- Anggaran Dispar Sleman dipangkas 62% dari Rp15 miliar, berdampak pada pembatalan sejumlah event besar.
- Event seperti Sleman Temple Run dan Tour de Merapi terancam hilang akibat efisiensi anggaran besar-besaran.
- Dispar Sleman fokus pada kolaborasi lintas sektor dan kampus untuk promosi wisata berbasis edukasi.
SuaraJogja.id - Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Sleman dipastikan akan melakukan penyesuaian besar-besaran tahun depan. Hal ini menyusul efisiensi anggaran yang mencapai 62 persen.
Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Sleman, Koes Indarto mengatakan anggaran Dispar Sleman sebelumnya mencapai Rp15 miliar. Namun jumlah itu dipangkas sebesar 62 persen pada tahun depan.
"Jadi kalau dari semuanya, ya tinggal dihitung kalau kemarin, kalau nggak salah sekitar Rp15 M atau berapa ya. Nanti datanya ada. Bisa minta juga di BKAD, anggaran kita berapa, dari pendapatan kita berapa, terus dipotong 62 persen," kata Koes dikutip, Selasa (11/11/2025).
Ia menuturkan bahwa sejumlah event besar seperti Sleman Temple Run dan Tour de Merapi bahkan terancam batal digelar.
"Yang paling jelas nanti, mudah-mudahan tidak ya, yang jelas beberapa event kami hilang. Sleman Temple Run kemungkinan hilang, Tour de Merapi mungkin hilang," ucapnya.
Tak hanya itu, Dispar Sleman akan memangkas keikutsertaan di sejumlah pameran dan kegiatan promosi nasional. Termasuk kegiatan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE).
"Kemudian beberapa kami akan mengurangi keikutsertaan di dalam pameran. Ada beberapa pameran yang kami tidak ikuti lagi. Kemudian tabletop dan tablet dialog mungkin tidak akan sebanyak pada masa-masa sebelumnya," imbuhnya.
Koes menjelaskan dari total anggaran yang dimiliki Dinas Pariwisata Sleman sebagian besar memang digunakan untuk belanja pegawai.
Meski begitu, pihaknya berkomitmen untuk tetap menjalankan promosi wisata dengan mengedepankan kolaborasi lintas sektor, terutama dengan kampus dan pelaku industri pariwisata.
Baca Juga: 4 Mobil Bekas Murah dan Irit, Lincah di Tengah Padatnya Kota Yogyakarta
Dengan nada bercanda, ia mengatakan hal yang bisa dilakukan menghadapi efisiensi ini adalah berdoa. Selain itu, menurut Koes, langkah realistis yang bisa dilakukan adalah memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak.
"Makanya yang kita lakukan adalah berdoa, yang lainnya adalah kita meningkatkan kolaborasi saja, yang bisa dilakukan adalah meningkatkan kolaborasi dengan teman-teman pelaku wisata yang lain. Misalnya dengan teman-teman hotel, dengan teman-teman pelaku event-nya," tandasnya.
Salah satu kerja sama yang didorong yakni menjalin kemitraan dengan universitas-universitas di Yogyakarta.
Ia menilai Yogyakarta tidak bisa hanya dipandang sebagai kota wisata. Melainkan harus kembali ke jati dirinya sebagai kota pendidikan.
Sebagai solusi, Dispar Sleman kini mendorong universitas untuk ikut berperan dalam menggeliatkan kegiatan pariwisata berbasis edukasi.
"Beberapa waktu lalu sudah melakukan mulai giat mendekati teman-teman universitas. Mungkin event-event yang ada selama ini mungkin arahnya lebih ke dalam ya, kita mulai arah event itu keluar," tegasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- 5 HP Android dengan Kualitas Kamera Setara iPhone 15
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Permohonan Data Publik Menguat, KDI Tangani 41 Sengketa Informasi Pertanahan di DIY
-
Seminar Moderasi Beragama UNY, Generasi Z Sleman Belajar Toleransi di Era Digital
-
Bukan Tanpa Alasan, Ini Penyebab Utama Proyek Pengolahan Sampah di DIY Tertunda
-
Tragedi Daycare Little Aresha: Pemkot Yogya Kerahkan 94 Psikolog
-
Enam Warga DIY Pernah Positif Hantavirus pada 2025, Masyarakat Diminta Tak Panik