Pengolahan paling sederhana dan mudah adalah dengan metode perebusan. Air yang diambil dan akan dikonsumsi harus direbus dulu hingga mendidih minimal selama 3 menit.
"Jadi setelah mendidih kompornya jangan dimatikan dulu tapi dikecilkan dalam kondisi wadah yang tertutup dibiarkan tetap mendidih 3 menit. Setelah itu baru apinya dimatikan bisa digunakan, itu sudah aman," kata Wara.
Harapannya dengan mendidih 3 menit, bakteri-bakteri patogen atau bakteri-bakteri yang biasanya menyebabkan penyakit itu sudah mati atau sudah dipastikan mati. Namun kalau kurang dari itu dimungkinkan ada bakteri yang masih hidup.
Sebab ada bakteri yang tahan panas sehingga dikhawatirkan bakteri itu belum mati. Hanya 'pingsan' saat suhu panas namun setelah suhunya menurun bakter itu akan bangkit kembali dan itu bisa berpotensi menimbulkan sakit.
"Jadi ya masih bisa dengan treatment yang paling mudah itu dengan secara fisik dengan pemanasan itu tadi perebusan secara mendidih," tegasnya.
Ada pula treatment atau penanganan secara kimia dengan klorinasi. Dalam metode ini air dipaparkan dengan klorin atau bahasa awam dikenal dengan kaporit dengan dosis yang sesuai.
Hal itu akan berfungsi untuk membunuh bakteri yang ada di dalam air sehingga setelah itu baru bisa digunakan.
"Cuma kalau dengan klorinasi biasanya masyarakat kita masyarakat Kota Jogja atau Jawa itu kata mereka, 'wah mambu kaporit' jadi kadang-kadang itu kata mereka mengubah rasa itu," ungkapnya.
"Padahal sebenarnya treatment klorinasi ini yang digunakan oleh PDAM. Itu mengapa air PDAM berbau kaporit itu memang treatment-nya sebelum dialirkan didistribusikan ke masyarakat mereka melakukan pengolahan dulu dari air bakunya. Diolah menggunakan klorinasi dengan kadar yang sesuai sehingga bakterinya dipastikan mati. Kemudian baru dialirkan ke masyarakat," sambungnya.
Walaupun begitu, kata Wara, air PDAM yang sudah diklorinasi tetap harus diolah dulu sebelum dikonsumsi. Pengolahannya tetap sama yakni dengan perebusan tadi.
Berita Terkait
-
Bukan Hanya Skincare, Kualitas Air Juga Menentukan Kesehatan Kulit Anda!
-
Kemenkes: Kualitas Air Minum Indonesia Makin Membaik
-
Rapat Dewan Jamu Indonesia DIY di Dinkes Kota Yogyakarta, Bahas Program dan Kontribusi ke Depan
-
Sungai Ciujung Tercemar, Yandri Susanto Sebut Ratusan Ribu Jiwa di 4 Kecamatan Terdampak
-
Bawang Diduga Biang Keladi Wabah E.coli di McDonald's yang Tewaskan 1 Orang
Tag
Terpopuler
- Menguak Sisi Gelap Mobil Listrik: Pembelajaran Penting dari Tragedi Ioniq 5 N di Tol JORR
- Kode Redeem FF SG2 Gurun Pasir yang Aktif, Langsung Klaim Sekarang Hadiahnya
- Dibanderol Setara Yamaha NMAX Turbo, Motor Adventure Suzuki Ini Siap Temani Petualangan
- Daftar Lengkap HP Xiaomi yang Memenuhi Syarat Dapat HyperOS 3 Android 16
- Xiaomi 15 Ultra Bawa Performa Jempolan dan Kamera Leica, Segini Harga Jual di Indonesia
Pilihan
-
Detik-detik Jose Mourinho Remas Hidung Pelatih Galatasaray: Tito Vilanova Jilid II
-
Nilai Tukar Rupiah Terjun Bebas! Trump Beri 'Pukulan' Tarif 32 Persen ke Indonesia
-
Harga Emas Antam Lompat Tinggi di Libur Lebaran Jadi Rp1.836.000/Gram
-
7 Rekomendasi HP 5G Murah Terupdate April 2025, Mulai Rp 2 Jutaan
-
Donald Trump Resmi Umumkan Tarif Baru, Ekonomi Indonesia Terancam Kena Dampak!
Terkini
-
Libur Lebaran di Gembira Loka, Target 10 Ribu Pengunjung Sehari, Ini Tips Amannya
-
Arus Lalin di Simpang Stadion Kridosono Tak Macet, APILL Portable Belum Difungsikan Optimal
-
Kunjungan Wisatawan saat Libur Lebaran di Gunungkidul Menurun, Dispar Ungkap Sebabnya
-
H+2 Lebaran, Pergerakan Manusia ke Yogyakarta Masih Tinggi
-
Exit Tol Tamanmartani Tidak Lagi untuk Arus Balik, Pengaturan Dikembalikan Seperti Mudik