Scroll untuk membaca artikel
Galih Priatmojo
Sabtu, 14 Mei 2022 | 15:05 WIB
Iskandar kala memilah sampah di Transfer Depo Sampah Lempongsari, Sariharjo, Ngaglik, Kabupaten Sleman. (kontributor/uli febriarni)

Menurut dia, cara membuang sampah yang dapat mengurangi risiko buruk adalah dengan memilahnya. Menyendirikan jenis sampah beling, paku, kaca agar tidak dibawa ke transfer depo.

"Atau bisa juga ditaruh di tumpukan sampah paling atas, dibungkus dan disendirikan. Sewaktu dikumpulkan, sampaikan kepada petugas pengangkut bahwa ada beling atau benda berbahaya tajam lainnya, supaya tidak mengenai yang bongkar," harapnya.

Sementara itu Anjar mengatakan, saking seringnya bergumul dengan sampah, lalat seakan sudah menjadi teman.

Transfer depo di tempatnya bekerja, melayani kelola sampah milik warga Kalurahan Sariharjo.

Baca Juga: Sleman City Hall Pererat Silaturahmi dengan Media, Halal Bi Halal hingga Jelajah Rumah Hantu

Ia tak memungkiri penutupan TPST Piyungan bukan kali pertama berdampak ke transfer depo. Namun, penutupan beberapa waktu lalu adalah yang terlama dan terparah.

"Biasanya hanya dua hari, kemarin sampai empat harian. Aktivitas angkut sampah dihentikan, kami hanya memilah-milah sampah," tuturnya.

Bupati Sleman Keluarkan SE Mengurangi dan Memilah Sampah

Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo mengaku sudah membuat edaran. Menurut Pemkab, langkah pertama yang dilakukan Pemkab Sleman untuk menyelesaikan persoalan menumpuknya sampah adalah edukasi di masyarakat, agar mulai mengurangi dan memilah sampah. Organik dan anorganik

"Termasuk hotel dan restoran untuk memilah sampah," ucapnya.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Jogja Hari Ini, Sabtu 14 Mei 2022: Malam Sleman dan Yogyakarta Hujan Lebat

Lewat langkah itu, diharapkan sampah bisa diselesaikan dengan keterlibatan semua elemen masyarakat.

Load More