Menurut dia, banyak masyarakat hanya menunggu investor setelah menerima Surat Keputusan (SK) perhutanan sosial untuk mengelola ratusan hingga ribuan hektare lahan.
Sebab, tidak ada pendampingan yang kemudian menjelaskan arah pemanfaatan lahan tersebut.
"Enggak ada yang dampingi. Mereka mau apa? Karena enggak ada yang dampingi, yang sebagian besar mereka lakukan adalah menunggu kalau ada investor mau nanam apa, investor mau bikin apa, yang itu lalu banyak yang lahan-lahan yang menganggur," tegasnya.
"Selama area perhutanan sosial itu tidak mendatangkan uang ke saku masyarakat, itu pasti gagal," imbuhnya.
Ancaman Perubahan Iklim dan Gagal Panen
Jika berbagai program itu dan pola keberlanjutan lingkungan itu tak berhasil dilakukan maka muncul ancaman lain. Hal yang paling terasa adalah perubahan iklim.
Agus bilang perubahan suhu dan pola hujan dapat memicu gagal panen besar-besaran di masa depan.
"Dari perubahan iklim itu misalkan suhu naik 2 derajat celcius, kemudian musim tanam bergeser 2 bulan. Itu sudah mengacaukan semua cocok tanam di DIY," tuturnya.
Untuk itu, Agus menekankan pentingnya insentif dan pendampingan kepada masyarakat dalam mengelola hutan rakyat secara berkelanjutan.
Baca Juga: Marak Bendera One Piece Berkibar jelang HUT RI, Pakar Sebut Bentuk Rasa Muak Rakyat pada Negara
Diversifikasi komoditas juga tak kalah penting untuk menghindari kerugian saat harga pasar salah satu hasil hutan jatuh.
"Kalau jagung gak berbunga, kita dagang makanan ternak dari daun jagung," tandasnya.
Butuh Pendamping Agroforestri Andal
Sebagai respons terhadap kondisi itu, Fakultas Kehutanan dan PSLB Instiper Yogyakarta menginisiasi program Summer Course Agroforestri Industrial.
Tujuannya, membekali para pendamping perhutanan sosial agar makin profesional dalam mendampingi masyarakat mengelola lanskap secara berkelanjutan dari hulu ke hilir.
"Goal utamanya biar para penggiat dan pendamping perhutanan sosial makin jago secara profesional dalam usaha agroforestry berkelanjutan," ucap Agus.
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Bencana Alam Tak Bisa Dihitung dengan Kalkulator
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
Terkini
-
Indonesia Dikepung Lima Bencana, Jusuf Kalla Sebut Lingkungan Rusak oleh Kita Sendiri
-
5 Tahun Holding UMi, Sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM Dorong UMKM Bertumbuh
-
Lima Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, Muhammadiyah Minta Pencarian Gunakan Teknologi Terbaru
-
Heboh LHKP Muhammadiyah Cap Program MBG Haram, Haedar Nashir Buka Suara
-
Jelang Tanwir ke-114, Muhammadiyah Sentil Masalah Bangsa Menumpuk, Elite Tak Gerak Cepat