SuaraJogja.id - Dua bangunan sekolah dasar atau SD dipastikan bakal tergusur dan akan direlokasi lantaran terdampak proyek tol Jogja-Bawen. SD Negeri Banyurejo 1 di Kapanewon Tempel, merupakan salah satu yang terdampak.
Sekolah yang resmi berdiri pada 1967 ini, meninggalkan sejumlah kenangan bagi siswa dan masyarakat sekitar. Setidaknya bagi Purnomo, alumni sekolah tersebut.
Kala dijumpai di halaman sekolah, Purnomo mengatakan, almamaternya itu dulu menyandang nama Sekolah Rakyat Kerisan. SR Kerisan seingatnya mulai dibangun pada 1964.
Ada latar belakang tersendiri SR tersebut diberinama Kerisan, bukan menggunakan Banyurejo seperti saat ini. Sebelum bernama Banyurejo, titik yang menjadi lokasi SD Negeri Banyurejo 1 adalah Kerisan.
Hingga kemudian tahun demi tahun berlalu dan membuat dua kalurahan, --Kerisan dan Senomoyo-- akhirnya menyatu dan memakai nama Banyurejo.
"Di tahun itu, rumah bapak jadi tempat tentara dan ada bagian rumah yang digunakan sebagai sekolah. Saya dan teman-teman sekolah di sana," ujar putra mantan lurah Banyurejo tersebut, kala ditemui pada Jumat (22/4/2022).
Ia ingat betul, Purnomo kecil tak pernah ada istilah berangkat sekolah. Jelas saja, karena sekolah tempat ia menimba ilmu adalah rumah ayahnya sendiri.
Sependek ingatan dia, pada 1961 SR berubah menjadi SD. Demikian juga SD Banyurejo, yang selanjutnya tercatat menjadi SD pertama di kalurahan itu.
"Lalu bapak punya gagasan agar SD punya gedung pribadi. Makanya kemudian menggunakan tanah kas desa untuk gedung SD itu, sekitar 1962," ujarnya.
Sebagai siswa SD Banyurejo, tentu Purnomo dan teman-temannya mengikuti arahan kepala sekolah dan gurunya atas program-program sekolah. Demikian pula saat diminta membantu sekolah ikut urun tenaga membangun sekolah.
"Ada namanya program Sabtu Krida. Saat itulah saya dan teman-teman mengambil pasir, batu dari [sungai] Krasak lalu membawanya ke sekolah," kenang Purnomo sembari terus memegang dokumen sekolah.
"Jadi sekolah ini dibangun oleh keringat siswanya, termasuk saya. Kemudian bata yang dibutuhkan berasal dari bantuan warga sekitar. Realisasi pembangunan 1964. Tapi jadinya 1967, " ucapnya.
Purnomo mengatakan, seiring berjalan waktu kini sudah banyak area gedung yang merupakan bangunan baru.
Dengan sepenggal kenangan itu, jelas bahwa ia dan masyarakat sekitar sekolah punya rasa memiliki atas sekolah. Hal itu juga yang membuat warga ingin lokasi lahan pengganti sekolah masih berada di padukuhan yang sama, Onggojayan.
"Yo nek misale oleh ngenyang, nek isa ya aja kena jalan tol (Ya kalau misalnya boleh menawar, kalau bisa ya jangan kena tol). Ini perjuangan saya dan teman-teman saya," sebutnya.
"Pendak Setu gawa tenggok, jikuk pasir seka Krasak (Setiap Sabtu membawa tenggok, mengambil pasir dari Krasak). ada kenangan tersendiri. Jalan tol saja yang digeser. Hehe," Purnomo mengulang kembali kenangannya, diikuti tawa kecilnya.
Kini Purnomo, pihak SD N Banyurejo 1, masyarakat hanya bisa ikhlas. Karena posisi tol tak dapat digeser, patok sudah dihujam.
"Ikhlas dengan syarat," tutur Purnomo.
Besar harapan Purnomo dan pihak sekolah agar pengelola proyek tol, khususnya Jogja-Bawen yang merupakan pihak bertanggungjawab turut memberi perhatian. Karena sekolah adalah bangunan publik, maka jaminan tol harus jelas.
"Sudah ada bangunan pengganti sebelum sekolah digusur. Kalau digusur sebelum ada pengganti, kami akan protes, itu kan kesepakatan sejak awal," tegas dia.
Saat ini, calon lahan pengganti sudah ditemukan, sudah disetujui oleh pihak-pihak di Banyurejo dan sudah diusulkan Pemerintah Kalurahan ke Gubernur DIY. Jarak calon tanah pengganti dan gedung lama sekolah berjarak sekitar 200 meter.
Ia mengakui, calon lahan pengganti punya sejumlah kekurangan, berada di dekat sungai dan punya kontur yang membutuhkan sedikit usaha untuk meratakannya, sebelum menjadi lokasi pembangunan.
Tetapi setidaknya, walaupun agak masuk tempatnya tak jauh dari sekolah lama dan dekat dengan jalur jalan yang kerap dilintasi warga.
Kepala SD Negeri Banyurejo 1 Ismana menuturkan, ia sadar betul punya ketugasan bertanggungjawab total di sekolah. Tak tanggung, 100 persen yang jadi tanggungjawabnya.
"Andaikata isa gendoli, tetap gendoli (Andaikata bisa menahan, tetap ditahan). Akan tetapi, sudah jadi proyek pemerintah ya mau tidak mau ya sumangga kersa (silakan kalau mau)," ucapnya.
"Tapi ada syarat tadi. Ada pengganti," terangnya.
Harapan lainnya, minimal gedung pengganti punya kualitas sama. Syukur-syukur bila lebih baik.
"Saya tidak akan beranjak dari sekolah ini, kalau gedung baru belum dibangunkan untuk anak didik kami," tegasnya.
Akan lebih baik menurut Ismana, bila gedung sekolah yang baru segera terbangun. Sehingga pembangunan tol lancar, kegiatan belajar mengajar juga lancar.
"Kalau pembangunan sedini mungkin, pembangunan tidak akan asal-asalan," tandasnya.
Kontributor : Uli Febriarni
Berita Terkait
-
Pembangunan Tol Jogja-Bawen Mulai Kebut, Penggantian Lahan Gedung SD N Banyurejo 1 Masih Belum Jelas
-
Dapat Uang Ganti Rugi Tol Jogja-Bawen, Sejumlah Warga di Banyurejo Bersiap Cari Tanah Pengganti
-
Warga Banyurejo Tempel Terima Ganti Rugi Tol Jogja-Bawen, Menteri ATR: Jangan Sampai Menjadi Uang Panas
-
Bernilai Total Rp120 Miliar, Uang Ganti Rugi Proyek Tol Jogja-Bawen di Banyurejo Dijadwalkan Dibayar Pada 24-27 Januari
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- 5 HP Infinix Kamera Bagus dan RAM Besar, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- 5 HP Samsung Kamera Bagus dan RAM Besar, Pas buat Multitasking
Pilihan
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
Terkini
-
Berani Lawan Arus, Komunitas Petani Punk Gunungkidul Siap Manfaatkan AI untuk Sokong Program MBG
-
Holding UMi Tancap Gas: 34,5 Juta Debitur Terjangkau, 1,4 Juta Nasabah Naik Kelas
-
Geger Temuan Mayat dalam Mobil BRV di Sleman, Korban Sempat Hilang Kontak Selama Satu Bulan
-
Estimasi Kuliah Kedokteran UGM 2026 Tembus Ratusan Juta, Setara Harga Mobil SUV?
-
Standar Global untuk BRImo, BRI Raih Sertifikasi ISO/IEC 25000