akan mengulangi yang dulu," tuturnya.
Ia menyebut bahwa akurasi dari GeNose saat ini pun sudah semakin bagus. Selain menunggu validasi, pihaknya juga akan segers mengusahakan perpanjangan izin edar.
"Izin edarnya yang sudah kita miliki ini kan sampai Desember ini. Makanya dengan data validasi tadi segera akan kita mintakan perpanjangan izin edar," sambungnya.
Baca Juga: Kuliah Tatap Muka UGM Direncanakan Mulai 18 Oktober Mendatang
Diharapkan Panut bahwa GeNose bisa segera kembali digunakan oleh berbagai pihak. Mengingat bahwa GeNose merupakan alat yang lebih terjangkau selama ini.
"Harapannya nanti bisa segera dimanfaatkan kembali karena banyak sekali yang minta ya, terutama rekan-rekan rektor itu untuk kuliah tatap muka itu perlu alat yang murah, mudah. Dan juga temen-temen yang lain yang sering diswab itu juga tidak nyaman" ujarnya.
Tidak sampai di situ saja, Panut tidak menutup kemungkinan GeNose juga bakal dikembangkan untuk bisa dimanfaatkan ke sektor lain. Mengingat dulu awalnya GeNose juga bukan ditujukan untuk menguji atau memeriksa Covid-19.
"Iya awalnya untuk narkoba ngetes-ngetes itu. Nanti kita akan kembangkan untuk pemanfaatan-pemanfaatan penyakit-penyakit lain yang terkait. Terutama sesuatu yang di dalam ada gangguan metabolisme atau apa kemudian napasnya atau embusan napasnya itu terkontaminasi dengan zat tertentu nah itu semua bisa dianalisis dengan itu," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Pengertian Tes Covid-19 PCR, Rapid Test Antigen, Antibodi, GeNose, Cara Kerja & Akurasinya
-
Genose Tak Berlaku Lagi di Stasiun, Ini Syarat Penumpang Kereta Selama PPKM Level 4
-
Warga Palembang Sambut Antusias Layanan GeNose di Sejumlah Hotel dan Resto
-
Tes GeNose Tidak Berlaku Untuk Syarat Perjalanan di Kepri
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Kawal Kasus Little Aresha, Orang Tua Korban Dorong Penambahan Pasal Berlapis dan Hak Restitusi
-
Siklus Megathrust Pulau Jawa Tinggal 30 Tahun, Pakar Kegempaan Ingatkan Kesiapsiagaan DIY
-
Niat Keluar Cari Sasaran, Komplotan Remaja Bacok Pemuda di Jalan Godean Sleman
-
Efisiensi Anggaran Bikin Pekerja Seni di Jogja Kelimpungan, Berburu Hibah demi Bertahan Hidup
-
Tim Hukum Peduli Anak Pemkot Jogja Bidik Pidana Korporasi hingga Pembubaran Yayasan Little Aresha