SuaraJogja.id - Pemerintah baru menggelar seminar nasional Mendukung Serangan Umum 1 Maret 1949 menjadi Hari Nasional secara daring, Selasa (16/11/2021). Sejumlah menteri terlibat dalam seminar nasional tersebut diantaranya Menkopolhukam, Mendagri, Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Tehnologi, Mensesneg, Menhan dan juga Gubernur DIY Sri Sultan HB X.
Menurut Sultan, peristiwa Serangan Umum 1 Maret memiliki makna penting bagi penegakkan dan pengakuan kedaulatan negara, baik dari dalam maupun dari luar.
Peristiwa ini merupakaian rangkaian panjang dari peristiwa-peristiwa sejarah yang mendahului dan mengikutinya, sejak Proklamasi Kemerdekaan hingga pengakuan kedaulatan negara oleh Belanda.
Proklamasi Kemerdekaan telah dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Sukarno dan Muhammad Hatta di Jakarta, berlanjut dengan pengangkatan dan penetapan Sukarno dan Muhammad Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden, serta pengesahan Undang Dasar 1945 oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Tak berselang lama,
Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Paku Alam VII| menyatakan sikap, bahwa Kasultanan Ngayogyakarta dan Kadipaten Pakualaman menjadi bagian dari Indonesia melalui Amanat 5 September 1945.
Dikisahkan Sultan, pada tanggal 29 September 1945, pasukan Sekutu dan Belanda mendarat di Indonesia untuk melucuti tentara Jepang dan mengendalikan keadaan. Saat itulah, Belanda dengan panji Sekutu-nyajustru berupaya memanfaatkan situasi, menggunakan kesempatan untukkembali mengambil alih Hindia Belanda.
Gerakan ofensif-agresif Belanda inilah yang menyebabkan Ibukota negara Republik Indonesia akhirnya dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta, pada hari Jumat Legi tanggal 4 Januari 1946. Serangan demi serangan perlawanan secara sporadis bangsa ini terus terjadi sampai akhirnya ada serangan umum tanggal 1 Maret 1949 yang diinisiasi Jenderal Sudirman dan Letkol Suharto
"Atas dasar rentetan peristiwa itulah, pada akhirnya kami mengusulkan peristiwa Serangan Umum 1 Maret sebagai hari besar nasional,"paparnya.
Tujuannya adalah untuk menghargai jasa para pahlawan, meneguhkan kembali semangat nasionalisme dan kebangsaan. Di samping untuk mengingatkan pentingnya urgensi kembali kepada cita-cita awal revolusi kemerdekaan Indonesia yang merdeka dan berdaulat, menciptakan masyarakat yang adil dan makmur berdasar Pancasila dan UUD 1945.
Baca Juga: Terlindas Truk di Gunungkidul, Satu Keluarga Tak Bisa Jalan dan Tak Ada Penghasilan
Namun belum banyak yang tahu bagaimana serangan Umum 1 Maret 1949 tersebut bisa membuka dunia jika Indonesia itu masih ada. Ternyata kabar Serangan Umum 1 Maret 1949 disiarkan dari sebuah rumah tradisional berbentuk Limasan sederhana milik seorang petani yang bernama Pawirosetomo yang berada di Padukuhan Banaran, Kalurahan Playen, Kapanewon Playen, Gunungkidul, Yogyakarta.
Cucu dari Pawirosetomo, Soeroso mengungkapkan rumah berukuran 12 x 14 meter persegi ini dulunya memang menjad rumah tinggal keluarga besar kakeknya, Pawirosetomo. Soeroso sendiri adalah anak dari Marto Rajarso, dia adalah pensiunan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang berkarier lama di Jakarta.
Saat pensiun, dia memutuskan menghabiskan masa tua kembali ke desa asalnya, dan membangun sebuah pendopo Joglo, tak jauh dari rumah milik kakeknya yang sekarang menjadi museum/monumen serangan umum 1 Maret.
"Saya itu lahir tahun 1949, tepat disaat peristiwa itu terjadi, jadi saya tahu hanya dari cerita bapak," lanjutnya.
Menurut cerita bapaknya, PC 2 AURI yang digunakan untuk siaran ini di dulu disembunyikan di ruang bawah tanah di dapur milik Pawirosetomo, dan ditimbun dengan kayu bakar, sementara antena pemancarnya di rentang diantara dua pohon kelapa di halaman.
"Cerita dari Almarhum bapak, dulu kalau siaran hanya pada waktu malam, untuk menghindari patroli Belanda yang mencari keberadaan AURI dan Jendral Sudirman," cerita Soeroso.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- Biodata dan Agama DJ Patricia Schuldtz yang Resmi Jadi Menantu Tommy Soeharto
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
- 5 Sepatu Jalan Lokal Terbaik Buat Si Kaki Lebar Usia 45 Tahun, Berjalan Nyaman Tanpa Nyeri
- DPUPKP Catat 47 Hektare Kawasan Kumuh di Kota Jogja, Mayoritas di Bantaran Sungai
Pilihan
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
-
Mengapa Purbaya Tidak Pernah Kritik Program MBG?
-
Kuburan atau Tambang Emas? Menyingkap Fenomena Saham Gocap di Bursa Indonesia
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
Terkini
-
Layanan KB Kini Rutin di Kota Yogya, Dibuka Setiap Selasa dan Jumat
-
Kisah Warga Sleman Serahkan Elang Jawa ke BKSDA Yogyakarta
-
Tak Ada Temuan APIP, Saksi dari Kemenparekraf Sebut Hibah Pariwisata Sleman Sesuai Mekanisme
-
Pantai Selatan Rawan Laka Laut, Wiatawan Diminta Waspada Cuaca Ekstrem saat Libur Panjang Isra Miraj
-
Bisa Kurangi Sampah Plastik, Kini Malioboro Hadirkan Lima Titik Air Siap Minum Gratis, Ini Lokasinya