"Jokowi dua kali dari sini, sapinya untuk Idul Adha juga. Waktu itu untuk dibawa ke Paliyan, Gunungkidul namanya Si Black, satu lagi Jembul, dibawa ke Kalibawang, Kulon Progo," tuturnya.
Kepiawaiannya merawat ternak sapi membuatnya dikenal ke mana-mana. Tim Rans Entertainment bahkan secara spontan, kala menyampaikan keinginan membali sapi yang ia besarkan bersama anggota keluarga itu.
"Itu dia dari Jakarta, ke Jogja. Lalu ke Cangkringan, tanya-tanya, mungkin ya, kan saya punya teman, lalu ingin beli sapi sini," kata dia.
Ludes diborong Rans dan pembeli-pembeli lain, saat ini tinggal dua ekor sapi yang ada di dalam kandangnya. Keduanya sapi metal masih berusia tujuh bulan.
"Itu saja sudah dipesan. Rencananya akan dibawa ke Malang atau Surabaya," ungkap lelaki yang lulus SMK pada sekitar 1970 ini.
Sewaktu Pandi masuk, salah satu sapi sedang asyik rebahan, hanya kepalanya yang masih mau menengok kanan dan kiri. Sedangkan satu yang lain aktif sesekali berpindah tempat dan terus berdiri. Ekornya tak berhenti berkibas.
"Saya selalu pelihara sapi jantan. Kalau betina enggak suka. Sapi betina itu terlalu lama pertumbuhannya," terang dia.
Pandi mengingat-ingat, ia mulai serius beternak sapi kurban saat berkeluarga. Selesai menempuh pendidikan, keluarga tak memperkenankan dirinya untuk bekerja.
Ayah Pandi wafat sejak ia masih duduk di bangku kelas VII SMP. Sebagai cucu paling besar, ia diminta menunggu rumah, mendampingi adik-adiknya sembari beternak.
Baca Juga: Diberi Nama OntoSeno, 5 Potret Sapi Kurban Raffi Ahmad Seberat 1,3 Ton
Ilmu beternak sapi turun-temurun dari orang tua dan kakek neneknya yang ia jadikan bekal saat ini. Tentunya dengan dibantu informasi-informasi terbaru yang mengikuti perkembangan zaman.
"Kalau ada apa-apa ya tanya ke dokter hewan atau ke Puskeswan," ujarnya.
Sebelum beternak sapi, Pandi pernah beternak kerbau. Ia akhirnya ubah haluan, karena bila beternak kerbau, maka harus sesekali menggembalakan kerbaunya di lahan yang lapang.
"Kudu diumbar. Coro jowone ngangon (Harus dilepas. Istilah dalam bahasa jawa itu menggembala)," tambahnya.
Awal beternak sapi, ia hanya membesarkan anabul untuk keperluan membajak sawah. Itupun sapi jenis biasa. Yang menurut dia waktu membesarkannya cukup lama, membutuhkan sekitar tiga sampai empat tahun.
Hingga selanjutnya ia memilih serius beternak sapi pada tahun 2.000. Hasil beternak sudah bisa ia manfaatkan untuk membiayai anak kuliah, sekolah, membeli tanah, kendaraan dan membuatkan anak-anaknya rumah.
Berita Terkait
-
Viral Sapi Kurban di Klaten Kabur, Berhasil Dijinakan Gegara Ini
-
Parah Banget, Jemaah Satu Musala Gagal Kurban Gegara Ditipu Penjual Ternak
-
Viral! Hewan Kurban Kabur Malah Berujung Masuk Parit dan Tenggelam
-
Resep Sop Daging Sapi Simpel Bumbu Rempah yang Lezat
-
Gombalan Raffi Ahmad yang Bikin Mami Popon Tersipu Malu, Publik: Cantik Banget Neneknya
Terpopuler
- 6 HP Terbaik di Bawah Rp1,5 Juta, Performa Awet untuk Jangka Panjang
- Langkah Progresif NTT: Program Baru Berhasil Hentikan Perdagangan Daging Anjing di Kupang
- Promo THR Alfamart Maret 2026: Sirup Marjan dan Biskuit Lebaran Diskon Gila-gilaan, Mulai 6 Ribuan
- 5 Mobil Bekas untuk Jangka Panjang: Awet, Irit, Pajak Ringan, dan Ramah Kantong
- Promo Kue Kaleng Lebaran Indomaret Alfamart Terbaru, Harga Serba Rp15 Ribuan
Pilihan
-
Teror di Rumah Wali Kota New York Zohran Mamdani: Dua Remaja Lempar Bom Rakitan
-
Trump Bilang Perang Segera Selesai, Iran: Ngaku Saja, Amunisi Kalian Sudah Mau Habis
-
Selain Bupati, KPK Juga Gelandang Wabup Rejang Lebong ke Jakarta Usai OTT
-
Patuhi Perintah Trump, Australia Kasih Suaka ke 5 Pemain Timnas Putri Iran
-
Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
Terkini
-
Cara Praktis Gabung Foto dan Edit Gambar Online Pakai CapCut
-
Dinkes Sleman Temukan 33 Positif dari 148 Suspek Campak di Awal 2026
-
Diprediksi 8,2 Juta Pemudik Masuk DIY Saat Lebaran, Puluhan Pos Pengamanan hingga Kesehatan Siaga
-
Soal Gelar Pahlawan Sri Sultan HB II, Trah Targetkan Terealisasi Tahun Ini dengan Dukungan Presiden
-
Sarankan Reformasi Polri Fokus Pembenahan Kualitas Internal, Pusham UII Ingatkan Risiko Politisasi