- Penangkapan aktivis di Jogja mendapat kecaman dari sejumlah pihak
- Rektor UII, Fathul Wahid ikut mengkritik penangkapan aktivis Paul yang sebelumnya ditangkap oleh jajaran Polda DIY dan Polda Jatim
- Fathul bahkan akan menjadi penjamin penangguhan penahanan aktivis dari SMI tersebut
SuaraJogja.id - Rektor Unversitas Islam Indonesia (UII) Fathul Wahid menyatakan diri sebagai penjamin penangguhan penahanan aktivis asal Yogyakarta, Muhammad Fakhrurrozi alias Paul.
Adapun aktivis dari Social Movement Institute (SMI) itu ditangkap oleh jajaran Polda Jawa Timur dan Polda DIY, Sabtu (27/9/2025) sore lalu.
"Saya bersama beberapa kawan lain dari UII dan lintas kelompok sudah menyatakan siap menjadi penjamin penangguhan penahanan Mas Paul," kata Fathul saat dikonfirmasi, Jumat (3/10/2025).
Fathul berharap tak hanya Paul melainkan beberapa kawan aktivis lain yang sedang menghadapi kriminasi untuk segera dibebaskan.
"Biarkan mereka kembali ke ruang publik, tempat suara kritisnya justru memperkuat demokrasi kita," ungkapnya.
Menurut dia, penangkapan Paul benar-benar menimbulkan keprihatinan yang mendalam.
Fathul menilai bahwa proses hukum yang dilakukan terhadap para aktivis ini tidak transparan dan tidak sesuai dengan prosedur hukum.
Sehingga, Fathul bilang wajar saja ketika publik mengecam serta menilai penangkapan sejumlah aktivis itu bukan demi menegakkan keadilan.
Melainkan lebih terasa sebagai upaya membungkam suara-suara kritis yang justru dibutuhkan bangsa ini.
Baca Juga: Protes Kenaikan Tunjangan, Aktivis Jogja Kirim Korek Kuping dan Penghapus ke DPR RI
"Kita semua paham, dalam negara demokrasi, perbedaan pandangan dan kritik terhadap pemerintah adalah sesuatu yang wajar, bahkan sehat. Itu dijamin oleh konstitusi kita," ucapnya.
"Tapi apa yang terjadi? Harapan publik makin terbatas. Lembaga-lembaga negara yang seharusnya menjadi penyeimbang kebijakan pemerintah tampak makin tumpul," tambahnya.
Akibatnya, lanjut Fathul, masyarakat sipil, seperti aktivis, akademisi, jurnalis, mahasiswa, dan komunitas rakyat kecil, tinggal sedikit yang masih mau bersuara lantang.
"Mereka bersuara bukan karena ingin melawan negara, tapi karena cinta pada negeri ini, karena rindu pada Indonesia yang lebih baik. Mas Paul adalah salah satu dari barisan itu," tegasnya.
Pihaknya menyadari bahwa ada banyak kawan-kawan aktivis lain yang juga mengalami tekanan, intimidasi, bahkan kriminalisasi.
Padahal, ia menegaskan bahwa mereka bukan perusuh.
Berita Terkait
Terpopuler
- Di Tangan Suahasil, MBG Jadi Prioritas Subsidi Energi Dipangkas
- Luky Alfirman Jadi Wamenkeu usai Dicopot Purbaya, Pengamat Soroti Arah Kebijakan Suahasil
- Sehari Dijabat Suyudi Ario Seto, Polri Langsung Rombak 19 Kapolda: Ini Daftar Lengkapnya!
- Tan Cheng Hoe Gerah Lihat Pemain Malaysia Larut dalam Kekecewaan: Stop Nangis
- 7 Sepatu Jalan Paling Awet yang Solnya Empuk untuk Perjalanan Jauh
Pilihan
-
Kalapas Cibinong Dipecat dari ASN, Buntut Klaster Mewah dalam Penjara
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
Terkini
-
Tak Sekadar Turnamen, Juara ANC Dibidik Masuk Jalur Pembinaan FFI hingga U-21
-
Proyek PSEL DIY Dikebut Akhir Tahun, Tapi Izin Belum Diajukan
-
Stem Cell Jadi Ladang Bisnis Kecantikan, Dokter Ingatkan Produk Ilegal dan Klaim Berlebihan
-
BRI dan KPK Perkuat Gerakan Antikorupsi melalui PELOPOR 2026
-
Papermoon Gelar Pesta Boneka #10 di Jogja, Hadirkan 193 Seniman dari 24 Negara