SuaraJogja.id - Perwakilan BKKBN DIY mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk berperan aktif dalam percepatan penurunan stunting melalui intervensi gizi spesifik dan sensitif. Kepala BKKBN DIY, Muhammad Iqbal Apriansyah, dalam acara Focus Group Discussion (FGD) menekankan pentingnya kolaborasi untuk menurunkan angka prevalensi stunting di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Saat ini, Kabupaten Gunungkidul, Kulon Progo, dan Bantul memiliki angka prevalensi stunting tertinggi di DIY, dengan masing-masing 22,2 persen, 21,2 persen, dan 20,5 persen. Iqbal juga menjelaskan, percepatan penurunan stunting dilakukan melalui intervensi gizi spesifik, seperti kampanye konsumsi garam beryodium, ASI eksklusif, dan imunisasi.
Selain itu, intervensi gizi sensitif mencakup peningkatan akses air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, serta edukasi kesehatan kepada masyarakat.
Tri Angga Sigit, Analis Perbendaharaan Negara DIY, menyebut bahwa pada tahun 2022, DIY memiliki 6,45 persen bayi dengan berat lahir rendah (BBLR), lebih tinggi dari rata-rata nasional sebesar 6 persen.
"Kabupaten Gunungkidul juga mencatat ibu hamil dengan kondisi kurang energi kronis (KEK) tertinggi sebesar 16,3 persen," ujar Tri Angga Sigit, Selasa (15/10/2024).
Salah satu tantangan dalam penurunan stunting adalah pengelolaan anggaran, data, serta koordinasi di tingkat daerah. Berdasarkan uji regresi, peningkatan IPM sebesar 1 persen berpotensi menurunkan prevalensi stunting sebesar 2,6 persen.
Oleh karena itu, penting bagi wilayah dengan prevalensi stunting tinggi untuk terus mengevaluasi program yang ada dan mengoptimalkan peran Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) hingga ke tingkat kalurahan.
Agung Yulianta, Kepala Kanwil DJPb DIY, menambahkan bahwa target penurunan stunting DIY dalam RPJMN 2020-2024 adalah 14 persen. Dukungan fiskal hingga September 2024 mencapai Rp43 miliar, yang dialokasikan untuk berbagai program seperti penyediaan air bersih, desa aman pangan, dan peningkatan kawasan pertanian bergizi. Namun, alokasi dana untuk penanganan stunting masih dirasa kurang, meskipun telah meningkat lebih dari 224 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Melalui strategi-strategi ini, diharapkan prevalensi stunting di DIY dapat ditekan sesuai target yang telah ditetapkan.
Baca Juga: DJPb DIY: Realisasi APBN Turunkan Stunting Mencapai Rp16,53 Miliar
Berita Terkait
Terpopuler
- WNI Tentara Bayaran Rusia, Rendi Apriyanto Sempat Kirim Duit ke Ortu Tapi Rekening Diblokir
- Operasi Politik Presisi Prabowo: Preteli Siji-siji
- Kekayaan Jusuf Hamka yang Dilaporkan Hary Tanoesoedibjo ke Polisi
- Jaksa Agung Burhanuddin Muncul di Istana, Bantah Bakal Dilantik jadi Jampidum
- 3 Sepatu Lokal Paling Nyaman dan Empuk untuk Jalan Terbaik Menurut Review
Pilihan
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
-
Pemain Timnas Indonesia Dapat Ancaman Pembunuhan
Terkini
-
Luky Alfirman Jadi Wamenkeu, Pengamat: Bisa Jadi Akal-akalan Amankan Jalan Politik 2029
-
Kasus Bolosego Alkid Dinyatakan Bukan Pemerasan, Lalu Mengapa Ada Polisi Diproses Propam?
-
Isu Ijazah Gibran Disinyalir Tutupi Riuhnya Reshuffle Kabinet, Pengamat UngkapPermainan Politik
-
Mutasi 88 Perwira Belum Cukup! JPW Minta Kapolri Baru Sikat Habis Masalah Sampai ke Polsek
-
Pilur Serentak Bantul Digelar Besok, 15 TPS Dipetakan Rawan hingga Sangat Rawan