- Yogyakarta menjadi destinasi libur Nataru karena wisatawan menghindari potensi cuaca ekstrem di Bali, meningkatkan okupansi hotel menjadi 60 persen.
- PHRI DIY mengingatkan pelaku usaha agar tidak menaikkan harga secara tidak wajar, membatasi kenaikan tarif maksimal 40 persen dari tarif normal.
- PHRI DIY menerapkan sanksi tegas bagi pelanggar batas harga, serta mengimbau wisatawan waspada penipuan reservasi hotel yang dimanipulasi.
PHRI DIY juga menyiapkan sanksi tegas bagi anggotanya yang terbukti melanggar aturan, mulai dari surat peringatan hingga pencabutan keanggotaan.
"Kalau ada anggota yang melanggar, kami tidak segan memberi SP1, SP2, SP3, bahkan dikeluarkan dari keanggotaan PHRI. Ini bukan hal baru, dan sudah pernah kami terapkan di tahun-tahun sebelumnya," ungkap Deddy.
Selain itu, meningkatnya kunjungan wisatawan juga diiringi dengan kewaspadaan terhadap potensi penipuan reservasi hotel.
Deddy mengimbau wisatawan agar lebih teliti saat melakukan pemesanan, mengingat pengalaman penipuan reservasi yang memanipulasi nomor kontak di Google Maps.
"Calon wisatawan harus memastikan reservasi dilakukan ke nomor resmi hotel. Jangan mudah percaya nomor yang muncul di Google Maps karena itu bisa dimanipulasi oleh penipu. Nomor resmi bisa dicek melalui website PHRI DIY," jelasnya.
Deddy berharap, lonjakan wisatawan ke Jogja tidak hanya berdampak pada peningkatan okupansi hotel dan restoran, tetapi juga memperkuat citra Yogyakarta sebagai destinasi yang aman, jujur, dan berkelanjutan.
"Kita ingin wisatawan pulang dengan kesan baik. Kalau mereka merasa dilayani dengan jujur dan nyaman, mereka akan kembali, bahkan merekomendasikan Jogja ke orang lain," ungkapnya.
Secara terpisah, Ketua Himpunan Humas Hotel (H3) Yogyakarta, Rasya Ardannary, mengungkapkan bahwa okupansi hotel di periode Nataru tahun ini memang lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, mencapai rata-rata 80-90 persen.
"Laju permintaan tamu juga sudah terlihat dari awal bulan Desember. Padahal biasanya tamu yang menginap di Jogja behaviornya last minute booking," paparnya.
Baca Juga: Dirut PSIM Yogyakarta Dapat Kesempatan Belajar di NFL, Satu-satunya dari Indonesia
Marketing Communications Manager Hyatt Regency Yogyakarta itu menambahkan, tingginya permintaan kamar serta tingkat okupansi hotel selama periode Nataru tahun ini tidak hanya memberikan dampak positif bagi bisnis perhotelan, tetapi juga bagi berbagai elemen lain yang turut mendukung sektor pariwisata.
"Dari sisi operasional, kami telah melakukan berbagai persiapan dan antisipasi untuk memastikan kenyamanan tamu selama menginap, sekaligus memastikan seluruh fasilitas hotel dapat dinikmati dengan optimal," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Adu Tajam! Persija Punya Mauro Zijlstra, Persib Ada Sergio Castel, Siapa Bomber Haus Gol?
Pilihan
-
Menuju Juara Piala Asia Futsal 2026: Perjalanan Timnas Futsal Indonesia Cetak Sejarah
-
PTBA Perkuat Hilirisasi Bauksit, Energi Berkelanjutan Jadi Kunci
-
Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
-
Kisah Petani Gurem, Dihantui Pangan Murah Rendah Gizi
-
Ketika Hujan Tak Selalu Berkah, Dilema Petani Sukoharjo Menjaga Dapur Tetap Ngebul
Terkini
-
Jadwal Lengkap Agenda Wisata Jogja Februari 2026: Dari Tradisi hingga Romansa!
-
BRI Dorong Lingkungan Bersih lewat Program CSR Bersih-Bersih Pantai di Bali
-
Babak Baru Rampasan Geger Sepehi 1812: Trah Sultan HB II Tegas Ambil Langkah Hukum Internasional
-
Misteri Terkuak! Kerangka Manusia di Rumah Kosong Gamping Sleman Ternyata Mantan Suami Pemilik Rumah
-
Lebih dari 150 Ribu Warga Jogja Dinonaktifkan dari PBI JK, Warga Kaget dan Bingung Nasib Pengobatan