- Anggaran pusat melalui dana transfer daerah atau TKD untuk Kota Jogja kemungkinan dipangkas
- Dana Pendidikan tetap berjalan lancar
- Untuk pembangunan infrastruktur terancam ditunda
SuaraJogja.id - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta masih menunggu kepastian soal kemungkinan pemangkasan dana transfer ke daerah atau TKD dari pemerintah pusat.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyebut sejauh ini belum ada keputusan final. Kendati demikian pihaknya telah melakukan perhitungan dampak jika pemotongan benar terjadi.
Terkait penurunan TKD pada 2026 mendatang, Hasto memperkirakan bisa mencapai sekitar Rp250 miliar.
"Ya kita belum [tahu], yang pasti kan belum sehingga kita masih menunggu, ya itu hanya estimasi kita kalau seandainya dipotong 21-26 persen kan berarti berkurangnya sekitar itu [Rp250 miliar]," ujar Hasto di Balai Kota Yogyakarta, Selasa (7/10/2025).
Hasto bilang secara normal dana transfer ke daerah yang diterima Kota Yogyakarta berada di angka lebih dari Rp1 triliun.
Namun dengan skenario pemangkasan sebesar 21-26 persen, jumlah yang akan diterima tentu jauh berkurang dari biasanya.
Meski begitu, dipastikan Hasto, dua sektor penting, yaitu pendidikan dan kesehatan tidak akan terdampak oleh kebijakan pemangkasan tersebut.
Ia menegaskan, kedua bidang itu merupakan belanja wajib atau mandatory budget yang sudah diatur.
"Pendidikan enggak [terdampak] karena pendidikan menjadi mandatory budget yang sudah harus dialokasikan. Sehingga pendidikan malah ada penambahan, kemudian di kesehatan juga ada penambahan karena ada paket wajib periksa gratis," ungkapnya.
Baca Juga: Wali Kota Jogja Ungkap Alasan Program Makan Bergizi Gratis Belum Maksimal, Ini Alasannya
Ia menambahkan, dua sektor tersebut kini bahkan menghabiskan hingga 47 persen total anggaran daerah.
Sementara itu, beban terbesar lain masih berasal dari belanja pegawai yang mencapai 41 persen dari total APBD.
Dengan komposisi seperti ini, Hasto mengakui ruang fiskal pemerintah kota menjadi sangat terbatas.
Sektor yang paling mungkin terdampak dari efisiensi anggaran adalah pembangunan infrastruktur dan proyek belanja modal lain.
Hasto mengaku beberapa program fisik terpaksa ditunda demi menjaga keseimbangan anggaran.
"Belanja modal [terdampak], misalnya infrastruktur, memperbaiki jalan, membangun gedung, itu yang diefisiensikan," tuturnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 5 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp200 Ribuan
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Ibadah GMS di Bantul Dibubarkan Ormas, Polisi Turun Tangan, Begini Hasil Mediasinya
-
Penjualan Hewan Kurban Turun 10 Persen, Pedagang Pusing Harga Pakan Naik Jelang Idul Adha
-
Dugaan Korupsi Tiga Mantan Pengurus BUKP Tempel Sleman, Negara Rugi Rp2,1 Miliar
-
Siap Lari di Mandiri Jogja Marathon 2026? Marriott Yogyakarta Hadirkan Paket Race & Rest Bagi Pelari
-
Jalan Damai 57 Biksu Tembus Panas dan Luka, Yogyakarta Jadi Titik Istimewa Menuju Borobudur