Scroll untuk membaca artikel
Muhammad Ilham Baktora | Hiskia Andika Weadcaksana
Rabu, 30 Oktober 2024 | 11:10 WIB
Konferensi pers ACT Alliance di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Selasa (29/10/2024). [Suarajogja.id/Hiskia]

Terutama di wilayah yang sudah menghadapi kemiskinan dan konflik. Namun demikian, respons global terhadap keadaan darurat kemanusiaan ini masih belum memadai, padahal kebutuhan akan tindakan mendesak semakin besar.

"Krisis iklim, yang seharusnya menyatukan kita dalam tujuan bersama, justru menjadi medan pertempuran politik. Perbedaan pandangan mengenai kebijakan iklim, kepentingan nasional, dan model ekonomi telah memperlambat kemajuan," tandasnya.

"Polarisasi politik merusak kepercayaan pada ilmu pengetahuan, mengganggu kerja sama, dan melemahkan solidaritas global saat kita sangat membutuhkannya," imbuhnya.

Jika dibiarkan terus menerus polarisasi ini juga berdampak pada sumber daya yang tersedia. Pendanaan global untuk respons kemanusiaan berada di bawah tekanan besar.

Baca Juga: Alissa Wahid Desak Aturan Miras Dipertegas Usai Penusukan Santri di Jogja

Disampaikan Bueno, organisasi masyarakat sipil, termasuk aktor-aktor berbasis agama, harus mengisi kekosongan ini, sering kali dengan sumber daya yang terbatas. Hal itu yang coba dilakukan oleh ACT Alliance.

Masyarakat sipil tidak bisa melakukannya sendirian. Menghadapi semakin banyak krisis, ada kebutuhan mendesak akan pembaruan kerja sama global.

"Pemerintah dan lembaga internasional harus mengutamakan aksi iklim dan pendanaan kemanusiaan, dengan menyadari bahwa kegagalan untuk melakukannya akan mengakibatkan penderitaan dan ketidakstabilan yang lebih besar," tegasnya.

Load More