SuaraJogja.id - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul melaporkan bahwa selama tahun 2024 terdapat 245 pasien yang diduga menderita chikungunya.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Zoonosis, Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Gunungkidul, Yuyun Ika, menyatakan bahwa 245 warga tersebut menunjukkan gejala klinis yang mengarah pada penyakit chikungunya.
"Jumlah terduga atau suspek chikungunya pada tahun 2024 mencapai 245 orang," ungkap Yuyun, dikutip dari Harianjogja.com, Rabu (1/1/2025)
Yuyun menambahkan, dalam dua bulan terakhir tahun 2024, terdapat 77 kasus suspek chikungunya di wilayah Kapanewon Paliyan dan Semanu. Rinciannya, 64 kasus terjadi di Paliyan, sementara 13 kasus lainnya ditemukan di Semanu.
Dari total 64 kasus di Paliyan, empat di antaranya dinyatakan positif chikungunya berdasarkan hasil pemeriksaan serologi, sedangkan sisanya dinyatakan negatif. Pemeriksaan terakhir dilakukan oleh Dinkes pada Desember 2024.
Menurut Yuyun, peningkatan kasus chikungunya ini terjadi bersamaan dengan tingginya kasus demam berdarah dengue (DBD). Namun, ia belum dapat memberikan data terbaru terkait jumlah kasus DBD di wilayah tersebut.
Kepala Dinkes Gunungkidul, Ismono, menyampaikan bahwa setiap temuan kasus suspek chikungunya langsung ditindaklanjuti dengan investigasi lokasi untuk melaksanakan penyelidikan epidemiologi (PE).
Jika hasil PE menunjukkan perlunya fogging, Dinkes akan melaksanakan fogging dengan jangkauan radius 100 meter dari lokasi kasus.
Dari sisi pencegahan, Puskesmas setempat juga melakukan edukasi terkait pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta memberikan pelayanan kesehatan sesuai regulasi yang berlaku.
Baca Juga: Bupati Sunaryanta Sebut Investasi di Gunungkidul Terkendala Kawasan Bentang Alam Karst
Gejala chikungunya meliputi demam tinggi, ruam kemerahan, nyeri otot dan sendi, nyeri tulang, sakit kepala, serta mual dan lemas.
Direktur RSUD Wonosari, Dyah Prasetyorini, menambahkan bahwa gejala chikungunya mirip dengan gejala DBD. Perbedaannya, chikungunya tidak memiliki fase dengue shock syndrome (DSS) sehingga tidak berpotensi menyebabkan kematian.
Dyah juga menjelaskan bahwa curah hujan tinggi yang terjadi akhir-akhir ini meningkatkan habitat nyamuk melalui genangan air yang terbentuk.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sosok Arnold Aristoteles, Mantan Jenderal yang Dimarahi Menteri PU Dody Hanggodo
- Apakah Kulkas Harus Dimatikan saat Membersihkan Bunga Es? Begini Cara yang Benar
- 12 Pilihan Mesin Cuci Langsung Kering Tanpa Jemur
- Angka Hoki Shio untuk Menarik Rezeki dan Keberuntungan Finansial
- Timnas Indonesia vs Everbody: Panen Cibiran dari Negara Se-Asia Tenggara
Pilihan
-
Masinis Argo Bromo Anggrek Jadi Tersangka Kecelakaan Kereta di Bekasi
-
Jejak Aparat pada Kematian Pedagang Cermin saat Demo 27 Agustus 2026
-
Hasil Rapat Haji di Istana, Masa Tunggu Jadi 14 Tahun
-
Hasil Investigasi di Lapas Cibinong: Kulkas Berisi Miras hingga Perabotan Mewah Milik Kasi Kamtib
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
Terkini
-
Raih Ekstra 27.000 GarudaMiles dari Transaksi dengan BRI Kartu Kredit Infinite Prioritas
-
Kemarau Diprediksi hingga Desember, Kulon Progo Perpanjang Siaga Kekeringan
-
Cara PIMPASA Imigrasi Yogyakarta Cegah Perdagangan Orang Lewat Pangan dan Wayang
-
Direproduksi Antar Generasi, 200 Lebih Kasus Bullying Terjadi di Kota Jogja
-
Warganet Khawatir Girder Tol Jogja-Solo Rawan Roboh, Kontraktor Beri Penjelasan