- Ketua BPPD DIY menanggapi kasus penipuan pemandu wisata palsu di kawasan Keraton Yogyakarta menjelang libur Nataru.
- Mitigasi meliputi peningkatan kualitas pemandu wisata resmi dan edukasi kewaspadaan bagi wisatawan yang berkunjung.
- BPPD DIY telah berkoordinasi dengan pemangku kebijakan lokal, namun penipuan akan terus berkembang modusnya.
SuaraJogja.id - Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY, GKR Bendara, angkat bicara menanggapi kasus wisatawan yang menjadi korban penipuan atau scam oleh pemandu wisata palsu di kawasan Keraton Yogyakarta.
Ia menegaskan, persoalan tersebut menjadi perhatian bersama dan memerlukan langkah mitigasi berkelanjutan. Apalagi menjelang momen libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Ditegaskan GKR Bendara, pihaknya telah berkomunikasi dengan para pemangku kebijakan di tingkat lokal untuk merespons kasus tersebut.
Koordinasi dilakukan dengan aparatur wilayah setempat serta warga di sekitar kawasan Keraton yang menjadi salah satu magnet utama pariwisata di Yogyakarta.
Menurut puteri keraton Yogyakarta itu, daya tarik Keraton Yogyakarta masih sangat kuat di mata wisatawan. Label kawasan inti Keraton dinilai tetap menjadi magnet kunjungan.
Sehingga potensi penyalahgunaan oleh oknum tidak bertanggung jawab masih terbuka jika tidak diantisipasi dengan baik.
"Bagaimanapun, nama 'oh ini A1 dari keraton' itu masih tetap menjadi magnet gitu ya," kata GKR Bendara ditemui awak media, Rabu (17/12/2025).
GKR Bendara menuturkan bahwa, salah satu langkah mitigasi yang tengah didorong adalah peningkatan kualitas dan pengawasan terhadap pemandu wisata resmi yang beroperasi di lingkungan Keraton. Upaya ini dilakukan untuk mempersempit ruang gerak pemandu palsu yang merugikan wisatawan.
"Mitigasi-mitigasi yang dilakukan adalah peningkatan dari pemandu wisatanya sendiri yang berada di lingkungan situ," tegasnya.
Baca Juga: Antisipasi Arus Tersendat saat Nataru, Kontraktor Tol Jogja-Solo Lebarkan Akses dan Tambal Jalan
Selain dari sisi pengelola dan pemangku kebijakan, edukasi kepada wisatawan juga dinilai menjadi kunci penting.
Menurut GKR Bendara, wisatawan perlu dibekali informasi sebelum berkunjung agar lebih waspada terhadap potensi penipuan di destinasi populer.
"Tentunya wisatawan juga harus teredukasi sebelum berkunjung ke suatu destinasi," ucapnya.
Ia menambahkan, kasus serupa sebenarnya tidak hanya terjadi di Yogyakarta. Melainkan juga di berbagai destinasi wisata lain yang memiliki daya tarik tinggi.
Namun, hal tersebut tidak berarti harus dianggap sebagai sesuatu yang wajar atau dibiarkan.
BPPD DIY, lanjut Bendara, tengah menyiapkan langkah-langkah mitigasi lanjutan yang akan diterapkan pada tahun mendatang. Namun, untuk saat ini, upaya yang dilakukan masih bersifat penanganan awal dan koordinasi lintas pihak.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bagaimana Cara Cek NIK Terindikasi Judol atau Tidak? Begini Langkah Mudahnya
- 25 Ribu Penerima Bansos di Sulsel Terindikasi Judol
- Buruh di Jogja Geruduk Kantor Gubernur DIY, Tantang Sultan Buktikan Keistimewaan untuk Pekerja
- Khofifah dan Emil Hadiri Pameran Tunggal Lukisan SBY, Apresiasi Karya Presiden ke-6 RI
- 3 Fakta Gila Usai Persib Bandung Kalahkan FC Seoul: Tumbangkan Ranking 26 Asia
Pilihan
-
WNI 18 Tahun Terancam Hukuman Mati di Malaysia: Ada Barbuk 25 Kg Sabu dan Heroin
-
Akhirnya Buka Suara Usai KPK Usut Korupsi di ATR/BPN, Ini Penjelasan Lengkap Nusron Wahid
-
Pria yang Tendang Perempuan di Senayan City Ditangkap Polisi!
-
Usut Dugaan Korupsi KSO Pertamina EP, Kejagung Geledah Kantor Setda hingga Bapenda Kota Bekasi
-
Mekkah Diserang Houthi, Kemlu Minta WNI Hati-hati di Arab Saudi
Terkini
-
Kasus Dugaan Kekerasan Seksual Bayi di Sleman Naik Sidik, Polisi Periksa 3 Saksi
-
Sinergi Perumahan Diperkuat, BRI Dukung Percepatan Program 3 Juta Rumah
-
Tiga Kota Penuh Makna, Hifdzi Khoir Hadirkan Tur Showcase Intimate 'Berjalan Kaki'
-
Gegara Ayam Gongso, 413 Siswa dan Guru SMKN 2 Jogja Diduga Keracunan MBG
-
Kasus Kekerasan Seksual di Ponpes Sleman: Nikah Siri Dibongkar, Berpotensi Tambah Tersangka Baru