SuaraJogja.id - Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) meminta seluruh tokoh agama untuk berkontribusi dalam menjaga kedamaian pada masa Pemilu 2024. Ia berharap agama tidak dijadikan sebagai alat politik praktis.
"Harapannya semua tokoh umat beragama untuk diminta berkontribusi memberikan pendidikan politik yang baik kepada seluruh jamaatnya," kata Kepala Kanwil Kemenag DIY Masmin Afif, Jumat (5/1/2024).
Perbedaan pilihan tentang pasangan calon (paslon) sudah tidak seharusnya menjadi persoalan yang berarti. Bahkan hingga kemudian yang memecah belah antar warga masyarakat.
Kerukunan itu harus tetap dijaga oleh semua pihak. Oleh sebab itu tokoh agama diharapkan dapat memberikan petunjuk yang baik kepada masyarakat.
Baca Juga: Pastikan Dirinya Diintimidasi, Butet Kartaredjasa Sebut Kena Prank Jokowi Sembilan Tahun
"Datang pada saat pemilihan, bahwa perbedaan tidak menjadi hal yang berarti. Jangan sampai beda tidak rukun, kita beda ndak masalah, selesai pesta demokrasi selesai, hidup bersama," ujarnya.
Menurutnya, tokoh agama sangat berperan untuk memberikan nilai-nilai positif terlebih untuk masa Pemilu 2024 yang sudah di depan mata. Sehingga nantinya terbentuk masyarakat yang bertanggungjawab dan aman setelah pemilu.
"Tokoh agama sangat berperan sekali untuk bisa memberikan pencerahan keagamaan kepada seluruh umat beragama. Agar bisa tetap rukun, tetap menghargai perbedaan, menghormati ajaran agama masing-masing, tapi kita tetap bersodara tetap harmonis dan rukun," tuturnya.
Selain itu, Masmin menekankan pentingnya untuk mengantisipasi politisasi sara dalam Pemilu nanti. Sebab agama tidak seharusnya dijadikan sebagai alat politik praktis.
Seluruh masyarakat hendaknya menyambut pesta demokrasi ini dengan damai. Meminimalisir potensi perpecahan atau gesekan antar kelompok massa yang berbeda pandangan atau pilihan.
Baca Juga: Ikut Awasi Netralitas ASN dalam Pemilu 2024, ORI DIY Siapkan Posko Aduan
"Ya kita berharap agama tidak dijadikan alat politik tetapi ajaran agama untuk memperkuat kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai umat bagi masyarakat bangsa Indonesia kita mempunyai kewajiban lima tahun sekali untuk memilih, dan itu adalah pesta demokrasi yang harus kita sambut dengan riang gembira," tandasnya.
Berita Terkait
-
Menelisik Kiprah Ki Hadjar Dewantara dalam Pendidikan dan Politik Indonesia
-
Lebaran ke Megawati hingga Jokowi, Didit Disebut Jadi Kekuatan 'Soft Politics' Presiden Prabowo
-
Waketum PAN Terang-terangan Puji Didit Prabowo Temui Megawati: Meneduhkan Dinamika Politik
-
Jalan Terjal Politik Ki Hajar Dewantara: Radikal Tanpa Meninggalkan Akal
-
Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam Menghadapi Tantangan Politik Indonesia
Terpopuler
- Kode Redeem FF SG2 Gurun Pasir yang Aktif, Langsung Klaim Sekarang Hadiahnya
- Pemain Keturunan Indonesia Statusnya Berubah Jadi WNI, Miliki Prestasi Mentereng
- Pemain Keturunan Indonesia Bikin Malu Raksasa Liga Jepang, Bakal Dipanggil Kluivert?
- Jika Lolos Babak Keempat, Timnas Indonesia Tak Bisa Jadi Tuan Rumah
- Ryan Flamingo Kasih Kode Keras Gabung Timnas Indonesia
Pilihan
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
-
Ranking FIFA Terbaru: Timnas Indonesia Meroket, Malaysia Semakin Ketinggalan
-
Duel Kevin Diks vs Laurin Ulrich, Pemain Keturunan Indonesia di Bundesliga
-
Daftar Lengkap 180 Negara Perang Dagang Trump, Indonesia Kena Tarif 32 Persen
-
Detik-detik Jose Mourinho Remas Hidung Pelatih Galatasaray: Tito Vilanova Jilid II
Terkini
-
Kilas DIY: Bocah Jabar Nekat Curi Motor di Bantul hingga Penemuan Mayat di Sungai Progo
-
Jalur Selatan Alami Lonjakan, Polres Kulon Progo Lakukan Buka Tutup Jalur Utama
-
Okupansi Hotel Anjlok 20 Persen di Momen Lebaran, Permintaan Relaksasi PHRI Tak Digubris Pemerintah
-
Gembira Loka Zoo Hadirkan Zona Cakar, Pengalaman Baru untuk Pengunjung Berjalan Bersama Satwa Buas
-
Mudik ke Jogja? BPBD Ingatkan Potensi Bencana Alam: Pantai Selatan Paling Rawan