- Program Makan Bergizi Gratis dinilai bagus secara ide, namun masih bermasalah di tahap pelaksanaan.
- Agus Sartono usulkan distribusi lewat kantin sekolah agar makanan segar dan pengawasan lebih ketat.
- Penyaluran tunai ke siswa dinilai lebih efisien, mencegah rente, dan hemat hingga Rp33,3 triliun per tahun.
SuaraJogja.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan selama 10 bulan dinilai masih jauh dari kata beres. Alih-alih menyehatkan, sejumlah kasus keracunan masih saja bermunculan.
Guru Besar Departemen Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Agus Sartono, menilai tidak ada yang keliru dari ide besar MBG. Namun selama ini masih bermasalah di tahap pelaksanaan.
"Tantangannya di implementasi, persoalan muncul bukan pada ide besar, tetapi pada delivery mechanism," kata Agus, dikutip, Sabtu (4/10/2025).
Menurut Agus, jika dijalankan dengan benar, program ini bisa membawa banyak manfaat. Selain memperbaiki gizi anak di usia tumbuh, juga bisa membangun kohesi sosial, menumbuhkan empati, hingga menciptakan lapangan kerja baru.
Namun ia menekankan, kuncinya ada pada siapa yang kemudian menjalankan program ini di lapangan.
Agus menilai praktik baik yang telah dilaksanakan oleh sejumlah negara maju bisa menjadi contoh. Program MBG, kata dia, sebaiknya dijalankan melalui kantin sekolah agar makanan tersaji segar dan terkontrol.
"Melalui kantin sekolah, makanan masih fresh, menghindari makanan basi, skalanya relatif kecil dan lebih terkontrol. Mestinya ini bisa dilakukan di Indonesia, sekolah bersama komite sekolah mampu mengelola dengan baik," tandasnya.
Nantinya, kebutuhan bahan baku dapat dipenuhi dari UMKM di sekitar sekolah. Sehingga menciptakan sirkulasi ekonomi yang baik.
"Sekolah mendapatkan dana utuh sebesar Rp15 ribu per porsi bukan yang terjadi selama ini hanya sekitar Rp7 ribu per porsi," imbuhnya.
Baca Juga: Jurnalis CNN Dicekal Gegara Pertanyaan "Di Luar Konteks", PWI Geram
Alternatif kedua adalah dana diberikan secara tunai kepada siswa. Biarkan orang tua membelanjakan dan menyiapkan bekal kepada putra putrinya.
BGN hanya perlu menyusun panduan teknis saja dan melakukan pengawasan. Di sini guru di sekolah dapat melakukan pengawasan.
Jika kemudian ada anak yang tidak dibawakan bekal, diberi peringatan. Ketika hingga satu bulan kemudian orang tuanya dipanggil dan jika masih terjadi penyimpangan maka dihentikan.
"Cara seperti ini tidak saja menanggulangi praktik pemburu rente, tetapi juga dipercaya akan lebih efektif. Dana dapat ditransfer langsung ke siswa setiap bulan seperti halnya KIP, atau seperti penyaluran BOS jika MBG dilakukan melalui kantin sekolah," tegasnya.
Agus menyoroti sistem saat ini yang terlalu panjang dan membuka peluang rente. Penyaluran melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) justru dinilai hanya menguntungkan pengusaha besar yang mampu masuk ke rantai proyek.
"Sungguh menyedihkan jika unit cost Rp15 ribu per porsi per anak pada akhirnya tinggal Rp7.000 saja," ujarnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
Terkini
-
Pameran PASSAGE: Jembatan Seniman Yogyakarta Menuju Panggung Prancis
-
Ketika SD Negeri di Jogja Kekurangan Murid, Guru Patungan demi Tetap Bisa Bermimpi
-
Haedar Nashir: Tak Ada Kompromi bagi Pelaku Pelecehan Seksual di Kampus Muhammadiyah
-
Skandal Korupsi Beruntun, Muhammadiyah Desak Presiden Pimpin Perang Total, Tak Sekedar Ceramah
-
Diduga Jadi Korban Mafia Tanah, Warga Sleman Kaget Sertifikat Beralih Nama dan Jadi Agunan Bank