- Musim hujan diprediksi datang lebih awal, BPBD Jogja petakan wilayah rawan banjir dan longsor.
- Bantaran sungai Code, Winongo, Gajahwong, hingga jalan protokol jadi titik waspada utama.
- Sebanyak 169 KTB dibina dan 26 EWS, termasuk 9 unit otomatis baru, disiagakan di lokasi rawan.
SuaraJogja.id - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta meningkatkan kewaspadaan penuh menyusul prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa musim hujan akan tiba lebih awal dari jadwal normal.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD telah memetakan sejumlah wilayah yang memiliki risiko tinggi terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, hingga pohon tumbang.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Yogyakarta, Nur Hidayat, mengungkapkan bahwa daerah rawan bencana tersebar di hampir seluruh kemantren dengan tingkat risiko yang bervariasi. Warga diimbau untuk mengenali potensi bahaya di lingkungan masing-masing.
Secara rinci, potensi banjir dan genangan mengancam wilayah bantaran Sungai Code yang melintasi Kemantren Gondokusuman, Jetis, dan Gedongtengen.
Ancaman serupa juga membayangi bantaran Sungai Winongo di area Tegalrejo, Ngampilan, dan Mantrijeron, serta Sungai Gajahwong di wilayah Umbulharjo dan Kotagede. Selain itu, 14 kelurahan dengan pemukiman padat juga masuk dalam daftar rawan genangan saat hujan deras.
"Kalau rumah kelihatan mau roboh ya diperbaiki. Pohon yang miring sebaiknya segera ditebang. Kalau ada kerusakan atau potensi bahaya, segera lapor. Yang penting respon cepat, karena pertahanan awal ada pada diri kita sendiri. Kalau kita peka, insyaallah kita selamat," kata Nur Hidayat, dikutip, Jumat (19/9/2025).
Tidak hanya banjir, risiko tanah longsor juga menjadi perhatian serius di beberapa titik tebing yang berada di Kotagede, Umbulharjo, dan Kraton.
Sementara itu, risiko pohon tumbang berpotensi terjadi di jalur-jalur protokol yang dihiasi pepohonan besar dan rimbun, seperti Jalan Kusumanegara, Jalan Wahid Hasyim, dan Jalan Kyai Mojo.
Nur Hidayat mengingatkan, sinyal datangnya musim hujan lebih awal sudah terasa.
Baca Juga: Kota Jogja Kewalahan Sampah,Semua OPD di Wajib Urus Sampah hingga ke Kelurahan
Ia meminta masyarakat mengantisipasi potensi cuaca ekstrem selama periode September, Oktober, dan November 2025, yang dapat berupa hujan sedang hingga lebat disertai angin kencang.
"Bahkan sejak Agustus lalu sudah mulai turun hujan dengan intensitas cukup lebat, dan dampaknya sudah terjadi beberapa peristiwa, seperti rumah roboh, pohon tumbang, dan genangan air di sejumlah lokasi," tandasnya.
Sebagai benteng pertahanan, BPBD Kota Yogyakarta telah membina 169 Kampung Tangguh Bencana (KTB) yang warganya diberi pelatihan mitigasi hingga simulasi evakuasi. Dari sisi teknologi, sebanyak 26 unit Early Warning System (EWS) telah dipasang di tiga sungai besar.
"Tahun ini, Kota Yogyakarta menambah sembilan unit EWS otomatis dari sebelumnya 17 unit manual. Memang sempat ada satu EWS yang rusak di Keparakan, tetapi sudah diperbaiki," ucap Nur Hidayat.
Upaya mitigasi juga dilakukan secara sinergis antar lembaga. Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) fokus memperbaiki drainase, talud, dan pembersihan saluran air.
Sementara Dinas Lingkungan Hidup (DLH) aktif melakukan pemangkasan dahan pohon besar yang berisiko tumbang.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Pengakuan Lengkap Santriwati Korban Pencabulan Kiai Ashari di Lingkungan Pesantren Pati
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 7 Sepatu Lari Lokal untuk Jalan Jauh dan Daily Run Mulai Rp100 Ribuan, Tak Kalah dari Hoka
- 5 HP Terbaru 2026 untuk Budget di Bawah Rp3 Juta, Ada yang Support 5G dan NFC
Pilihan
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
Terkini
-
UPN Jogja Sebut Belum Ada Tawaran Resmi Kelola MBG, Pilih Fokus Ketahanan Energi
-
Revisi UU Pemilu Tertahan di Legislatif, Akademisi Sebut Sekadar Tambal Sulam
-
Anggaran BOSDa DIY 2026 Dipangkas Rp9 Miliar, Sekolah Kecil Terancam Tak Mampu Beroperasi
-
Diduga Kelelahan dan Serangan Jantung, Satu Jamaah Haji Asal Kulon Progo Wafat di Mekkah
-
Hari Ini, BRI Bayar Dividen Para Investor