- Minat kuliah di PTS yang ada di Jogja menurun
- Keterisian mahasiswa yang sebelumnya 70 persen di Jogja saat ini hanya 57 persen
- Sejumlah faktor jadi penyebab termasuk biaya hidup
APK perguruan tinggi di Indonesia pada tahun 2024 berada di angka 31 persen, sedangkan target nasional pada tahun 2027 mencapai 39 persen.
"Kalau kita hitung dengan laju pertumbuhan sekarang yang hanya 0,9 persen per tahun, tiga tahun ke depan APK kita baru mencapai sekitar 36 persen. Artinya masih jauh dari target," ujar dia.
Meski jumlah mahasiswa di PTS secara keseluruhan masih lebih banyak daripada di perguruan tinggi negeri (PTN), laju pertumbuhan PTS pun, lanjutnya jauh lebih lambat saat ini.
Ada riset yang menunjukkan pertumbuhan mahasiswa di PTN sekitar 5–6 persen per tahun.
Kalau dibiarkan, maka bisa jadi dalam beberapa tahun ke depan jumlah mahasiswa PTS dan PTN akan seimbang. Padahal PTS punya peran besar dalam menampung mahasiswa di seluruh Indonesia.
Untuk mengatasi hal ini, LLDIKTI mendorong kampus agar lebih adaptif dan inovatif, baik melalui peningkatan mutu, sosialisasi, maupun pengelolaan internal yang efisien.
Salah satu terobosan yang dinilai potensial adalah pengembangan program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) yang kini mulai banyak diadopsi.
"Model PJJ bisa menguatkan daya serap perguruan tinggi dan meningkatkan APK kita," ungkapnya.
Ia berharap inovasi berbasis teknologi dapat menjadi solusi strategis bagi kampus dalam memperluas akses pendidikan, terutama bagi masyarakat yang berada di luar kota besar.
Baca Juga: Setelah 13 Tahun 'Mangkrak': 2 Kereta Kuda Keraton Yogyakarta Kembali 'Miyos'
"Kita sangat berharap program seperti siber Muhammadiyah bisa menjadi alternatif yang efektif untuk meningkatkan partisipasi pendidikan tinggi di Indonesia," tuturnya.
Sementara Rektor Universitas Siber Muhammadiyah, Bambang Rianto mengungkapkan kampusnya sejak awal berdiri memang dirancang dengan modus tunggal Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Konsep itu bukan sekadar solusi sementara, melainkan model pendidikan masa depan.
Dengan sistem berbasis Learning Management System (LMS), seluruh materi dan penugasan sudah disiapkan sebelum mahasiswa memulai semester baru.
Semua kegiatan belajar dilakukan secara daring, berbeda dengan universitas konvensional.
"Jadi ini benar-benar distance learning. Semua kuliah menggunakan teknologi. Mahasiswa bisa belajar kapan saja dan dari mana saja," imbuhnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Beda Cushion Wardah Colorfit Hijau dan Krem: Intip Harga, Kandungan, dan Manfaatnya
Pilihan
-
Raffi Ahmad Terseret Kasus Suap Impor, Padahal Cuma Basa-basi Titip Barang ke PT Blueray
-
Haji Bolot Dikabarkan Terkena Serangan Jantung, Posisi Masih di Rumah Sakit
-
Derita Masyarakat RI Bertambah Kini Harga Pertamax Naik, Apa yang Harus Dilakukan?
-
Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
-
Namanya Terseret Isu Dugaan Korupsi BGN, Yahya Golkar: Semua Anggota Komisi IX DPR Tak Terlibat!
Terkini
-
Penyelenggara Event di Jogja Ketar-ketir,Imbas Rupiah Melemah dan BBM Naik
-
Harga Pertamax Naik, Pekerja Bergaji UMR di Jogja Kian Terjepit
-
Hasil Audit Kasus Dugaan Malapraktik Balita, RSUD Prambanan Sebut Tak Ada Kelalaian Medis
-
BRI Perluas QRIS Cross Border BRImo ke China, Transaksi Makin Praktis
-
Rekonstruksi 23 Adegan Kasus Little Aresha, Ketua Yayasan Diduga Beri Instruksi ke Pengasuh