SuaraJogja.id - Perkembangan teknologi digital yang masif saat ini dianggap menjadi solusi dalam mempercepat mempercepat proses administrasi, meningkatkan transparansi. Akibatnya pemerintah pun akhirnya menjadi latah dalam menerapkan transformasi digital. Sebab meski membawa manfaat, hal ini justru dapat menciptakan gab atau kesenjangan digital di masyarakat.
"Pemerintah yang latah transformasi teknologi, di satu sisi membawa benefit bagi masyarakat. Namun di sisi lain ternyata ada gab, terjadi kemiskinan digital, termasuk dari sisi kemanusiaan dalam transformasi digital," papar Dekan Fisipol UGM, Wawan Mas'udi dalam Research Week di UGM, Yogyakarta, Senin (11/11/2024).
Karenanya transformasi digital, perlu dilihat bukan hanya dari sisi perkembangan teknisnya. Pemerintahan Prabowo yang belum genap 100 hari ini perlu menjadikan isu transformasi digital dalam program kerjanya sehingga memberikan keuntungan yang lebih luas. Tak hanya latah, namun bermanfaat pada sektor pembangunan sosial dan ekonomi.
"Termasuk untuk menyetarakan akses antarwarga agar tidak ada gab dan kemiskinan digital," ujar dia.
Tak hanya di sektor teknologi, isu perubahan iklim juga perlu jadi perhatian pemerintahan baru ini. Wawan menekankan pentingnya regulasi yang lebih tegas.
Apalagi Indonesia terikat komitmen untuk beradaptasi dan memperkuat transisi energi serta menjaga kelestarian lingkungan. Green economy dan blue economy menjadi elemen penting yang perlu diangkat dalam program kerja kabinet.
"Indonesia terikat untuk beradaptasi dan memperkuat transisi energi serta menjaga lingkungan, termasuk hutan dan kawasan kritis lainnya," jelasnya.
Wawan menambahkan, Fisipol UGM saat ini memfokuskan riset pada tiga isu besar seperti sustainability dan perubahan iklim, transformasi digital, serta inklusi sosial. Berbagai hasil penelitian di tiga isu tersebut dilakukan selama satu tahun terakhir.
Hasil riset tersebut diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemangku kepentingan dalam menerapkan kebijakan. Mulai dari pemerintah pusat, daerah, hingga masyarakat sipil.
Baca Juga: Dampak Kemenangan Donald Trump bagi Indonesia: Ancaman Ekonomi dan Tantangan Diplomasi
"Riset seperti ini akan membantu, karena sifatnya tidak hanya makro tetapi juga sangat grounded. Kami ingin membawa suara-suara dari masyarakat marginal agar riset ini bisa menjadi bagian dari wacana publik," ujar dia.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Berita Terkait
Terpopuler
- WNI Tentara Bayaran Rusia, Rendi Apriyanto Sempat Kirim Duit ke Ortu Tapi Rekening Diblokir
- 5482 Korban Keracunan MBG, Viral Ucapan Wapres Gibran: Bawa Bekal dari Rumah, MBG Jangan Dimakan
- Kekayaan Jusuf Hamka yang Dilaporkan Hary Tanoesoedibjo ke Polisi
- Jaksa Agung Burhanuddin Muncul di Istana, Bantah Bakal Dilantik jadi Jampidum
- 3 Sepatu Lokal Paling Nyaman dan Empuk untuk Jalan Terbaik Menurut Review
Pilihan
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
-
Pemain Timnas Indonesia Dapat Ancaman Pembunuhan
Terkini
-
Bahlil Rangkap Menteri dan Menko, Pengamat Sebut Prabowo Selamatkan Agenda Politik 2029
-
Resep Kuliner Tradisional Mulai Hilang, 45 Persen Warisan Gastronomi Indonesia Terancam Punah
-
Keluarga Eks-Napiter Terjebak Stigma, Deradikalisasi Dinilai Tak Cukup Sasar Pelaku
-
JPW: Kapolri Baru Tak Berdampak Jika Pekerjaan Rumah Dibiarkan Mangkrak
-
Pratikno dan Listyo Sigit Kena Resuffle, Prabowo Disebut Bersih-bersih Orang Jokowi