SuaraJogja.id - Tahun 2024 nampaknya akan menjadi tahun yang penuh kejutan sekaligus tantangan. Selain isu politik, secara khusus di Yogyakarta akan mengalami tantangan sampah yang cukup serius.
Bagaimana tidak? Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) yang berlokasi di Piyungan tak lagi menerima sampah di tiga kabupaten/kota yakni, Sleman, Jogja dan Bantul.
Hal ini tentu mengkhawatirkan masyarakat yang sejauh ini sudah berupaya menangani persoalan sampah di lingkungan tempat tinggalnya. Tak hanya itu, pekerja yang bertugas di TPS kampung atau desa juga akan terkena imbasnya.
Tejo, salah satu pengelola TPS yang ada di Kampung Terban, Kemantren Gondokusuman, Kota Jogja ini memang sudah mendengar kabar penutupan TPST Piyungan. Ia mengaku bingung jika memang pemerintah menutup lokasi tersebut.
Bukan tanpa alasan, warga asli Terban ini mengaku percuma menutup TPST Piyungan, jika belum ada solusi yang sesuai untuk warga.
"Saya juga dengar terkait kabar penutupan tempat pembuangan yang di Piyungan. Tapi ya enggak tahu benar atau enggak. Kalau memang jadi ditutup, kami jujur bingung sih. Harapannya pemerintah itu punya solusi yang lain, jangan hanya ditutup," kata Tejo ditemui, Kamis (30/11/2023).
Tejo menegaskan, kebingungannya jika pemerintah benar-benar menutup lokasi tersebut. Mengingat imbas dari sampah yang ada di wilayah Terban ini entah harus dikirim kemana.
Karena selama ini, sampah dari Terban itu dikirim ke Piyungan. Sedangkan penambahan sampah setiap harinya dari warga sekitar Terban, itu tidak kunjung berhenti.
"Karena sampah itu kan enggak pernah berhenti ya, setiap hari selalu bertambah. Jadi kalau Piyungan ditutup, lalu tidak ada penggantinya. Terus sampah-sampah ini mau dikemanain?", ujar Tejo.
Baca Juga: 4 Wilayah di Indonesia Paling Baik Kelola Sampah dengan Metode TPS3R, Jogja Nanti Dulu Deh
Upaya untuk mengurangi sampah di tingkat RT sebenarnya sudah dilakukan, termasuk Tejo sendiri yang melakukan di TPS Terban. Pria 56 ini juga memilah-milah sampah yang dikirim warga ke tempat sampah tersebut.
Biasanya, Tejo dan warga sekitar melakukan pemilahan sampah ketika tidak sedang mengangkut sampah.
Pemilahan tersebut meliputi barang apa saja yang bisa dijual, digunakan ulang, itu dipisahkan. Lalu untuk sampah-sampah sisa makanan, itu biasanya diolah untuk jadi pakan ternak atau ikan.
Sedangkan sisanya, sampah yang sudah tak bisa dimanfaatkan lagi kemudian ditumpuk. Menunggu pemerintah untuk mengambil dan mengirimnya ke Piyungan.
"Kalau lagi enggak ngangkut sampah, kami biasanya memilah sampah. Jadi, sampah yang bisa dijual, digunakan, itu kami pisahkan. Tapi kalau kaya sisa makanan, itu nanti bisa jadi pakan ternak atau pakan ikan. Nah sisanya itu numpuk, tergantung pemerintah yang ngambil.", tegas Tejo.
Tak hanya Tejo, Novem (34) selaku rekan Tejo dalam mengelola sampah di wilayah Terban juga mengatakan hal yang sama. Ia dan kelompok warga melakukan pemilahan sampah.
TPS tempat dirinya bekerja dikelola bersama warga dibantu dengan pemerintah. Tidak seperti TPS di Lempuyangan, Kotabaru, dan lain sebagainya. TPS-TPS tersebut dikelola penuh oleh pemerintah, di mana setelah dipilah oleh warga, langsung diangkut oleh DLH ke Piyungan.
"Di wilayah Terban ini masuknya mandiri, 50-50 sama pemerintah. Kalau di Lempuyangan, Kotabaru itu kan beda. Di sini itu kami pilah dulu, lalu kemudian nanti diangkut sama DLH [pemerintah] ke Piyungan.", ucap Novem.
Kontributor: Fristian Setiawan
Berita Terkait
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Waktu Berbuka Tiba! Cek Jadwal Magrib dan Doa Buka Puasa Ramadan 27 Februari 2026 di Jogja
-
Skandal Dana Hibah Pariwisata Sleman: Bawaslu Tegaskan 'Nihil Pelanggaran' di Pilkada 2020
-
Antisipasi Tren Kemunculan Gepeng Selama Ramadan, Satpol PP Kota Jogja Intensifkan Operasi
-
Kronologi Pemuda Nekat Tusuk Juru Parkir di Sleman, Tak Terima Ditegur?
-
6 Fakta Insiden Penganiayaan di Jalan Godean Sleman yang Viral di Media Sosial