SuaraJogja.id - Penggunaan pupuk sintetis bagi berbagai komoditi pangan di Indonesia sudah sangat masif. Kondisi ini akhirnya merusak kesuburan tanah akibat tingginya unsur Nitrogen, Fosfor dan Kalium (NFK) sintetis.
Pegiat Selamatkan Tanah, Yos Suprapto mengungkapkan, tingginya penggunaan pupuk sintetis sudah terjadi sejak munculnya paradigma revolusi hijau pasca Perang Dunia II. Alih-alih berperang dengan senjata, peperangan dengan membangun pabrik obat dan pupuk di tingkat global untuk dapat mendapatkan keuntungan luar biasa dilakukan negara-negara besar.
"Dan kita terjebak didalamnya dengan menggunakan pupuk sintetis sebagai bahan bakar berbagai tanaman pangan," ungkap Yos dalam Diskusi Selamatkan Tanah di Yogyakarta di Sheraton Mustika Yogyakarta, Selasa (24/05/2022).
Dicontohkan Yos, struktur tanah bekas perkebunan tebu di Kulon Progo, DIY mengalami kerusakan. Tingkat keasaman tanah di kawasan perkebunan tersebut sangat tinggi dan ph tanahnya tak lebih dari 4.
Kondisi serupa juga dimungkinkan terjadi di sejumlah tanah di daerah lain. Penggunaan pestisida dan pupuk sintetis lainnya bertahun-tahun membuat struktur tanah jadi rusak dan hasil pangannya pun mengandung residu tinggi.
"Umur manusia sekarang ini sulit menembus 100 tahun karena makanan yang disantapnya tiap hari mengandung residu yang mematikan karena pupuk sintetis," tandasnya.
Karenanya Yos berharap ada perubahan paradigma dan gerakan untuk kembali memanfaatkan pupuk alami dan mengembangkan sektor pertanian yang holistik secara berkelanjutan. Apalagi Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam (SDA) yang luar biasanya.
Pupuk alami bisa diekstrak dari beragam tumbuhan yang kaya akan mineral yang dibutuhkan tumbuhan atau tanah. Contohnya rumput lateng yang mengandung potasium dan magnesium yang tinggi.
"Rumput lateng yang banyak ditakuti orang karena bikin gatel ini bisa diekstrak untuk jadi pupuk alami untuk menyuburkan tanah," ujarnya.
Baca Juga: Gempa 4,7 Guncang Wilayah Agam, Belum Ada Laporan Terkait Kerusakan
Contoh lain ilalang yang terkenal sebagai obat batu ginjal. Rumput ilalang ini mengandung kalium yang tinggi untuk dijadikan pupuk alami.
Karenanya alih-alih bergantung pada pestisida, Indonesia perlu mengembangkan pupuk alami. Gerakan bersama ini sangat dibutuhkan agar produk pertanian yang dihasilkan sehat dan tidak mengandung residu.
"Kita tidak perlu membeli pestisida karena alam semesta menyediakan pupuk alami dan bisa dipelajari dengan konsep pertanian biodinamis yang berkelanjutan," tandasnya.
Sementara Dosen Ilmu Tanah UGM, Nasih Widya Yuwono mengungkapkan penanaman tumbuha ficus seperti pohon beringin bisa menjadi solusi dalam mengatasi kerusakan lingkungan. Bila satu orang menanam satu pohon beringin maka akan berdampak besar pada lingkungannya.
"Penanaman pohon beringin akan berdampak pada burung yang datang, mata air pun akan keluar dimana-mana. Jika air melimpah maka rumput akan tumbuh yang menyuburkan tanah," paparnya.
Widya menambahkan, UGM mengembangkan penanaman rumput lokal Gama Umami. Sekitar 600 hektar/tahun rumput lokal tersebut bisa ditanam saat ini.
Berita Terkait
-
Sutedjo Berhenti, Penjabat Bupati Kulon Progo Bakal Terapkan "Asta Brata"
-
Enam Nama Dibawa ke Kemendagri, Hari Ini Pj Bupati Kulon Progo dan Wali Kota Yogyakarta Diumumkan
-
Sapi Suspek PMK di Pandowan, DPP Kulon Progo Kirim Sampel ke BBVet Wates
-
Ada Pelonggaran Penggunaan Masker, Satgas COVID-19 Minta Warga Kulon Progo Tetap Terapkan Prokes
Terpopuler
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Adu Tajam! Persija Punya Mauro Zijlstra, Persib Ada Sergio Castel, Siapa Bomber Haus Gol?
Pilihan
-
Ketika Hujan Tak Selalu Berkah, Dilema Petani Sukoharjo Menjaga Dapur Tetap Ngebul
-
KPK Cecar Eks Menteri BUMN Rini Soemarno Soal Holding Minyak dan Gas
-
Diduga Nikah Lagi Padahal Masih Bersuami, Kakak Ipar Nakula Sadewa Dipolisikan
-
Lebih dari 150 Ribu Warga Jogja Dinonaktifkan dari PBI JK, Warga Kaget dan Bingung Nasib Pengobatan
-
Gempa Pacitan Guncang Jogja, 15 Warga Terluka dan 14 KA Berhenti Luar Biasa
Terkini
-
BRI Dorong Lingkungan Bersih lewat Program CSR Bersih-Bersih Pantai di Bali
-
Babak Baru Rampasan Geger Sepehi 1812: Trah Sultan HB II Tegas Ambil Langkah Hukum Internasional
-
Misteri Terkuak! Kerangka Manusia di Rumah Kosong Gamping Sleman Ternyata Mantan Suami Pemilik Rumah
-
Lebih dari 150 Ribu Warga Jogja Dinonaktifkan dari PBI JK, Warga Kaget dan Bingung Nasib Pengobatan
-
Gempa Pacitan Guncang DIY: 40 Warga Dirawat Medis, Kerusakan Terkonsentrasi di Bantul