Scroll untuk membaca artikel
Galih Priatmojo | Hiskia Andika Weadcaksana
Jum'at, 14 Januari 2022 | 11:43 WIB
Ilustrasi bayi. (Pexels)

Ditanya mengenai pandangan masyarakat tentang kesehatan reproduksi sendiri, kata Hesti, dari berbagai kegiatan diskusi yang telah dilakukan tidak lagi terlalu kuat pandangan tabu soal itu. Masyarakat sekarang dinilai sudah lebih bisa mulai terbuka dengan tema-tema pembahasan kesehatan reproduksi. 

Kondisi saat ini berbeda dengan dalam beberapa tahun yang lalu. Saat ini pertemuan-pertemuan di sekolah pun yang membahas kesehatan reproduksi sudah sering dilakukan.

Sekarang, kata Hesti, pada sektor pendidikan bahkan sudah mulai ada inisiatif tersendiri dalam lebih membahas kesehatan reproduksi ini. Salah satunya dengan membuat buku pedoman bagi guru terkait pendidikan kesehatan reproduksi untuk remaja di tingkat SMK.

"Jadi itukan sudah mulai terbuka ya, sudah mulai terbuka tidak tabu sekali seperti itu. Tetapi memang mungkin masih ada kegamangan dari orang tua untuk menjelaskan masalah kesehatan reproduksi pada anak," terangnya.

Baca Juga: Soroti Kerusakan di Jalan Perwakilan, Forpi Jogja Minta OPD Awasi Parkir di Lokasi Setempat

Hesti menyoroti peran pendampingan orang tua atau bahkan guru terhadap anak-anak khususnya untuk seputar masalah kesehatan reproduksi. Termasuk dengan cara menghadapi rasa penasaran dari anak yang tak jarang membuat orang tua bingung.

Pendampingan secara maksimal dari orang tua kepada keingintahuan anak itu diperlukan agar anak juga tidak sembarangan dalam menyaring informasi yang masuk. Terlebih di era digital saat ini yang membuat mudahnya masyarakat mengakese internet.

"Kira-kira jawabnya apa kalau ditanya tentang pacaran, ciuman seperti itu, mungkin kan rasanya 'ih gimana ya', saya bilang kalau bapak ibu tidak menjawab anaknya nanti tanya kemana. kalau sekarang tanya ke mbah google, itu kan malah lebih bahaya lagi. Nah saya membuka wawasan para orang tua juga para pendidik supaya ayolah kita tangkap anak-anak yang sedang dalam masa keingintahuan yang besar ini," ajaknya.

Jika pun orang tua tidak tahu jawabannya, lanjut Hesti orang tua tetap diharap bisa mendampingi anaknya. Baik dengan cara menanyakan orang lain yang lebih paham atau ikut aktif terlibat dengan anak dalam mencari informasi itu.

Sikap dari orang tua itu akan membuat anak kemudian merasa aman dan nyaman. Sehingga anak juga akan bisa lebih terbuka dengan tema-tema pembahasan khususnya terkait kesehatan reproduksi. 

Baca Juga: Capaian Vaksin Anak 81,5 Persen, Dinkes Jogja Targetkan Dosis 2 Selesai Februari

"Sehingga anak merasa aman dan menganggap orang tua sebagai tempat yang bisa diajak untuk berdiskusi atau bertanya, menganggap masa-masa remaja itu sebagai teman gitu. Itu merasa lebih aman. Pendampingan orang tua itu sangat penting karena keluarga tadi yang pertama dan utama," tegasnya.

Load More